APA ITU TABDZIR?

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Oleh: Mahmud Yunus

Allah berfirman: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang-orang yang miskin, dan kepada orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kalian menghambur-hamburkan (harta kalian) secara boros (QS al-Isra [17] 26).

Dalam ayat tersebut, secara gamblang Allah mengharuskan membelanjakan harta kita kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yakni kepada keluarga-keluarga yang dekat, orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan.

Namun, Allah mengharuskan membelanjakan harta kita secara proporsional atau tidak berlebih-lebihan. Dalam ayat lain, Allah berfirman: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta (mereka) tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir/pelit (QS al-Furqan [25]: 67).

Pada pengujung ayat 26 surah al-Isra, nyata dilarang membelanjakan harta kita secara tabdzir. Tabdzir artinya menghambur-hamburkan harta. Para pelakunya dinamakan al-mubadzdzirin. Dalam firman-Nya, orang-orang yang menghamburhamburkan harta itu dikatakan sebagai saudara-saudara setan.

Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan harta itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS al-Isra [17] : 27). Dengan demikian, menghambur-hamburkan harta dalam pandangan Islam termasuk perbuatan terlarang.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa tabdzir adalah membelanjakan harta bukan pada jalan yang benar. Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan pendapat yang senada: Seandainya seseorang membelanjakan semua hartanya pada jalan yang benar, dia bukanlah termasuk orang yang menghambur-hamburkan harta. Dan, seandainya seseorang membelanjakan hartanya (kendati pun hanya) satu mud bukan pada jalan yang benar, dia termasuk orang yang menghambur-hamburkan harta.

Sedangkan, Qatadah mengatakan bahwa tabdzir adalah membelanjakan harta pada jalan maksiat kepada Allah, pada j lan yang tidak benar, dan atau untuk kerusakan (kemudaratan).

Anas bin Malik menceritakan, seorang laki-laki dari Bani Tamim datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: Wahai Rasulullah, saya seorang hartawan, memiliki istri, memiliki anak, dan memiliki pelayan maka berilah saya petunjuk bagaimana cara yang seharusnya dalam memberikan nafkah? Rasulullah SAW menjawab: Kamu keluarkan zakat hartamu bila telah wajib zakat karena sesungguhnya zakat menyucikan hartamu dan dirimu, kemudian berikanlah kepada kerabat-kerabatmu, dan jangan lupa hak orang-orang yang meminta, hak tetangga, dan hak orang-orang miskin (HR Ahmad).

Laki-laki dari Bani Tamim tersebut berkata lagi: Wahai Rasulullah SAW, persingkatlah ungkapanmu kepadaku. Lalu, Rasulullah SAW membacakan surah al-Isra [17] : 26. Harta harus dibelanjakan pada jalan yang benar. Apabila ada orang-orang yang meminta bantuan, sedang kita tak memilikinya, kita harus mengatakannya dengan kata-kata yang pantas (QS al-Isra [17]: 28).

Sumber : www.republika.co.id

Tags :
Donation Confirmation