CATATAN DARI TURKI (3)

Dear sister and brother,

AHAD, 17 Agustus 2008. Merdeka, Merdeka, Merdeka! Hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63, jatuh pada hari Ahad. Dari Bandung, istri saya mengirim sms bahwa anak saya ikut perlombaan di RT dan mendapatkan banyak hadiah.

Subhanallah, di Milad Republik Indonesia yang ke-63 ini, mudah-mudahan Indonesia semakin baik, menjadi negara yang besar, sejahtera, kaya dan shaleh. Harapan itu masih ada, jayalah negeriku jayalah!

Oke, kita lanjutkan catatan perjalanan kita.

Hari Ahad, kami dibangunkan jauh lebih pagi, yaitu sekitar pukul 04.00. Padahal kami baru tidur pukul 23.00, bahkan ada yang pukul 01.00. Ternyata, kami dibangunkan lebih pagi karena kami diajak oleh panitia untuk Shalat Subuh berjamaah di Masjid Sulaiman.

Shalat Subuh kali ini sangat menarik, ribuan orang memenuhi masjid. Ternyata, ini gejala umum di Turki. Setiap Shalat Subuh pada weekend (akhir pekan), yaitu Sabtu dan Ahad, ribuan wara berbondong-bondong ke masjid.

Rezim sekuler sejak masa Mustafa Kalmal Atatturk pernah melarang azan memakai Bahasa Arab, perempuan dianjurkan tidak memakai jilbab, semangat Islam dipadamkan dan kegiatan keagamaan dilarang. Pada masa pemerintahan Erdogan, azan mulai dikumandangkan kembali dalam Bahasa Arab. Kebijakan Erdogan ini membuat gerakan kembali ke masjid. Setiap Sabtu dan Minggu pun orang berbondong-bondong ke masjid terutama saat Subuh. Di Masjid Sulaiman itu penuh sekali, sampai luber ke luar masjid.

Mereka yang hadir juga seluruh kalangan masyarakat Turki, dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak bahkan para kakek dan nenek. MasyaAllah, penuh sekali. Saya teringat dengan sebuah hadits yang mengatakan bahwa Islam akan kembali jaya jika jumlah jamaah Shalat Subuhnya sama dengan Shalat Jumat. Subhanallah, saya melihatnya di Turki.

Setelah Shalat Subuh kami berkunjung ke seorang doktor yang merupakan ketua boyscout (semacam pramuka) di Turki. Dia memiliki sebuah tempat penampungan anak-anak jalanan, letaknya persis di dekat Masjid Sulaiman, di sebuah pelataran kosong sekitar pemakaman. Di sana, kami diberikan taujih oleh beliau, sekaligus dijamu makan pagi.

Ternyata masalah anak jalanan ini terjadi di banyak negara, tidak terkecuali Turki. Di sana, beberapa orang yang peduli, membuat rumah singgah.

Dari kunjungan ke rumah singgah itu, kami lanjutkan perjalanan dengan mengunjungi sebuah NGO, yaitu Insan ve Medeniyet Hareketi (IMH). Di sana kami diajak makan pagi dulu, karena di tempat tadi hanya dianggap sebagai light breakfast.

IMH ini merupakan organisasi payung, yang bergerak di bidang pembinaan ibu-ibu dan kepemudaan. Mereka punya stasiun televisi sendiri, yaitu HILAL TV. Selain itu, IMH memiliki banyak aktivitas sosial lainnya seperti bantuan bencana alam dan kemanusiaan.

Dari IMH kami melanjutkan perjalanan ke sebuah NGO yang concern ke bidang pengembangan al-Quran. Seperti biasa, kami dijamu makan siang sebelum mendengarkan penjelasan dari NGO yang kami datangi. Di setiap NGO biasanya didapatkan hal yang sama, mereka punya ruangan untuk menjamu makan lengkap dengan kokinya.

Selain itu, mereka punya ruang pertemuan lengkap dengan fasilitas presentasinya. Kalau dari segi ruangan presentasi, ruangan di Ba Bi A’len kemarin tetap yang tercanggih yang kami lihat. Salah satu yang ingin diimplementasikan dari hasil perjalanan ini adalah Rumah Zakat harus punya ruangan presentasi yang representatif. Ini di semua kantor Rumah Zakat. Misalnya di kantor pusat dulu, baru ke Jakarta, Medan, Surabaya dan Makassar.

Dari sana dilanjutkan acara makan malam. Salah satu yang menarik di lokasi makan malam ini, terdapat taman buah anggur yang sedang masak. Anggur itu bisa dijangkau dengan tangan tanpa harus menggunakan alat. Akhirnya, kami sempatkan memetik buah itu beberapa biji. Hmm, yummy..

Usai makan, kami diantar ke sebuah ruangan diskusi. Di sana, kami mendapat penjelasan dari Mustafa Oskaya, yang dulu pernah menjadi sekretaris jenderal di United NGO’s of Islamic World (UNIW). Saat in Mustafa menjadi manajer program di sebuah stasiun televisi. Mustafa menjelaskan tentang Turki dan perannya bagi dunia Islam.

Saat mendengar penjelasan itu, saya merasa—dan ini di beberapa kali kesempatan dengan pemateri orang Turki—mereka selalu memosisikan diri sebagai sebuah bangsa yang menaungi bangsa lain. Salah satu kawan peserta dari Indonesia sempat bilang, “Pantas mereka (orang Turki) lebih siap untuk menjadi pemimpin peradaban baru dibandingkan dengan kita di Indonesia.”

Sambil berjalan pulang ke asrama, kami mampir ke University of Turki yang bersebelahan dengan Masjid Ismailiyah. Alhamdulilah, akhirnya sampai juga di asrama sekitar pukul 22.30 waktu Istambul.#

See you tomorrow.

-VDE-

Tags :
Donation Confirmation