BELAJAR DARI ABDURRAHMAN BIN ‘AUF

Oleh: titintitan

“Harta Abdurrahman bin ‘Auf adalah harta yang halal dan bersih. Dan memakan hartanya itu dapat membawa selamat lagi berkah” (Utsman bin Affan)

Sebelum masuk Islam Abdurrahman bin Auf bernama Abu’Amar, berasal dari suku Zuhri, Quarisy. Ia termasuk generasi awal yang masuk Islam dan mendampingi Rasulullah dalam perjalanan dakwahnya. Ia menjadi muslim jauh sebelum dakwah di rumah Arqam bin Arqam dimulai. Ia juga banyak mengikuti peperangan di saat awal-awal wahyu kenabian itu muncul.

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat terkaya pada masanya. Ia adalah ikon pengusaha muslim dalam Islam, kaya, shaleh, dan ahli sedekah. Ia yang masuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga adalah seorang pedagang yang ulung. Bahkan ada sebuah perumpaan yang mengatakan bahwa jika Abdurrahman bin Auf membalikkan sebuah batu, maka di bawahnya akan ditemukan emas. Hal itu melukiskan betapa piawai Abdurrahman bin Auf dalam mendapatkan dan mengelola hartanya. Ia pernah menyumbangkan separuh hartanya ditambah dengan 40.000 dinar, 500 kuda, 500 unta dalam satu waktu.

Ketika peristiwa hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu yang ikut berhijrah. Sebagaimana yang lain, ia juga tidak membawa harta saat hijrah ke Madinah. Rasulullah mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin ar-Rabi’ah. Saad berasal dari Kaum Anshar yang memang telah terkenal ketulusannya ketika menyambut kaum Muhajirin. Ia bahkan menawarkan separuh hartanya serta mempersilakan Abdurrahman bin Auf menikahi salah seorang istrinya. Saad berkata kepada Abdurrahman bin Auf:

“Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya. Silahkan pilih separuh hartaku, dan ambillah. Aku juga mempunyai dua orang isteri, coba pilihlah yang menarik hati anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperisterinya.”

Akan tetapi Abdurrahman bin Auf menolak semua tawaran Saad. Ia hanya ingin ditunjukkan di mana letak pasar. Semenjak itu Abdurrahman bin Auf menjadi pedagang di Madinah. Ia hidup dengan keringatnya sendiri, dengan kemuliaannya mencari nafkah sebagai pedagang yang jujur nan piawai. Mudah sekali menemukan keberadaan Abdurrahman bin Auf, jika tak sedang ada di masjid, pasti ia tengah berjihad, jika tidak sedang berjihad, maka ia pasti sedang menangani segala urusan perniagaannya ke seluruh jazirah Arab. Belum lama ia memulai perdagangannya di Madinah, ia telah memperoleh keuntungan yang besar. Ia menghadap Rasulullah dan mengatakan keinginannya untuk menikah.

“Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?” tanya Rasul SAW.

“Emas seberat biji kurma,” jawab Abdurrahman bin Auf.

Rasulullah bersabda, “Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu.”

Sang Saudagar Dermawan

Meskipun Abdurrahman menjadi saudagar yang kaya raya, tapi ia juga ahli sedekah. Selain berjuang dengan segala tenaga dan waktu untuk Islam, Abdurrahman bin Auf juga tak pernah sayang untuk memberikan harta kekayaan yang dimilikinya.

Pernah suatu kali kota Madinah seperti dilanda badai, suara gemuruh dan debu yang sangat tebal beterbangan hingga menutupi pandangan mata. Jalan-jalan utama di Madinah seperti tertutup kabut. Warga yang melihat kejadian tersebut penasaran, apa kira-kira yang sedang terjadi di kota mereka. Di antara warga tersebut banyak yang mengira bahwa tengah terjadi badai di kota mereka, tapi ternyata di balik kepulan debu tersebut terdengar suara serombongan kafilah yang panjang. Ternyata itu adalah kafilah dagang dari Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 unta dan kuda dan memuat bahan pangan, sandang serta kebutuhan penduduk Madinah.

Aisyah sempat bertanya mengenai hal tersebut, “Suara apa itu?”

“Itu kafilah dagang Abdurrahman bin Auf,” jawab salah satu sahabat.

“Semoga Allah senantia memberikan keberkahan kepada Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya aku pernahm endengar dari Rasulullah bahwa dia akan memasuki surga dengan merangkak,” tutur Aisyah.

Sang sahabat kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Abdurrahman bin Auf. Kemudian Abdurrahman bin Auf mendatangi Aisyah dan menanyakan perihal kabar tersebut.

“Apa betul, yang disampaikan fulan kepadaku, wahai Ummul Mukminin? Apakah Engkau mendengar sendiri kabar dari mulut Rasulullah?”

“Ya,” jawab Aisyah.

“Seandainya bisa, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah kiranya Engkau menjadi saksi bahwa kafilah beserta seluruh kendaraan dan muatannya akan aku serahkan untuk jihad fii sabilillah,” tutur Abdurrahman bin Auf.

Sejak mendengar kabar tersebut Abdurrahman bin Auf tak pernah tanggung-tanggung jika bersedekah. Dia tidak mau jika harta yang dimiliki bisa menjadi penghalang untuknya melangkah lebih cepat ke surga-Nya, meski Abdurrahman bin Auf masuk ke dalam 10 orang yang dijamin masuk surga.

Suatu hari Abdurrahman bin Auf disuguhi makanan oleh seseorang, sedang dia tengah menjalankan puasa. Kemudian dia berkata dan menangis tersedu, “Sungguh keadaan Mush’ab bin Umair lebih baik dari keadaaan saya. Dia syahid dalam peperangan, ketika kepalanya ditutup kain kafan, maka mata kakinya kelihatan, pun sebaliknya, jika ditutup hingga mata kaki, maka kepalanya yang akan terlihat. Saya hanya takut, jikalau pahala ini disegerakan Allah di dunia ini.”

Abdurrahman bin Auf adalah sosok pengusaha muslim sejati. Pekerja keras, tangguh, pantang menyerah dan selalu berjuangan demi tegaknya Islam di muka bumi. Prinsip yang dibawanya, bahwa harta yang dimiliki jangan sampai membuatnya lambat ke surga sungguh menginspirasi. Dia wafat dengan berteman amal yang sangat banyak, sebab jaminan surga yang diberikan kepadanya tak lantas membuat Abdurrahman bin Auf berleha. Ia semakin gigih untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Hingga di saat pemakamannya, Ali bin Abi Thalib berkata,

“Abdurrahman bin Auf telah berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Ia telah mendapat kasih sayang Allah. Semoga Allah senantiasa merahmatinya. Aamiin.” []

Tags :
Konfirmasi Donasi