CATATAN PERJALANAN DUBAI DAN ISTAMBUL

“TIDAK jauh dari hotel tempat menginap, terdapat Sharjah Islamic Museum of Culture, museum yang menampilkan berbagai koleksi yang menjelaskan tentang kebudayaan Islam, seperti uang, baju, alat-alat kesehatan, pertanian, astronomi.

Dengan hanya membayar 5 dinar (setara dengan Rp 15.000), kita sudah bisa menikmati museum dengan 10 galeri yang unik dan luar biasa indah.”

—————————————————————

Rumah Zakat Indonesia memiliki visi menjadi lembaga amil zakat taraf internasional yang unggul dan terpercaya. Visi ini bukan sekedar slogan tanpa makna. Seluruh amil RZI berusaha keras mewujudkannya dengan program dan langkah yang menginternasional juga.

Salah satu bentuk keseriusan RZI adalah lawatan CEO RZI Virda Dimas Ekaputra ke Timur Tengah. Sejak Rabu (13/8), Virda berangkat menuju Dubai (Uni Emirat Arab) dan Turki. Di dua negara besar Timur Tengah itu, Virda akan bertemu dengan mitra lembaga internasional. “Kami membawa segepok proposal kerjasama dengan mereka,” ujar Virda sehari sebelum berangkat.

Rencananya, di Dubai nanti Virda bertemu dengan Sharjah Charity House dan Yayasan Rasheed al-Maktoem. Keduanya lembaga sosial di Dubai. Berikutnya, di Turki, Rumah Zakat akan bertemu dengan perwakilan Ensar Foundation, Safa Foundation, Billim Foundation, Hayrat Foundation dan IHH Assosiation.

Bukan hanya itu, di Turki nanti Virda Dimas akan mewakili RZI dalam forum Pertemuan Pemuda Internasional. Kegiatan itu bertajuk Islamic Youth Summer Camp 2008 yang digelar oleh International Youth Forum. Berikut catatan yang dikirim CEO RZI Virda Dimas Ekaputra selama perjalanan:

13 Agustus 2008. Perjalanan menuju Dubai dengan menggunakan pesawat Emirate Airlines dijadwalkan pukul 21.45 WIB melalui Bandara Soekarno Hatta. Satu jam sebelumnya sudah dimulai proses boarding ke pesawat. Jadi bagi sobat zakat yang mau berangkat ke luar negeri, upayakan minimum dua jam sebelumnya sudah berada di bandara. Satu jam untuk pengurusan tiket, visa dan paspor, satu jam selanjutnya digunakan untuk proses boarding ke pesawat.

Keberangkatan pesawat nyaris tepat waktu, perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno Hatta menuju Kuala Lumpur. Pesawat cukup sepi, tidak terisi penuh. Perjalanan ke Kuala Lumpur menempuh waktu satu jam 45 menit. Sampai di Kuala Lumpur kami tidak diperkenankan keluar pesawat.

Sekitar satu jam, pesawat sudah mulai terisi oleh penumpang menuju Dubai. Mulai muncul keberagaman di pesawat kami ini. Berbagai macam ras ada di pesawat, mulai dari Eropa, Melayu, Cina hingga Arab… dan pesawat pun penuh.

Saya melihat, fenomena ini sekaligus menandakan Kuala Lumpur sudah menjadi kota tempat hubungan internasional untuk penumpang. Kuala Lumpur sudah menjadi titik pertemuan perjalanan dunia. Sedang Soekarno Hatta? Sepertinya belum.

Perjalanan menuju Dubai ditempuh sekitar enam jam. Selama perjalanan, Emirat Airlines cukup baik menjamu tamu-tamunya. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi makan sampai tiga kali dan sangat mengenyangkan.

14 Agustus 2008. Nyaris tepat waktu 04.45 waktu Dubai, pesawat Emirat Airlines yang membawa kami mendarat di Dubai International Airport. Sebelum ke Dubai, saya sering mendengar tentang Dubai sebagai kota yang indah, modern, kemudian bandaranya terkenal dengan bangunan yang dasyat. Ketika pesawat mulai mendarat, terlihat dari dalam pesawat melalui kaca jendela, memang tampaknya bandara Dubai sangat luas.

Tapi, rasanya bagi saya agak aneh untuk bandara sehebat ini, penjemputan masih memakai bis. Setelah pesawat berhenti kami, di jemput oleh bis. Padahal biasanya langsung memakai garbarata. Ternyata, saya mendengar pengumuman di bis bahwa bandara sedang dalam perbaikan, jadi parkir agak jauh dan dijemput bis ke terminal kedatangan.

Sampai terminal kedatangan, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Kemudahan, senyuman dan kecepatan layanan terhadap penumpang, tidak saya dapatkan. Kami harus mengantri cukup panjang untuk bisa masuk ke dalam terminal dengan pelayanan yang tidak ramah, tanpa senyuman dan petugasnya tidak bisa berbahasa Inggris.

Lalu kami mengalami pemeriksaan, kami harus membuka ikat pinggang, jas dan sepatu. Saat menuju ke customer service tidak tersedia penujuk arah yang baik. Saya membatin dalam hati, mungkin karena bandara sedang dalam perbaikan. Akhirnya, saya bertanya sana-sini untuk menuju imigrasi.

Sampai di imigrasi, ternyata loket kami beda, untuk visa on arrival bagi penumpang Emirate Airlines dilaksanakan di konter Emirate sendiri.
Kami menuju konter Emirate untuk mengajukan visa. Subhanallah, petugas yang melayani kami lambat sekali. Lama banget. Saya tidak tahu yang terjadi, meng-input sesuatu ke komputer saja, sepertinya lama sekali.

Sobat zakat, pelajaran di sini adalah, kalau kita ingin lebih cepat, kita harus membawa fotokopi dari reservasi hotel. Kalo tidak membawa, mereka akan memberikan pilihan hotel menurut mereka, tinggal pilih mau hotel seperti apa. Bintang lima, bintang tiga atau bintang kecil. Yang jelas, setiap kita mengajukan visa, untuk waktu lebih dari 12 jam, harus melampirkan bukti booking hotel.

Kalau tidak memakai hotel yang disediakan mereka, kita diminta untuk membawa bukti booking hotel kita atau hotelnya diminta mengirim faks ke mereka. Karena sobat kami yang di Dubai sudah memesankan hotel, kami menunggu sobat kami itu mengirimkan faks ke konter Emirat.

Sementara menunggu, kami melaksanakan Shalat Subuh. Subhanallah, ternyata mushalla bandara bagus, rapih dan wangi. Tapi saya agak kecewa ketika ke toilet, ternyata bandara yang segini gede dan canggih, air di toiletnya tidak bisa mengalir. Bahkan ada pengguna sebelumnya yang tidak menyiram. Hmmm, buyar deh kesan canggih dan bagusnya Dubai.

Setelah mengurus visa dan paspor, kami diminta oleh sobat kami yang di Dubai itu untuk naik taksi ke Sharjah Charity House. Kami memperkirakan—sekaligus mengharapkan—akan diajak ke hotel dulu sebelum pertemuan. Maklum, kami belum mandi setelah perjalanan jauh.

Perjalanan memakai taksi, ternyata juga kurang mmenyenangkan, sopirnya ngebut. Belok tidak memakai rem, sopirnya juga kurang ramah. Klop sudah ketidaknyamanan kami itu.

Sampai di kantor Sharjah, kami dijemput oleh Syaih Badr, putra dari pendiri Sharjah Charity House. Dengan mobil jemputan Toyota Prado. Ternyata harapan kami pupus, kami tidak diajak ke hotel tapi langsung ke kantor Sharjah. Masya Allah, belum mandi langsung kunjungan, batin saya.

Kunjungan di kantor Sharjah Charity House kira kira pukul 09.00 waktu setempat. Setelah laporan dan diskusi, dilanjutkan dengan makan pagi bersama. Perlu dicatat, makan pagi di sana itu sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Menunya juga hanya dengan roti khas Dubai. Begitu saja. Bagi saya yang perut Indonesia, rasanya tidak bisa disebut sarapan.

Laporan demi laporan disampaikan, alhamdulillah banyak mendapat respon baik Berbagai proposal kerjasama yang saya bawa, seperti proposal beasiswa, proposal sanggar yatim, proposal Ramadhan dan proposal sekolah international disambut baik oleh mereka. Sekarang tinggal doa yang kuat dari sobat zakat, mudah mudahan presentasi saya itu gol dan sukses besar. Amiin.

Karena saat itu hari Kamis, karyawan di Sharjah Charity House hanya bekerja setengah hari, yaitu sampai jam 13.00 waktu setempat. Ternyata, waktu kerja mereka itu dari Sabtu sampai Kamis siang, hari Jumat mereka libur. Asyik juga ya.

Dari kantor Sharjah Charity House, kami diantar ke penginapan dan dijadwalkan malam harinya akan dijemput untuk makan malam bersama Syaih Badr. Karena waktu agak luang, kami manfaatkan untuk jalan-jalan di sekitar hotel. Ternyata hotel kami berada di pinggir pantai, persis seperti dermaga-dermaga di indonesia.

Tidak jauh dari hotel terdapat Sharjah Islamic Museum of Culture, museum yang menampilkan berbagai koleksi yang menjelaskan tentang kebudayaan Islam, seperti uang, baju, alat-alat kesehatan, pertanian, astronomi. Dengan hanya membayar 5 dinar (setara dengan Rp 15.000), kita sudah bisa menikmati museum dengan 10 galeri yang unik dan luarbiasa indah.

Dari museum kami mampir untuk melaksanakan Shalat Magrib di masjid dekat hotel, dan kembali ke hotel untuk persiapan makan malam. Subhanallah, tahu pukul berapa saya dijemput? Saya sempat ketiduran karena jemputan baru datang pukul 22.00 waktu Dubai. Terlalu larut malam untuk ukuran makan malem kita.

Kami diajak makan malam di sebuah restoran. Menunya, satu loyang besar dengan dua ekor ayam besar, semuanya harus kami makan bersama. Karena porsinya besar sekali, kami gagal menghabiskannya.

Setelah makan kami diajak keliling Kota Dubai. Perjalanan keliling sambil bercerita ternyata tidak terasa waktu berjalan cepat. Kami pulang ke hotel pukul 24.00 waktu setempat. Sampai di hotel, saya sudah sangat mengantuk dan lelah. Agenda pertemuan dengan masyarakat Indonesia yang di Uni Emirat Arab batal kami laksanakan.

15 Agustus 2008. Pertemuan dengan masyarakat Indonesia di UEA akhirnya dilaksanakan sambil makan pagi. Sebetulnya yang hadir tak terlalu banyak, hanya ada empat orang. Mereka datang dar Abu Dhabi, empat jam perjalanan mobil dari Dubai. Mereka ada yang bekerja di bidang IT, perminyakan, perawatan pesawat.

Yang menarik, ketika membahas kerjasama dengan Rumah Zakat, ada beberapa masukan. Pertama, tentang penempatan dai selama satu bulan penuh untuk berkeliling UEA. Kedua, mereka sangat tertarik dengan pola yang dikembangkan RZI dengan Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Malaysia. Kumaha, Pak Branata? Segera follow up?

Setelah makan siang, karena Jumat di UEA merupakan hari libur, akhirnya kami putuskan untuk segera ke Bandara Internasional Dubai. Selain ingin cepat check in, juga sekalian mengurus pengunduran jadwal tiket ke UEA dari Turki karena pertemuan dengan Yayasan Rasheed al-Maktoum urung diselenggarakan hari itu karena libur.

Setelah check in di bandara, kami kesulitan merubah jadwal penerbangan. Sampai saat menulis ini, kami masih mengusahakan agar ada solusi untuk kedatangan kami ke Yayasan Rasheed al-Maktoum Dubai, usai dari Istambul.

Di bandara, menuju Istambul turki, kami bertemu dengan peserta pertemuan dari Indonesia. Di antaranya, utusan dari JPRMI dan IQRA Club.

Perjalanan ke Istambul ditempuh sekitar empat jam. Kami sampai di Turki sekitar pukul 19.00 waktu Istambul. Di Turki sedang musim panas, jadi pukul 19.00 pun masih sangat terang benderang seperti di sore hari.

Sampai di Bandara Internasional Istambul, kesan tentang Turki langsung terbuka. Turki sering disebut Abu Syauqi—secara beliau pernah ke sini—sebagai kota yang luar biasa. Istambul saja, memiliki populasi penduduk 18 juta orang. Sementara total seluruh Turki sekitar 80 juta orang.

Istambul ditata sebagai kota yang apik dan baik, walau tidak seindah Singapura. Berbeda dengan Dubai, Bandara Istambul sederhana sekali, tetapi layanannya sangat baik. Bahkan menurut saya, layanan imigrasinya merupakan layanan imigrasi tercepat sepanjang saya melakukan perjalanan ke luar negeri.

Keluar dari bandara, kami dijemput oleh brother Enzar dan Bilal yang juga panitia kegiatan. Ternyata, panitia tidak menyediakan mobil penjemputan sehingga kami diajak naik trem—kereta api dalam kota. Luar biasa, hikmahnya adalah kami jadi lebih tahu tentang penduduk, sikap mereka, tatakota di Turki. Alhamdulillah, untung naik trem.

Dari trem, perjalanan dilanjutkan menggunakan taksi. Tidak berapa lama kemudian, kami sampai di asrama. Sebagai peserta Youth Camp, kami tidak ditempatkan di hotel tapi di asrama pria. Satu kamar diisi sampai enam orang. Kamar itu tanpa AC, toilet dipakau bareng-bareng dan kamar mandinya ngejajar. Asyiklah pokok nya.

Karena waktu terbatas, tanpa istirahat kami langsung menuju acara pembukaan resmi UNIW, Islamic Youth Summer Camp. Acara dihadiri oleh 22 negara dengan jumlah peserta sekitar 60. Dari daratan bekas Rusia, hadir negara Uzbekistan, Kazaktan dan Serbia.

Acara pembukaan berlangsung sampai pukul 23.00 dan dilanjutkan ke asrama karena kami sangat ngantuk. Akhirnya kami istirahat setelah perjalanan yang panjang.[]



Virda Dimas Ekaputra

Tags :
Donation Confirmation