ANTARA MASUK ANGIN DAN KEROKAN

Oleh: dr. Hilmi S. Rathomi, MKM

Masuk angin merupakan istilah yang sangat sering digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mendeskripsikan keluhan-keluhan tertentu yang secara logika seakan-akan disebabkan oleh banyaknya udara dalam tubuh. Beberapa keluhan dan gejala yang seringkali dihubungkan dengan kondisi masuk angin oleh masyarakat awam diantaranya adalah demam, perut kembung, sering bersendawa, badan terasa sakit atau pegal-pegal, mual-muntah, serta mencret/diare. Jadi, jika seseorang mengalami salah satu atau beberapa kondisi tersebut di atas, sering sekali masyarakat awam mengatakan orang tersebut mengalami masuk angin.

Padahal, dalam dunia kedokteran tidak pernah dikenal istilah masuk angin. Demikian pula halnya apabila kita mencari rujukan pada literatur ilmiah kesehatan atau kedokteran di negara lain, kita tidak akan menemukan padanan yang pas untuk “penyakit” masuk angin. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa istilah masuk angin sebenarnya adalah bukan penyakit, namun hanya istilah yang digunakan oleh masyarakat di Indonesia yang sudah bersifat turun-temurun untuk mendeskripsikan gejala-gejala dan keluhan tertentu yang saya sebutkan di atas.

Jadi, apa yang sebenarnya disebut sebagai masuk angin? Berdasarkan berbagai referensi ilmiah dan pengalaman pribadi saya di tempat praktik, pasien yang memiliki keluhan masuk angin bisa mengalami penyakit dengan spektrum yang luas, mulai dari ringan sampai berat. Namun, secara umum pasien yang mengeluh masuk angin sebenarnya sedang mengalami fase awal dari mengidap penyakit tertentu, yang sebagian besarnya biasanya merupakan infeksi virus. Jadi bukan akibat adanya angin yang berlebihan dalam tubuh.

Sebagai contoh, jika keluhan masuk angin yang disampaikan oleh pasien dijabarkan lagi sebagai demam, sakit tenggorokan, perut terasa kembung, dan badan terasa sakit, hal tersebut merupakan fase awal dari infeksi virus influenza. Berbeda halnya jika keluhan masuk angin yang dialami oleh pasien lebih menonjol gejala-gejala seperti mulas, mual-muntah, mencret, demam tinggi, dan badan terasa lemas, hal tersebut sebenarnya adalah fase awal dari diare akut yang diakibatkan oleh infeksi virus atau racun (toksin) dari bakteri. Dan demikian seterusnya.

Lantas bagaimana dengan kerokan? Kerokan merupakan salah satu metode pengobatan alternatif yang dipercaya oleh sebagian besar orang Indonesia dapat membantu mengobati masuk angin. Biasanya, kerokan dilakukan dengan menggunakan minyak dan benda tumpul (paling sering uang logam) yang digosokkan ke kulit hingga terbentuk guratan kemerahan yang merupakan akibat dari pembuluh darah yang melebar. Proses pelebaran pembuluh darah inilah yang diyakini oleh masyarakat awam membantu keluarnya angin dari tubuh. Dengan demikian, apakah kerokan merupakan obat bagi masuk angin?

Dengan mengacu pada penjelasan di atas tentang masuk angin, maka dapat disimpulkan bahwa kerokan sebetulnya bukan merupakan terapi untuk masuk angin, karena masuk angin memang bukan disebabkan oleh banyaknya angin di dalam tubuh. Namun, telah ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa terapi kerokan memiliki manfaat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Sebab, dari penelitian tersebut diketahui bahwa pada orang yang menjalani kerokan, didapatkan adanya peningkatan kadar endorfin dan penurunan kadar prostaglandin. Dimana endorfin merupakan salah satu hormon yang membuat tubuh merasa senang, nyaman, mengurangi rasa sakit, dan menimbulkan semangat, sedangkan prostaglandin merupakan hormon yang menyebabkan adanya sensasi nyeri pada tubuh, termasuk otot. Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa pada akhirnya orang yang mengalami masuk angin akan merasa lebih nyaman dan segar serta rasa sakitnya berkurang setelah menjalani kerokan.

Di sisi lain, ada orang yang menyatakan bahwa kerokan memiliki efek negatif, terutama mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan menimbulkan trauma pada kulit. Pada penelitian yang sama, pernyataan tersebut terbukti tidak terjadi, karena saat diamati menggunakan mikroskop tidak ditemukan adanya pembuluh darah yang pecah pada kulit yang dikerok, melainkan hanya terjadi pelebaran pembuluh darah saja.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan masuk angin sebenarnya adalah fase awal dari berbagai penyakit yang seringkali merupakan infeksi virus. Masuk angin ini tidak bisa diobati dengan kerokan, karena memang bukan diakibatkan oleh banyaknya angin dalam tubuh. Namun, kerokan diketahui memang memiliki manfaat bagi tubuh akibat adanya peningkatan hormon endorfin. Meskipun secara umum bermanfaat dan tidak berbahaya, akan lebih baik jika kerokan, sebagaimana pengobatan lainnya, tidak dilakukan secara berlebihan.

Tags :
Konfirmasi Donasi