Dengan segala keutamaannya, Ramadhan selalu memberikan kebahagiaan bagi setiap Muslim yang dijumpainya. Kebiasaan-kebiasaan baru yang positif mendapatkan momentum untuk terus terpelihara. Masjid-masjid ramai dikunjungi jamaahnya untuk melaksanakan ibadah shalat wajib dan shalat sunnah, lantunan ayat Quran menjadi begitu akrab di telinga masyarakat kita. Karena setiap muslim tidak mau melewatkan bulan mulia ini tabpa mengisinya dengan amalan-amalan terbaik. Pernahkah kita berpikir ada keluarga muslim yang kurang berbahagia dengan datangnya Ramadhan? Saudara-saudara kita ummat muslim yang kurang mampu mungkin salah satu diantaranya. Bagi mereka menahan lapar adalah hal biasa dan Ramadhan ini lapar mereka memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi, seharusnya mereka lebih berbahagia, tanpa terbebani pikiran dengan apa nanti mereka berbuka puasa, bagaimana nanti anak-anak mereka menyambut hari raya dengan penuh suka cita. Rumah Lentera kali edisi bulan Agustus 2010 ini akan mengupas seputar program Rumah Zakat di bulan suci Ramadhan, semoga memberikan informasi lengkap kepada Sobat Zakat dan mengokohkansinergi kita dalam usaha merangkai senyum Indonesia. Selamat berburu pahala di bulan mulia.
Kita mungkin mengenal ibunda dari Raden
Ajeng Kartini, Mbah Ngasirah, ataupun orang
tua dari Ir. Soekarno, presiden pertama
Republik Indonesia. Tapi di antara kita tidak banyak yang tahu siapa yang membantu kelahiran para pahlawan itu? Mungkin pertanyaan ini terlalu berlebihan, tapi akan sangat penting mengingat peran penting mereka dalam membantu proses kelahiran para pahlawan.
Berbekal kesadaran akan peran penting tersebut, Rumah Zakat menggulirkan program Rumah Bersalin Gratiis (RBG) dan Layanan Bersalin Gratis (LBG) yang dikerjasamakan dengan bidan-bidan di daerah yang membutuhkan.
Laporan inspiratif
tentang tenaga bidan LBG di tanah Kalimantan bisa Sobat Zakat simak dalam Rumah Lentera edisi kali ini. Sajian lain yang tak
kalah menarik adalah persiapan Kemah Juara, event tahunan Anak Juara, binaan Rumah Zakat dalam mengisi liburannya.
Selamat datang pahlawan.
Dalam satu kelas kelompok belajar, siapakah yang kerap disebut juara? Biasanya siswa yang punya kemampuan kognitif kuat dalam pelajaran eksaktalah sang juara itu. Meraih nilai 9 untuk matematika, 9 untuk pengetahuan alam dan berhasil meraih ranking pertama. Mereka disebut sebagai anak yang cerdas.
Sedangkan anak-anak yang memiliki bakat atletik, pandai menari dan menyanyi jarang disebut sebagai anak cerdas, sehingga usaha untuk meningkatkan potensi dan kemampuannya belum mendapatkan porsi yang sesuai. Mereka dipaksa untuk mengikuti kecerdasan kognisi kawan-kawannya yang memiliki kecerdasan eksakta, padahal potensi mereka bukan di sana.
Setiap anak terlahir dengan kecerdasannya masing-masing. Ada anak yang cerdas secara kognitif tapi ada juga anak yang cerdas secara fisik ataupun seni. Selayaknya mereka mendapatkan pembinaan yang mengarah pada pengembangan kecerdasannya. Inilah prinsip dasar yang digulirkan dalam metode pembelajaran di Sekolah Juara, sekolah binaan Rumah Zakat.
Sajian utama kali ini Anda akan menyelami lebih dalam tentang Senyum Juara, rumpun program Rumah Zakat dalam bidang pendidikan. Dengan mengambil momentum Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional kita semakin yakin bahwa setiap anak adalah sang juara, begitu pula mereka yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Saatnya membantu mereka menjadi sang juara sejati.
Selamat menikmati sajian redaksi.
Semangat baru kini sedang bergelora di Rumah Zakat, seiring periode perkembangan lembaga kini memasuki usia ke-12. Tiga nilai baru siap menjadi ruh baru lembaga: trusted, progressive, humanitarian.
Harapannya Rumah Zakat menjadi mitra bagi siapapun baik itu perorangan atau perusahaan untuk mewujudkan rasa kemanusiannya. Semoga informasi yang disajikan di edisi kali ini lebih melengkapi info yang sobat butuhkan. Selamat menikmati sajian kami.

MERANGKAI SENYUM INDONESIA
Setiap orang pernah melihat dirinya dari dalam cermin. Dengan cermin kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan. Begitu pula dengan bangsa, setiap bangsa akan bercermin tentang pembangunan yang sudah dilakukannya dengan cermin-cermin yang dipaparkan para ahli pembangunan.
Salah satu cermin yang kerap digunakan semua negara untuk melihat hasil pembangunannya adalah Human Development Index (HDI) / Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Cermin ini akan melihat angka harapan hidup, melek huruf dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Dari cermin ini, Indonesia berada di urutan 111 dari 176 negara yang menggunakan cermin untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan. Yang lebih menyedihkan, bangsa yang sedang dirundung konflik saja yakni Palestina, berada di atas kita.
Sudah saatnya zakat dijadikan sumber energi tambahan agar kita lebih percaya diri saat mematut diri di depan cermin IPM. Rumah Zakat mencoba untuk mengoptimalkan sumber energi ini dengan tiga rangkaian program utama yaitu Senyum Juara, Senyum Sehat dan Senyum Mandiri. Semuanya mengacu pada variabel penilaian IPM, yakni mengenai pendidikan, kesehatan dan kemandirian keluarga. Rumah Lentera edisi kali ini akan mengulas tentang profil dari ketiga program utama Rumah Zakat dalam tema "Merangkai Senyum Indonesia".Selamat Menikmati Sajian Kami.