CATATAN PERJALANAN DUBAI DAN ISTAMBUL (2)

SABTU, 16 Agustus 2008. Aktivitas hari ini dimulai dengan shalat berjamaah di mushala asrama. Di sini, jeda antara adzan dan iqamah agak lama, karena mayoritas mengikuti Madzhab Hambali. Mereka memulai Shalat Subuh sekitar 30 menit sampai satu jam setelah adzan.

Agenda kunjungan pertama hari ini adalah ke lembaga Ba Bi A’len (tolong jangan dibaca ‘babi’, karena ada tulisan alfabet Turki yang tidak ada di keyboard komputer kita). Ba Bi A’len adalah sebuah yayasan yang fokus di bidang pendidikan, salah satu program utamanya adalah beasiswa untuk mahasiswa.

Sebelum acara dimulai, kami disuguhi makan pagi. Waktunya nyaris sama dengan di Sharjah Charity House UEA tempo hari, makan pagi diselenggarakan pukul 08.30, sudah agak siang untuk perut Indonesia.

Menu makan di Turki ini sangat menarik. Kalau kita belajar food combining (kombinasi makanan), mereka telah menerapkannya dengan baik, bahkan menjadi pola hidup kolektif. Makanan di sana disajikan empat kali, mulai dari makanan bubu pembuka, makanan pengantar, makanan inti dan penutup. Ini bagi saya luar biasa.

Secara khusus saya ingin mengangkat masalah makanan ini. Kata salah satu teman saya, pantas Turki itu menjadi pusat penggerak peradaban Islam. Pola makan mereka saja dahsyat. Makanya, orang Turki itu bisa menjadi pekerja keras, pintar dan cerdas. Mereka layak untuk menggerakkan dunia untuk membangun kembali peradaban Islam.

Di Ba Bi A’len, kami dikumpulkan dalam ruang pertemuan yang canggih dan colorfull dan didominasi warna hitam dan merah, paduan warna yang indah. Ruang presentasi berbentuk studio, dengan itu kami bisa mendapatkan penjelasan yang detail tentang program-program di Ba Bi A’len. Mereka menjelaskan program beasiswa mahasiswa gratis bagi pelajar seluruh dunia. Kampus yang terkenal di sana adalah Bosporus University.

Saya berfikir Rumah Zakat bisa mengirimkan calon-calon mahasiswa Indonesia ke Turki. Saya langsung teringat dengan program Beasiswa Juara yang akan dikembangkan sampai tingkat perkuliahan. Nanti, anak asuh yang sudah di SMA kita seleksi, lalu kita arahkan ke bidang teknik, kedokteran, manajemen atau bidang studi strategis yang lain untuk kita kembangkan ke depan. Setelah dia balik ke Indonesia, ikut Actpro Rumah Zakat. Jadi kita punya stok SDM yang mantap.

Dari Ba Bi A’len kami lanjutkan ke Masjid Muhammad al-Fatih. Ini adalah masjid pertama yang kami kunjungi, di dalamnya terdapat makam Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel yang lalu namanya dirubah menjadi Kota Istambul.

Begitu memasuki masjid itu, saya terpana. Subhanallah, masjid-masjid di Turki itu luar biasa. Bangunannya megah, arsitekturnya rumit, detail dan tampak klasik. Kata juru kunci di sana, jasad Muhammad al-Fatih sebetulnya tidak diketahui keberadaannya. Yang sekarang banyak diziarahi orang ini adalah bekas tempat tidur sang penakluk itu.

Dari masjid itu, kami melanjutkan kunjungan ke IHH Assosiation, salah satu NGO besar di Turki. Kiprahnya di Indonesia juga sangat besar, terutama saat tsunami di Aceh 2005 lalu. Alhamdulillah, kami bisa berkenalan langsung dengan Deputy Chairman dan Koordinator IHH Wilayah Asia Mr Senol. Setelah berbincang-bincang rencananya akan kita follow up dengan program yang bisa dikerjasamakan dan berencana kembali ke IHH tanggal 20 Agustus, sebelum saya pulang ke Indonesia.

Setelah presentasi di IHH, dilanjutkan dengan makan siang bersama. Di sini kami tertipu, sajian pertama yaitu sup sudah saya lahap habis. Ternyata masih ada yang lain. Cara penyajian makan di Turki ternyata sama setiap kami kunjungan, polanya adalah, sup dulu yang pertama dengan roti, lalu salad, dilanjutkan makanan utama yang pasti ada daging dan nasi atau kentang dan terakhir ada makanan penutup. Jadi, kalau kita makan pasti kenyang banget.

Dari IHH kami melanjutkan perjalanan ke bekas istana Sultan Turki, yang bernama Dormace Palce. Istana itu sempat juga dipakai sebagai istana oleh Mustafa Kamal Attaturk. Lagi-lagi saya kagum dengan bangunan istana ini. Luar biasa arsitektur peninggalan istananya, megah, gagah dan sarat sejarah. Di tempat ini pula Attaturk meninggal.

Istana itu didirikan di pinggir pantai di Selat Bosporus, sehingga kita bisa langsung melihat keindahan Selat Bosporus dari jendela istana. Salah satu yang menarik dari penjelasan pemandu kami adalah bahwa Sultan Turki beristri tiga orang, yaitu satu orangTturki, satu orang Perancis dan satu orang Arab. Wow, cool man…
Perjalanan dari Dormace Palace dilanjutkan ke Istambul Disaster Managemen Unit, sebuah instansi yang mengawasi apapun yang terjadi di setiap sudut kota. Istambul adalah kota yang padat dengan lokasi perumahan di tanah berbukit-bukit, dengan kondisi jalan yang sempit-sempit. Kondisi itu membuat Istambul rawan kemacetan dan kebakaran. Selain itu juga rawan gempa bahkan tsunami, untuk itu pemerintah kota setempat memdirikan Istambul Disaster Managemen Unit (IDMU).

IDMU ini berdiri di sebuah gedung yang sangat modern dan langsung memantau seluruh bencana yang terjadi, termasuk kecelakaan kecil di tengah jalan. Mereka benar-benar difasilitasi untuk kondisi bencana, terbukti ketika kami akan berangkat dan di jalan ada truk yang terbalik, mereka sudah tahu dan mengirimkan bantuan. Begitu pula ketika kami pulang ada kebakaran, mereka langsung menanggulanginya.

Ruangan operasional IDMU terdiri dari layar-layar besar untuk memantau jalan, perumahan dengan menggunakan kamera pengintai. Terpampang juga layar yang memantau semua saluran televisi untuk mengetahui berita terkini. Ada juga layar analisis prediksi jika terjadi gempa dan banjir.

Sehingga jika terjadi bencana langsung bisa diketahui berapa jumlah penduduk yang tertimpa, butuh makanan berapa banyak, dikirim memakai apa. Masya Allah, pokoknya keren deh. Kalau bisa Rumah Zakat dengan relawannya punya alat seperti ini. Pasti mantab banget.
Dari IDMU, perjalanan kami lanjutkan ke Miniturk, yaitu sebuah lokasi wisata yang menggambarkan miniatur Turki. Di sana berdiri bangunan-bangunan dalam ukuran kecil yang menceritakan apa saja yang ada di Turki. Persis seperti TMII di Jakarta, hanya saja ini lebih kecil dan terbatas bangunan penting.

Di Miniturk itu, ada bangunan-bangunan bersejarah yang ada Turki. Untuk mendapatkan penjelasan, kita tinggal menggesekkan tiket masuk Miniturk ke alat yang ada di setiap situs. Setelah digesekkan, akan ada suara yang menjelaskan situs tersebut. Hebatnya, penjelasan itu bisa menggunakan tiga bahasa, yaitu Arab, Turki dan Inggris.

Saya pikir, apa yang dilakukan pemerintah Turki itu sebenarnya merupakan sebuah dakwah yang keren. Tidak perlu menggurui secara langsung, tapi orang belajar tentang sejarah Islam siapa pun pengunjungnya. Uniknya, di sana terdapat dua miniatur yang sebetulnya tidak terdapat di Kota Istambul, yaitu Dome of Rock dan Masjidil Aqsha Palestina. Jadi lengkaplah penjelasan sejarah Islamnya. Maklum saja, situs Miniturk ini dibuat pada masa Erdogan menjadi Walikota Istambul.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan makan malam. Subhanallah, kami diajak makan malam di tempat yang sangat prestisius, yaitu sebuah restoran tempat istana tempat Sultan Turki berburu. Dan, masyaAllah makanannya uenak sekalii. Kami sampai kekenyangan di sana karena nggak tahan berhenti makan. Menunya memang mak nyuus…

Hari sudah larut, kami kembali ke asrama sekitar pukul 23.00 waktu Istambul. Ternyata, hampir setiap hari agenda kami rata-rata sampai larut malam. Melelahkan memang, tapi banyak pengalaman dan wawasan yang kami dapat.


See you tomorrow.

-VDE-

Tags :
Donation Confirmation