CATATAN DARI TURKI (4 – HABIS)

Dear sister and brother,

SENIN, 18 Agustus 2008. Aktivitas hari ini dimulai dengan shalat berjamaah di mushala asrama. Sebagaimana kemarin, masyarakat Turki yang banyak bermadzhab Hambali, memulai Shalat Subuh agak lama setelah azan, mungkin sekitar 30 menit hingga satu jam setelah azan baru ada iqamah.

Kunjungan pertama hari ini adalah ke Deniz Feneri Dernegi, sebuah lembaga filantropi yang sudah banyak memberi bantuan di Indonesia dan berbagai penjuru dunia. Bagi saya, ini adalah lembaga paling menarik sepanjang kunjungan di Istambul. Deniz Feneri menjadi lembaga terbesar di Istambul dengan dukungan teknologi informasi (IT) yang dahsyat.

Presentasi pertama disampaikan oleh penanggungjawab IT dari Deniz Feneri. Dia memperlihatkan website lembaganya, yaitu www.denizfeneri.org.tr. Banyak hal yang menarik saya lihat di situs tersebut. Pertama, di situs itu dimuat jumlah total penerima manfaat (penerima bantuan) yang realtime dan update terus setiap dua detik. Jadi, informasi terkini selalu tersedia untuk pengakses.

Kedua, terdapat data jumlah relawan yang bergabung, lengkap dengan alamat dan dipetakan dengan baik lokasi relawan tersebut berada. Di lembaga Deniz Feneri ini, fungsi relawan selain membantu dalam memberikan bantuan juga dioptimalkan untuk menyurvei calon penerima bantuan.

Ketiga, di situs itu terdapat peta sebaran donatur dengan jelas. Keempat, peta sebaran distribusi bantuan dengan lengkap ada di sana. Bentuknya memang peta dengan kelap-kelip yang menunjukkan lokasi. Situs seperti inilah yang saya bayangkan untuk Rumah Zakat Indonesia.

Lembaga ini menempati kantor dan gudang yang luas. Saat itu kami diajak langsung ke gudangnya, di sana terdapat bantuan dari berbagai kalangan baik perorangan maupun perusahaan yang disimpan dengan kode tertentu. Di sana ada mesin cuci, makanan, pakaian layak pakai.

Salah satu yang menarik, setiap barang dikelola dengan baik dengan pengkodean. Selain itu, ada yang lebih menarik lagi, donatur yang mendonasikan bantuannya bisa mengetahui keberadaan bantuannya, termasuk siapa yang mendapatkannya. Data itu hingga lima tahun ke depan masih bisa diakses. Subhanallah, keren kan?

Saat itu saya langsung menghubungi bagian IT dan distribusi international Deniz Feneri untuk bisa bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia dalam pengembangan software. Satu hal yang perlu diketahui, mereka membangun sistem informasinya selama lima tahun hingga menjadi seperti itu. Sementara Rumah Zakat baru tiga tahun terakhir ini menggarap sistem IT yang canggih. InsyaAllah setelah lima tahun, kita akan punya eRZIS yang seperti mereka buat. Bahkan, kalau bisa lebih baik lagi. InsyaAllah.

Perjalanan selanjutnya adalah ke MUSIAD, yaitu sebuah asosiasi pengusaha muslim di Turki. Dahsyat, kami di sini dijamu dengan luar biasa.

Berikutnya, dalam pertemuan itu, dijelaskan oleh pengurus MUSIAD kaitan antara pemuda dan dunia usaha, juga tentang halangan dan tantangan. Satu kalimat dari chairman MUSIAD itu yang terngiang-ngiang di telinga saya adalah: “Anda harus banyak melakukan perjalanan untuk menjadi seorang pengusaha.”

Dalam pertemuan itu, salah seorang peserta Indonesia menanyakan tentang peluang usaha di Indonesia yang kaya sumber daya. Jawabannya benar-benar menohok. Ternyata pembicara dari MUSIAD itu sudah beberapa kali datang ke Indonesia, dan dia bilang, “Indonesia adalah negara yang tingkat investasinya terendah di Asia Tenggara dengan pemerintahan yang korup.” MasyaAllah, rasanya malu saya jadi warga Indonesia.

Rencananya, MUSIAD akan mengadakan acara besar yaitu International Business Forum dan International Trade Fair yang akan diselenggarakan pada 23-26 Oktober yang akan datang. Kami diundang untuk hadir ke acara itu.

Dari sana, kami lanjutkan acara dengan mengunjungi HAYRAT Foundation yang consern di bidang pembuatan al-Quran, pengelolaan asrama dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa.

Bahkan, salah satu penerima beasiswanya adalah mahasiswa dari Indonesia yang selama kami di sana sangat membantu kami. Namanya adalah brother Andika, mahasiswa yang berasal dari Mandailing Sumatera Utara. Dia sedang mengambil program S2 setelah lulus dari Universitas Islamabad Pakistan.

Dari HAYRAT Foundation, kami lajutkan ke asrama kembali.

Selasa, 19 Agustus 2008. Acara hari ini dimulai dengan mengunjungi SAFA Foundation. Sebenarnya setiap lembaga yang kami kunjungi, memiliki wilayah garapan yang nyaris sama. Tapi, sama sekali tidak ada perselisihan di antara mereka. Subhanallah, mereka bisa bersatu dengan baik, tidak saling menjatuhkan.

Satu pelajaran yang bisa diambil di sini adalah yayasan-yayasan di Indonesia juga jangan sampai memiliki anggapan bahwa banyaknya yayasan sosial lalu dianggap menjadi saingan. Sudah saatnya kita bikin lembaga serupa UNIW Turki di Indonesia. Bisa kan?

Dari SAFA Foundation, kami diajak ke Istana Topkapi yang terkenal itu. Sebenarnya, pada Jumat ketika awal kedatangan, para peserta sudah sempat diajak ke istana itu. Tapi karena ada Presiden Iran Ahmadinejad sedang berkunjung ke sana, peserta tidak bisa masuk ke Istana Topkapi. Sehingga setelah dari SAFA Foundation, kami diajak ke sana kembali. Sungguh sayang, sampai di sana ternyata Istana Topkapi belum buka. Tidak ada pengunjung yang bisa masuk.

Kekecewaan kami agak terobati. Di sebelah Istana Topkapi, terdapat bangunan Museum Aya Sofia. Akhirnya kami berkunjung ke sana. Museum Aya Sofia sebelumnya merupakan bangunan masjid, tetapi akhirnya hanya dijadikan museum.

Aya Sofia adalah salah satu peninggalan zaman keemasan Bizantium. Bangunan ini selesai pada 360 Masehi. Hampir seabad kemudian, Aya Sofia difungsikan sebagai masjid, ketika Istanbul direbut oleh Sultan Mehmed II, sultan ke-8 dinasti Utsmaniyah, pada 1453.

Dari masjid, Aya Sophia diubah menjadi museum, setelah Turki dikuasai Mustafa Kamal Attaturk. Sejumlah peradaban terekam di sana. Ada gerbang besar dengan daun pintu dari tembaga, gerbang yang dulu hanya boleh dilewati para raja. Melangkah masuk ruangan melewati gerbang, lihatlah ke dinding atas: plafon setinggi 56 meter dan bergaris tengah 33 meter dibuat mozaik bergambar bunga dan kaligrafi huruf Arab yang sangat indah, harmonis dengan pilar-pilar yang berwarna hijau dan ungu dari zaman Bizantium.

Sama dengan bangunan Miniturk, Aya Sofia pun banyak dikunjungi para turis. Tentu ini menjadi media dakwah yang luar biasa karena yang datang berasal dari banyak negara. Pengelolaan turis di kota ini sangat bagus, walau ada beberapa kekurangan sebagai kota wisata. Di antaranya adalah:

Pertama, masih sedikit warga Turki, terutama di daerah wisata, yang mengerti Bahasa Inggris, padahal sebagian besar turis berbahasa Inggris. Kedua, kurangnya tanda arah dan penjelasan yang berbahasa Inggris, idealnya setiap penjelasan selain berbahasa Turki juga berbahasa Inggris.

Ketiga, orang Turki ini agak nakal terutama berkaitan dengan harga, walaupun lumrah seperti di Indonesia. Misalnya, ketika kami naik taksi, kalau hanya kami sendirian tanpa orang Turki, kami diberi harga mahal tanpa argo. Saya sudah membuktikan hal itu. Ketika pergi ke lokasi yang sama, jika ditemani orang Turki, sopir taksi memakai argo dan hanya kena sepuluh lira. Tapi, waktu tanpa pengantar, kami dimintai 25 lira.

Perjalanan selanjutnya adalah ke pasar untuk membeli oleh-oleh. Hari itu merupakan hari terakhir kunjungan ke NGO. Dijadwalkan, besok pagi tanggal 20 Agustus, peserta akan berangkat ke lokasi camp di Laut Hitam.

Saya sendiri sejak awal tidak berencana hadir ke camp. Selain banyak pekerjaan yang menunggu, juga terlalu lama meninggalkan Indonesia. Selainitu, saya sudah terlalu lama meninggalkan bangku kuliah. Alhamdulillah, saat ini saya menjadi mahasiswa S2 Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis (STMB). Mohon doa para Sobat Zakat agar saya bisa menyelesaikan kuliah dengan baik dan bisa memperdalam bidang keuangan terutama Islamic Finance, karena bidang ini yang rencananya akan jadi garapan saya ke depan.

Kita lanjutkan cerita. Kondisi di pasar Turki, persis seperti pasar-pasar di Indonesia. Pembeli harus jago nawar. Sayangnya, saya ditemani oleh orang Turki yang malu menawar harga. Mungkin karena masih mahasiswa jadi malu menawar. Di pasar itu, saya membeli buah tangan untuk orang rumah sama orang kantor.

Banyak yang menarik untuk dibeli cuma karena limitasi uang, seadanya aja ya. InsyaAllah besok saya akan pulang ke tanah air, dan bersiap mengkapitalisasi hubungan yang sudah dibangun untuk menghasilkan sebuah kerjasama dan kinerja keuangan yang positif.

Rabu, 20 Agustus 2008. Hari ini merupakan hari terakhir saya di Turki. Dari panitia tidak ada acara khusus yang dibuat, selain persiapan berangkat ke lokasi perkemahan yang akan diberangkatkan pukul 12.00 waktu Turki. Perjalanan ke lokasi perkemahan di Laut Hitam, katanya membutuhkan waktu sekitar empat sampai enam jam perjalanan darat. Sebenarnya saya ingin sekali pergi ke sana, sayang masih banyak kerjaan menunggu.

Pagi-pagi saya bersiap membereskan barang-barang. Sebagaimana pernah saya ceritakan, kami berencana mampir dulu ke IHH Associaton Turki sebelum balik ke Tanah Air.

Setelah makan pagi di kantin asrama (ini untuk pertama kalinya saya makan di kantin asrama), kami lanjutkan perjalanan ke IHH. Kami mampir ke IHH untuk penjajakan dan membicarakan kemungkinan kerjasama ke depan. Subhanallah, mereka sangat terbuka sekali, kami diterima oleh Deputi Chairman dan Koordinator Wilayah Asia IHH.

Selama ini IHH sudah punya banyak program kerjasama dengan Indonesia terutama melalui PKPU. Mudah-mudahan saja ada beberapa program yang bisa disinergikan.

Setelah dari IHH, saya kembali ke asrama dan siap-siap untuk berangkat ke bandara. Alhamdulillah dari panitia ada yang memberikan tumpangan kendaraan ke bandara. Sore hari saya meluncur ke bandara karena pesawat berangkat pukul 19.30 waktu Turki.

Perjalanan akan kami tempuh dari Istambul Turki ke Dubai, transit di Dubai sekitar delapan jam. Dilanjutkan dari Dubai langsung ke Jakarta sekitar delapan jam perjalanan. Diperkirakan akan sampai di Jakarta pada Kamis (21/8), sekitar pukul 21.00 WIB. Mudah-mudahan Kang Dolly sudah menjemput saya untuk langsung melakukan perjalanan ke Bandung. Jumat (22/8) jika jadwal ini mulus, saya sudah sampai di Kota Kembang.

Sebelum pulang ke Indonesia, saya mendapat SMS dari Dr Muhammad Al-Qattan dari Islamic Finance Kuwait. Kata beliau, kalau saya mau ke Kuwait diharapkan datang pada tanggal 28 Agustus sampai tanggal 5 September 2008. So, Sobat Zakat sekalian, sampai jumpa lagi di petualangan CEO ke luar negeri lainnya.

Sewaktu transit di Dubai ada seorang manajer, kirim YM ke saya dengan menanyakan, “Pak, kapan saya ke Turki?” Saya jawab, “Kapan antum berencana jadi CEO? Karena tentu CEO dapat prioritas perjalanan luar negeri.” Dijawab oleh beliau, “Tahun 2010, siap.”

Silakan ada yang berminat lagi yang lain jadi CEO, sehingga bisa merasakan perjalanan luar negeri? Peluang terbuka buat antum semuanya. Selamat mengoptimalisasi peluang. If there is a will, there is a way (halah, malah kampanye). Sampai ketemu di Indonesia.[]

-VDE-

“Ketika pesawat di atas Hyderabad yang menuju Tanah Air..”

Tags :
Konfirmasi Donasi