BERBURU ILMU HINGGA UJUNG WAKTU

Oleh: Titin Titan

“Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah: 11)

Ilmu berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘alima ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Sedang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.

Di dalam Al Qur’an kata ilmu disebut hingga 854 kali, bahkan dalam Surat Al Mujadillah jelas menerangkan bahwa Allah begitu mengistimewakan orang-orang yang berilmu serta meinggikan beberapa derajat kedudukannya. Ilmu Allah itu sangat luas, bahkan ketika seluruh air laut di jadikan tinta dan pohon-pohon di muka bumi ini dijadikan penanya, maka hal itu belum bisa menuliskan semua ilmu Allah.

Karena itu para sahabat dan ulama terdahulu tak pernah menyia-nyiakan waktu kecuali untuk terus mencari ilmu dan berusaha mengikatnya dengan tulisan maupun perbuatan seperti yang dikatakan Al Imam an Nawawy, “Janganlah sekali-kali seseorang meremehkan suatu faidah (ilmu) yang ia lihat atau dengar. Segeralah ia tulis dan sering-sering mengulang kembal.”

Sepanjang hidupnya Ibnul Jauzy telah membaca lebih dari 20.000 jilid kitab, sedang Majduddin Ibn Taimiyyah (Kakek Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah) jika akan masuk kamar mandi berkata kepada orang yang ada di sekitarnya, “Bacalah kitab ini dengan suara keras agar aku bisa mendengarnya di kamar mandi.”

Abu Abdillah al Husain bin Ahmad al Baihaqy adalah seseorang yang cacat sehingga tidak memiliki jari tangan, tapi ia berusaha untuk menulis dengan meletakkan kertas di tanah kemudian menahannya dengan kaki, lalu menulis dengan bantuan dua telapak tangannya. Ia bisa menghasilkan tulisan yang jelas dan bisa dibaca. Kadangkala dalam sehari ia bisa menyelesaikan tulisan sebanyak 50-an kertas. Ada juga Al Imam al Bukhary yang dalam semalam seringkali terbangun, menyalakan lampu, menulis apa yang teringat dalam benaknya, kemudian beranjak tidur, terbangun lagi , dan seterusnya hingga 18 kali.

Sungguh menakjubkan cara para ulama terdahulu dalam mencari ilmu. Mereka sepenuhnya percaya akan janji Allah tentang derajat orang yang berilmu. Hidupnya didedikasikan untuk mengikat ilmu-Nya, dan kemudian menyebarkannya kembali. Hatinya yang jernih mudah sekali menyerap cahaya-Nya melalui usaha yang tak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Bahkan hingga usia senja menyapa, taklelah mereka menebar manfaat melalui ilmu.

Tags :
Konfirmasi Donasi