BAGAIMANA MEMBIASAKAN ANAK BERPUASA

Oleh: Vindhy Fitrianty

Islam mempunyai aturan tersendiri untuk segala kewajiban yang harus dijalankan oleh umatnya. Termasuk aturan shalat dan puasa yang baru dikenakan kepada anak yang sudah baligh. Namun rasanya tak keliru jika ada orang tua yang membiasakan anaknya latihan puasa, meski di rentang usia 4 sampai 7 tahun anak belum masuk ke dalam kategori wajib puasa. Catatan yang harus diperhatikan adalah, libatkanlah mereka dalam pengambilan keputusan tersebut.

Sebagai awalan, orang tua dapat mulai mengurangi frekuensi makan anak di siang hari secara bertahap di bulan-bulan sebelum Ramadhan, tentunya dengan tetap memperhatikan jumlah asupan gizi yang dibutuhkan oleh anak. Ketika bulan Ramadhan tiba, perbedaan perlakuan untuk anak berusia 4-5 tahun dan 6-7 tahun terletak salah satunya di jumlah jam mereka berpuasa. Untuk anak usia 4-5 tahun, mereka sedang berada dalam kondisi sangat aktif bereksplorasi dan bergerak. Tentunya, untuk menentukan jumlah jam ini orang tua perlu melihat faktor kesehatan, level keaktifan anak, toleransi terhadap rasa lapar dan frekuensi makan yang biasa dilakukan anak.

Pembiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua, seringkali diiringi dengan pemberian reward berupa hadiah. Hal ini tidaklah keliru, sebab anak-anak melakukan usaha yang cukup besar untuk menahan diri selama ia berpuasa meski belum sampai waktu maghrib tiba. Namun alangkah baiknya jika pembiasaan ini juga diiringi dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak di usianya. Sehingga pada akhirnya pembiasaan tidak hanya sekedar rutinitas untuk “mengejar” hadiah yang disediakan orang tua, tapi disertai dengan pembangunan pemahaman mengenai tujuan di balik pembiasaan berpuasa. Dan yang terpenting dalam pembiasaan ini adalah suasana menyenangkan, ramah anak, dan tanpa pemaksaan perlu untuk dikedepankan selalu.

Melatih Kepekaan Anak

Pada anak usia 4 – 5 tahun, mereka mulai mengembangkan pemahaman mengenai siapa diri mereka sebagai personal. Lebih jauh dari hanya sekedar laki-perempuan, besar-kecil, dan warna kulit. Identitas sebagai seorang muslim dapat mulai ditanamkan melalui ibadah shaum ini. Story telling bisa menjadi metode yang paling tepat untuk memasukkan nilai dan pemahaman ini.

Di usia ini anak mulai mampu memahami apa yang terjadi pada tubuh mereka. Mereka mulai mampu memahami jika dijelaskan mengenai apa yang terjadi saat mereka sehat. Dan salah satu hikmah shaum adalah menjadikan tubuh lebih sehat. Sehingga orang tua dapat mulai menjelaskan mengenai mekanisme ini kepada anak. Menganalogikan pencernaan yang bekerja keras jika tanpa diistirahatkan dengan shaum dapat jadi alternatif. Bisa juga dengan membuat alat peraga bersama dengan anak, gambar, dan bercerita.

Di usia ini pun anak mulai mampu untuk berbagi dengan disertai peningkatan kepekaan akan perasaan orang lain. Mereka pun cenderung untuk menyenangkan orang lain seperti terhadap orang dewasa atau sebayanya. Pelibatan di kegiatan seputar Ramadhan pun bisa menjadi alternatif. Seperti menyiapkan makanan berbuka untuk dibagikan pada orang lain atau sedekah pakaian layak pakai. Pelibatan ini dapat menjadi salah satu media untuk memahamkan anak mengenai ibadah shaum. Karena di usia ini, anak menyukai ketika dirinya dapat diakui dengan memberikan bantuan. Jikalau tidak bisa selalu dengan aksi nyata, bermain pura-pura tetap memberikan perasaan dan tantangan yang relatif sama bagi anak seusia ini. Sisipkan pula pemahaman mengenai kemuliaan berbagi di bulan Ramadhan. Untuk menyisipkan pemahaman ini orang tua dapat melakukan role play. Dengan cara ini anak belajar menempatkan diri di posisi orang lain.

Sedangkan untuk anak usia 6-7 tahun, pemahaman akan ibadah shaum dapat diberikan lebih dalam dengan pelibatan akan kegiatan yang lebih kompleks. Di usia ini, mereka mulai memahami hubungan sebab-akibat, berpikir lebih logis, dan mulai berkurang egosentrismenya sehingga mulai berkembang kemampuan berpikir objektifnya. Pendekatan yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan secara langsung, belum dengan sekedar membayangkannya.

Di usia ini pula biasanya anak-anak mulai membandingkan dirinya dengan hal-hal yang dilakukan oleh lingkungan. Dengan lingkungan yang mendukung dan teman-teman yang juga melaksanakan shaum, anak menjadi lebih terlatih untuk membiasakan diri. Diskusi pun perlu untuk dilakukan di usia ini. Karena bisa jadi tidak semua orang atau teman di lingkungan terdekatnya melaksanakan ibadah shaum. Dengan dialog ini diharapkan pemahaman anak akan lebih terbangun.

Penyisipan nilai-nilai serta pemahaman akan manfaat ibadah shaum dapat orang tua mulai sebelum bulan Ramadhan tiba. Dengan begitu anak akan memasuki Ramadhan dengan kesiapan yang berbeda.

Tags :
Konfirmasi Donasi