AMAL TERBAIKTHE BEST DEED

Oleh: Iu Rusliana

Suatu hari Abu Dzarr bin Jundah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.”

Aku bertanya, “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab, “Memerdekakan budak ketika sangat disayangi tuannya dan yang paling mahal harganya.”

Aku bertanya, “Seandainya aku tidak mampu berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana?” Beliau menjawab, “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.”

Aku bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu? “Beliau menjawab, “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menunjukkan betapa banyak jalan untuk kebaikan. Iman menjadi amalan yang paling utama, bahkan menduduki peringkat teratas. Tentu saja bukan tanpa sebab, tanpa iman yang kokoh, sikap tauhid, segala amal kebaikan menjadi tak ada nilai spiritualnya.
Iman kepada Allah Yang Maha Kuasa menjadi sarana pembebasan manusia dari penghambaan pada yang lainnya. Tidak ada lagi tuhan-tuhan kecil yang diperhamba, selain Tuhan sejati, Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda, “ Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah cabang dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam praktiknya, ikhlas dalam seluruh kegiatan ibadah merupakan kunci untuk memperoleh amalan terbaik. Firman Allah SWT, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus,” (QS Al-Bayyinah:5).

Niat yang tulus dalam beribadah tentu menjadikan setiap kebaikan memiliki keutamaan yang lebih di hadapan Allah. Rasul bersabda, “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya diterima dan diridhai Allah dan Rasul-Nya. Tetapi barang siapa yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia, atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan mendapat apa yang menjadi tujuannya,” (HR Bukhari Muslim).

Hanya saja, berhati-hatilah dengan jebakan setan yang begitu halus dan lembut. Bahkan, jebakannya bisa hadir di tengah-tengah ibadah dan amalan yang dilakukan. Merasa benar, riya dan ingin dipuji orang lain merupakan jebakan syetan yang harus dihindari.

Amalan terbaik juga merupakan amalan yang tidak memberatkan dan yang dilakukan terus menerus. Berlebihan dalam beribadah pun bukanlah merupakan amalan terbaik.

Hal ini pernah dikisahkan ketika Rasul SAW masuk ke rumah Siti ‘Aisyah, waktu itu ada seorang wanita, dan beliau bertanya, “Siapakah dia?” ‘Aisyah menjawab: “Ini adalah si Fulanah yang terkenal shalatnya.”

Nabi bersabda, “Wahai Fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak akan bosan untuk menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah, yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR Bukhari Muslim).

Sumber: republika.co.id
The key to your station with God is ikhlas (sincerity).
There is a frightening hadith about a scholar, a martyr and a charitable man on the Day of Judgment.

They all expect to enter Paradise because of their good deeds.

Instead, they are sent to the Fire, because their deeds were done with the intention of pleasing people – not pleasing God.
They wanted people to see them as they were doing good because they wanted people’s praise.

What Is Ikhlas?

Ikhlas (sincerity) is to do everything, internal and external, only desiring the pleasure of God. It is to forget the eyes of the people, and whether they view your deeds or not, with the only thing on your mind that God is watching you. There are beautiful verses in the Quran in this regard, where God describes the righteous in Paradise:

{They [are those who] fulfill [their] vows and fear a Day whose evil will be widespread. And they give food in spite of love for it to the needy, the orphan, and the captive, [saying], “We feed you only for the countenance of Allah. We wish not from you reward or gratitude} (Al-Insan 76:7-9)

Imam Al-Ghazali said that: “If you want to know whether something you did was purely for the sake of God or not, you should test your reaction when someone acts ungratefully. Do you feel self-righteous, like you were doing the person a favor? Do you feel angry that they did not appreciate your work? It may not mean that your act was ostentatious, but it points to the fact that it was not solely for the sake of God. We were expecting, at the very least, recognition and respect from the person as a result of the good we did to them.

We all know the famous story of the prostitute who was rewarded with Paradise for giving water to a dog – but what truly got her into Paradise? Was it just that simple act? It could not have been, because as we mentioned above, there are scholars, martyrs and charitable people who will be thrown in hell because they were insincere. But she was helping the dog for God only. Look at how your intention elevates your deeds. This is why the scholars have said that it is the most important act of worship of the heart – to have the driving force of your acts be to please God.

This is closely linked to sincerity – that you are worshipping God as though you see Him and you know that He sees you. Khurram Murad states: “Purpose and intention are like the soul of a body or the inner capability of a seed. Many seeds look alike, but as they begin to grow and bear fruit, their differences become manifest. The purer and higher the motive, the greater the value and yield of your efforts.” (63)

Sincerity is the foundation of any work that we do – if the foundation is corrupt, then the building can easily be broken. Does this only apply to specific acts of worship or can it also apply to regular habits?

God says in the Quran: {Say, “Indeed, my prayer, my rites of sacrifice, my living and my dying are for Allah, Lord of the worlds} (Al-An’am 6:162)

This verse tells us that everything can be for the sake of God. Moreover, Khurram Murad reminds us of something crucial. He states:

“People are in the habit of classifying life’s activities into those which are mundane and those which are religious. Remember, though, only those things done for the sake of Allah are the ‘religious’ things. Everything that is done for other than Allah – however ‘religious’ it may seem – is a worldly act… If he earns thousands of pounds to support his family and to spend for the cause of Allah, seeking only Allah’s pleasure, it is a highly spiritual act.”

Even your sleep can be for God; if you say you will sleep at a certain hour so you can wake up for Fajr prayer, then your sleep is for God. Imagine being rewarded for 6-8 hours of sleep!

Source: http://www.onislam.net/english/reading-islam/living-islam/growing-in-faith/452831-sincerity-the-foundation-of-perfect-deeds.html

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia