Berguru Pada Siti Hajar

Siti Hajar, seorang hamba sahaya yang dimuliakan Allah karena keimanannya. Dialah yang Allah takdirkan sebagai salah seorang pendamping Nabi Ibrahim AS. Di balik kelemahlembutan sosoknya, tersimpan sebuah kekuatan iman yang senantiasa terpancar dari setiap kata dan polahnya.
Suatu kali Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah untuk meninggalkan isterinya yang baru melahirkan Ismail. “Kenapa kau tinggalkan aku wahai Ibrahim?” tanya Siti Hajar. Ego kewanitaannya muncul, mendapati dirinya yang baru saja melahirkan hendak ditinggal di gurun tandus yang nyaris tanpa kehidupan.
Ibrahim tak mampu menjawab, lidahnya kelu. Tak surut langkahnya meninggalkan sang isteri, bahkan menoleh pun tidak. Rasa dan logika berkecamuk dalam dadanya. Jawaban apa yang hendak diberikannya pada sang isteri, Ibrahim tak mampu merangkai kata.
Siti Hajar belum berhenti, namun akalnya kini bicara. Nurani keimanannya terungkap dalam kalimat tanya penuh empati, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau meninggalkanku di sini, wahai Ibrahim?”. Ibrahim yang semula tak mampu berkata pun membalikkan badannya. “Ya,” jawabnya penuh keyakinan.
“Jika demikian halnya, maka aku yakin Allah tidak akan menelantarkan aku,” ungkap Siti Hajar penuh keyakinan sembari merelakan suaminya pergi meninggalkannya dan anaknya.
Siti Hajar sepenuhnya yakin akan janji Allah: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata” (QS 11:6).
Tak berhenti di situ Allah menguji keyakinan hamba-Nya yang satu ini. Selang beberapa lama, Siti Hajar yang ditinggalkan di gurun tandus mulai kehabisan tenaga. Air susunya tak lagi keluar, sementara anaknya mulai menangis karena kehausan. Siti Hajar tak berpangku tangan, sisa energi yang ada digunakannya untuk mencari sumber air. Siti Hajar hanya berbekal keyakinan bahwa Allah tak akan menelantarkannya di padang tandus tak berpenghuni tersebut.
Kakinya mulai berlari kecil, dari Bukit Shofa menuju Marwa. Lalu dari Marwa kembali lagi ke Shofa, begitu seterusnya, hingga tujuh kali jarak Shofa dan Marwa dilintasinya. Nafasnya tersengal-sengal. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Bayang-bayang yang dikiranya air ternyata fatamorgana yang muncul karena panasnya hawa gurun siang itu.
Ismail masih menangis, bayi merah itu lapar, hingga Allah pun menunjukkan kekuasaan-Nya. Menjawab keyakinan Siti Hajar. Bumi tempat hentakan kaki sang bayi merah pun memancarkan air. Betapa terkejutnya Siti Hajar mendapati apa yang disaksikannya. Siti Hajar smeakin yakin atas keyakinannya, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
Demikianlah pengorbanan Siti Hajar. Ia rela ditinggalkan suaminya di tengah gurun tandus. Kelelahannya mengalahkan kecintaan pada Rabbnya. Nurani keimanan menempanya menjadi wanita tangguh yang mampu mamadukan antara rasa dan logika sebagai suatu yang sinergis, dan bukannya saling mengikis. Lewat tangannya pula tumbuh sesosok anak yang sholeh yang di kemudian hari diamanahi Allah menjadi salah satu nabi-Nya.
Siti Hajar mengajarkan tentang keluhan yang tak pernah terucap, tentang keimanan yang tinggi seorang hamba pada Rabbul Izzati, tentang pengorbanan seorang perempuan, ibu dan isteri. [] (Ophi)

Tags :
Donation Confirmation