AYAH KADANG-KADANG

Oleh: Budi Ashari

Ayah takhanya memenuhi kebutuhan fisik. Kita sudah sepakat dengan hal ini. Tetapi, bagaimana seorang ayah bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, kalau interaksi dengan anak bermasalah. Pagi-pagi sudah berangkat, terkadang anak belum bangun. Padatnya pekerjaan, macetnya jalanan, berikut semua masalah di jalanan, membuat sang ayah pulang larut malam, terkadang anak sudah tidur. Penantian mereka untuk sekadar memenuhi kelopak mata dengan wajah sang ayah, tidak terpenuhi. Setelah pagi tadi, tidak sempat mengecup tangan ayah sebelum keberangkatannya. Anak-anak baru merasa punya ayah pada hari Sabtu dan Minggu saja. Terlihat seonggok fisik kelelahan di kursi rumah, setelah 5 atau 6 hari padat beraktifitas. Ada lagi, seorang ayah yang harus bertugas jauh dari anaknya. Sementara sang ibu kebingungan bagaimana harus membagi waktu antara suami dan anaknya. Kepulangan ayah yang sangat dirindukan baru bisa terlaksana sebulan sekali. “Alhamdulillah, saya punya waktu yang cukup untuk anak saya,” kata sebagian ayah. Tentu menggembirakan mendengarnya. Tetapi, sayangnya kalimat ini masih berbuntut. “Tapi saya tidak tahu harus menjadi ayah seperti apa?” Nampaknya dia adalah seorang ayah yang sedang kebingungan tentang perannya sebagai ayah. Kadang ayah, kadang bukan. Ayah kadang-kadang. Malah ada yang tidak terasa sama sekali keayahannya. Sang anak tidak merasa punya ayah, yatim sebelum waktunya. Kalau lisan mereka boleh berucap, mereka akan berkata kepada bundanya, “bunda, carikan aku ayah”.

Berapa banyak ya, jumlah ayah di Indonesia seperti ilustrasi di atas? Banyak atau sedikit? Nah, Anda sendiri tipe ayah yang mana? Para ayah yang baik, mari kita terus belajar. Kalimat-kalimat di atas bukan untuk memojokkan apalagi hanya menyalahkan tapi untuk melakukan evaluasi, berharap solusi untuk permasalahan dan petunjuk untuk peran keayahan. Untuk generasi yang lebih istimewa dari kita. Ayah, sebagai pengingat kembali untuk kita, inilah kalimat Ibnu Qoyyim yang akan kita analisa kata per kata, “betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi keinginannya, sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya.” Kesengsaraan anak di dunia bahkan hingga di akhirat nanti karena hilangnya perhatian seorang ayah terhadap anaknya. Perhatian? Bukankah banyak para ayah yang merasa telah memperhatikan anaknya? Di mana kurangnya? Ya, perhatian itu berbagai macam bentuknya. Ada perhatian secara fisik dengan sentuhan mantap atau ekspresi wajah seorang ayah. Ada perhatian berupa fasilitas hidup dengan sarana yang disediakan oleh ayah. Ada sapaan menyejukkan di pagi hari dan ucapan selamat atas prestasi dengan lisan ayah. Ada doa yang mengalir dari ketulusan hati seorang ayah. Ini bukan pilihan, tetapi harus dilaksanakan semua.

Sekarang para ayah tahu bukan, mengapa perhatian ayah masih dianggap kurang, karena masih memilih satu atau beberapa saja. Biasanya hanya perhatian fasilitas hidup yang dipilih. Kalau boleh, saya membagi perhatian menjadi tiga macam: Perhatian dalam bentuk kuantitas Perhatian dalam bentuk kualitas Perhatian dalam sunyi Perhatian dalam bentuk kuantitas, artinya kehadiran fisik sang ayah. Demikian juga pemenuhan fasilitas hidup yang merupakan kewajiban ayah. Sang anak bisa menatap wajah ayahnya. Bisa menyentuh tubuh ayah. Bisa meraba rambut ayah. Bisa menggandeng tangan ayah. Sang anak bisa mendapatkan fasilitas untuk belajarnya, sekolahnya, bermainnya, komunikasinya, kebutuhan hidup sehari-harinya. Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau wadah itu belum ada, bagaimana seorang ayah bisa mengisi anaknya dengan misi kebaikan? Untuk poin ini, masalah muncul pada ayah yang sibuk atau bekerja di luar kota jauh dari anak-anaknya dan jarang ada pertemuan fisik.

Bagaimana solusinya? Mohon jauhkan kalimat apologi, “yang penting kualitas pertemuan. Buat apa kuantitas pertemuan sering, tetapi tidak berkualitas”. Bukan itu jawabannya! Perhatian dalam bentuk kualitas, artinya kehadiran fisik dan pemenuhan fasilitas itu harus ada ruhnya, bukan pertemuan kosong. Perhatian itu bukan permainan tanpa visi, jalan-jalan tanpa misi, duduk tanpa dialog, atau pembicaraan tanpa nilai. Perhatian itu ibarat wadah, kalau sudah ada, jangan sampai tidak diisi dengan misi kebaikan. Perhatian dalam sunyi, artinya sang ayah tetap menyediakan ruang yang lapang dalam hati dan lisannya saat ia sendirian. Dalam perencanaan hidupnya, dalam doa dan dzikirnya. Saat nanti kita belajar tentang nabi Ibrahim, para ayah akan tahu betapa nabi Ibrahim seorang ayah yang dahsyat itu selalu membasahi lisannya dengan doa untuk generasinya. Ia selalu memikirkan generasinya dalam sendirinya, dalam kesunyiannya, dari hatinya yang paling dalam. Ia selalu berdoa. Untuk poin ini, para ayah tinggal belajar bermacam doa untuk generasi dan terus berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wadah yang telah terisi itu, semakin terlihat indah dengan hiasan yang mengitarinya.

Nah, ini ada hasil penelitian tentang anak yang ‘tidak punya’ ayah:
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar di Rumah Sakit Jiwa Anak, (University of Michigan), dari sampel 144 anak dan remaja awal yang orang tuanya bercerai, sering mengalami tiga hal: 63% masalah psikologis subjektif (didefinisikan sebagai kecemasan, kesedihan, suasana hati yang mudah berubah-ubah, fobia, dan depresi), 56% prestasi rendah atau prestasi di bawah kemampuan yang pernah dicapainya, 43% melakukan agresi kepada orang tua. Shalih bin Awwad al-Maghamisi (al-Ayyam an-Nadzirah wa as-Siroh al-Athiroh, h. 51, MS) menjelaskan, “Fathimah putri yang paling dicintai Nabi shallallahu alaihi wasallam. Imam adz-Dzahabi ketika menuliskan biografi Fathimah dalam al-a’lam berkata: “Dia adalah bagian dari kenabian dan pilihan”. Fathimah adalah orang yang paling mirip cara jalannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah mencintainya, memuliakannya, mengagungkannya. Jika dia mendatangi Rasul beliau menciumnya dan memeluknya. Fathimah adalah bagian dari beliau, Rasul berkata, “Fathimah bagian dari diriku, apa saja yang membuatnya gundah juga akan membuatku gundah, apa saja yang menyakitinya juga menyakitiku”. Penggambaran singkat ini, menggambarkan jelas bahwa Rasul hadir secara fisik, memperhatikannya, mampu bersatu dalam rasa dengan putrinya. Mari kita semua menjadi para ayah yang bisa dirasakan kehadirannya. Bukan saja pada fasilitas hidup. Tetapi dalam seluruh lembaran kehidupan anak-anak kita.

Tags :
Donation Confirmation