BELAJAR MENANAM DENGAN METODE HIDROPONIK

RZ LDKO CilegonYOGYAKARTA. Menanam dengan media tanah sudah biasa dilakukan, akan tetapi menanam dengan media air itu baru pengalaman yang baru bagi ibu-ibu kelompok urban farming dan bank sampah di dusun Nglebeng Tamanan Banguntapan.

Untuk itulah, Kamis (10/12) bertempat di mushola Al Hidayah Rt. 04 Dusun nglebeng dilakukan pelatihan sekaligus pengenalan metodulogi penanan hidroponic. Pertemuan ini dihadiri kurang lebih 23 orang ibu-ibu dan 3 orang bapak-bapak untk belajar bersama mengenai hidroponik dan sebagai narasumber adalah fasilitator ICD Tamanan.

Kegiatan tidak hanya teori akan tetapi juga dilanjutkan dengan praktek cara membuat bibit. Kemudian 1 minggu berikutnya akan dilanjutkan dengan pembuatan kit untuk sarana pemeliharaan bibit agar bisa tumbuh untuk dengan baik untuk dipanen.

Dalam kegiatan pelatihan ini, ibu-ibu sangat tertarik untuk tahu lebih banyak hal ini karena banyak perteanyaan-pertanyaan yang diajukan sehingga suasana pelatihan lebih banyak diskusinya dari pada materinya, rasa penasaran dan keingintahuan yang besar dari ibu-ibu ini membuat suasana pelatihan menjadi hidup dan terjalin komunikasi dua arah sehingga pembahasan berkembang dan meluas hingga membahasa masa depan perkembangan cara menanam dengan metodologi hidroponic.

“Saya baru tahu kalo tanaman itu juga bisa hidup di air, bahkan hampir semua tanaman darat bisa hidup tanpa tanah sekalipun, luar biasa” kata Enny salah seoarang warga ICD Tamanan.

Tidak sedikit dari kasus seperti ibu enny diatas yang di pahami oleh ibu-ibu, selama ini mereka hanya terpaku pada metododologi menanam yang konfensional yaitu dengan media tanah. Sangat sedikit dari mereka yang baru tahu tentang hidroponic, bahkan yang belum pernah mengenal sama sekali hidroponic ini lebih banyak sehingga ketika di jelaskan dan diperlihatkan gambar-gambar/foto-foto mereka takjub.

Tak hanya itu, mereka juga baru menyadari bahwa perkembangan tehnologi pertanian sudah maju demikian pesatnya, yang menjadi heran bagi ibu-ibu karena sebagian besar dari mereka adalah kelompok KWT (wanita tani). “Kenapa informasi seperti ini baru mereka dapatkan baru sekarang padahal keberadaanya sudah puluhan tahun yang lalu,” tutur Sandi Zunaidi, ICD Fasilitator dusun Tamanan.***

Newsroom/Yosef
Yogyakarta

Tags :
Konfirmasi Donasi