CARE FOR TEEN: ANAK BINAAN CITA SEHAT FOUNDATION – RZ MAKASSAR KUNJUNGI BADAN NARKOTIKA NASIONAL

CARE FOR TEEN, ANAK BINAAN CITA SEHAT FOUNDATION - RZ MAKASSAR KUNJUNGI BADAN NARKOTIKA NASIONALMAKASSAR. Anak binaan Care For Teen Cita Sehat Foundation (CSF) dan RZ Makassar bersinergi dengan Relawan RZ melakukan kunjungan ke Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jl. Batara Bira VI no. 35, Baddoka Makassar pada hari Selasa (04/05). Sebelum memasuki kawasan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka, setiap pengunjung bahkan fasilitator dan staff harus melewati pemeriksaan diri dan barang bawaan sebagai prosedur awal.

BNN adalah badan rehabilitasi nasional yang bertugas melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang ketergantungan kepada narkotika dimana terdapat 3 balai rehabilitasi dibawah BNN yakni di Bogor, Semarang, dan Makassar. Di Indonesia, dijelaskan oleh staf BNN, Andi Paisah, S.Si, Apt, M.Kes bahwa dari tahun ke tahun semakin banyak pengguna Narkotika yaitu pada tahun 2008 terhitung 2,8 juta orang dan pada tahun 2016 meningkat hingga 4,2 juta orang.

“Ada banyak daerah di Makassar yang telah mendapatkan tanda merah. Bahkan di salah satu daerah terbesar di Sulawesi Selatan, disebutkan bahwa daerah tersebut telah menjadi pabrik terbesar di pulau Sulawesi. Kemudahan dengan jalur laut menjadikan proses penyaluran narkotika menjadi lebih mudah diakses.” Tambahnya.

Pengunaan narkotika secara berlebihan, dapat menurunkan sensitifitas dan menyebabkan rasa nyeri serta kehilangan kesadaran dalam berperilaku. Penggunanya berasal dari berbagai golongan seperti pekerja, mahasiswa, anak sekolahan, bahkan profesor.
Adapula istilah ‘ngelem’ yang diminati oleh kaum remaja saat ini, jenis ini termasuk halusinogen dan efeknya lebih berbahaya dari shabu-shabu dikarenakan aroma yang dihirupnya langsung menuju ke otak, sedangkan shabu-shabu sendiri harus menuju paru-paru lebih dulu.

Meski demikian, takaran atau penggunaan shabu-shabu yang dikonsumsi akan berbeda dari hari ke hari, dari 1 gram ke 1,5 gram atau dari sehari seminggu menjadi 3 – 5 kali seminggu.
Setelah menerima paparan materi tersebut, adik-adik CFT dan Relawan dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing didampingi oleh satu fasilitator kemudian diajak berkeliling sambil belajar tentang tahapan-tahapan saat residen (pasien rehabilitasi) akan menjalani proses rehabilitasi.

Ada beberapa tahap rehabilitasi yang mereka terapkan, yakni tahap detoxification (tahap medis) dimana para residen diisolasi guna pemutusan zat (sakau) dengan masa 4 bulan atau lebih tergantung kondisi residen. Kemudian tahap stabilisasi (after care/non medis) dimana para residen dikelompokkan berdasarkan tingkat emosinya dan diberikan pilihan untuk mengikuti pelatihan yang disediakan dan diminati.

Pertama, calon residen akan melalui tahap Intact Process, dimana pada tahap ini residen akan melakukan pendaftaran dengan mengisi formulir dan setelah itu akan dilakukan pemerikasaan kesehatan seperti jantung, ginjal, dan paru-paru. Jika diketahui pasien berada pada fase ringan atau sedang, maka hanya dilakukan rawat jalan dengan maksimal 8 kali perawatan. Atau disesuaikan dengan kebutuhan residen, terlebih jika residen tinggal di tempat yang jauh.

Uniknya, selama berada di sana, mereka dibekali banyak sekali ilmu dan fasilitas kesehatan serta keterampilan. Kerajinan tangan yang kemudian mereka jual. Selain itu, telah diterapkan dan merutinkan pula sholat Dhuha dan Sehari Satu Juz untuk mereka (fasilitator dan residen Muslim).
Salah satu residen yang sempat berinteraksi dengan relawan, mengaku sangat bersyukur bisa ditakdirkan berada di tempat tersebut. Selama tujuh bulan menjalani proses rehabilitasi, dia mengaku telah menemukan kembali jati dirinya.
“Tidak usahah pakai narkoba. Tidak baik. Bisa merusak masa depanmu,” pesannya dengan nada yang masih sedikit ‘sakit’.

“Kami mendapatkan pesan lain bahwa tidak ada kata sembuh bagi pecandu narkoba, tapi pulih. Mereka hanya bisa pulih 20% saja, akan tetapi selebihnya bisa diperoleh dari kesadaran dalam diri mereka sendiri. Tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa Allah SWT pemegang segala takdir dan bisa menyembuhkan. Dan semoga adik-adik CFT ini dapat menjadi duta kebaikan untuk teman-teman dan lingkungannya, melihat mereka semua tinggal di salah satu wilayah merah pengguna narkotika terbanyak di Makassar. Harapan yang sama juga untuk teman-teman Relawan RZ Makassar.” Ujar Khumaidi selaku PIC Care For Teen CSF Makassar.

Andi Paisah berpesan kepada adik-adik CFT dan Relawan RZ untuk tidak terbawa dengan lingkungan yang salah. Jangan coba-coba, karena awalnya coba-coba, lama-lama ketagihan. Awalnya coba lalu menyalahgunakan lalu mengedarkan. Apalagi hanya bermodal ajakan teman. Jauhi teman yang buruk, bertemanlah dengan teman yang baik-baik. Selebihnya, kita harus punya cita-cita.

Newsroom/Salmiah Made
Makassar

Tags :
Konfirmasi Donasi