CATATAN PERJALANAN MENYAMBANGI KOTA PARA SYUHADA

Oleh:

Dr.H. Dadang Rukanta. MKes. SpOT

Ketua Komite Keselamatan Pasien, Mutu dan Manajemen Resiko RS AL Islam Bandung

Hari itu tepatnya Senin (19/1), seorang teman dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) menghubungi saya. Tanpa banyak basi-basi, dia menawarkan saya untuk menjadi dokter relawan di Gaza Palestina. Saat itu adalah masa dimana Israel tengah melakukan agresi militer di jalur Gaza. Mendengar permintaan tersebut, saya berpikir sejenak. Lalu saya meminta izin kepada istri tercinta Enden Berlian Ikhwanti, SE untuk menunaikan amanah tersebut.

Wanita tercantik dalam hidup saya itu pun menyetujui. Tapi yang menjadi masalah adalah orangtua. Mereka takut saya terbunuh dalam perang itu. Namun setelah dijelaskan bahwa saya akan selalu berada di Rumah Sakit, mereka pun akhirnya mengizinkan. Kemudian bersama tujuh dokter dan dua staf dari BSMI, saya berangkat menuju Kota Gaza, Sabtu (24/1) dan tiba di Mesir pada Senin (26/1). Para relawan yang berasal dari Indonesia dan beberapa negara lainnya baru diizinkan untuk menyambangi perbatasan Kota Gaza dan Mesir keesokan harinya.

Tiba di Kota Syuhada

Suhu udara yang mencapai 14 derajat celcius menyambut kami saat memasuki Kota Gaza. Sisa-sisa bangunan yang hancur terkena bom menjadi pemandangan khas dan membuat kami miris. Namun adanya anak-anak Palestina yang pulang sekolah dengan ceria sama sekali tidak mencerminkan masa perang di Kota Gaza. Bagi mereka konflik dengan Israel adalah bagian dari keseharian. Saat memasuki Kota Gaza, entah mengapa saya tak merasakan sedang berada di luar negeri. Rasanya seperti sedang berada di tanah air sendiri saja. Oleh karena itulah saya merasa betah.

Tempat yang kami tuju adalah RS Shifa, sebuah rumah sakit terbesar di perbatasan Kota Gaza dan Mesir. Di sana kami bertemu dengan beberapa dokter yang berasal dari berbagai negara seperti Pakistan, Perancis, dan lainnya. RS Shifa adalah tempat yang paling aman di Palestina. Karena itu kami lebih memilih untuk tinggal di sana ketimbang di hotel.

Di RS Shifa, kami disambut dengan hangat oleh Dirjen Kesehatan dr. Midhad Abbas. Dia bercerita bagaimana hingga saat itu sebanyak 50 masjid telah hancur hingga kebiadaban Yahudi yang membom RS Veteran dan menewaskan para pejuang yang telah terluka. ”Bangsa Yahudi menganggap kami ini seperti hamster yang dapat menghasilkan banyak keturunan. Oleh karena itulah kami harus benar-benar dihabisi,” ujarnya.

Pemandangan yang menyayat hati kami terhampar di depan mata. Kekejaman Israel dalam menggunakan bom fosfor menyebabkan jatuhnya korban dari kaum Palestina. Meski demikian para keluarga yang mengantarkan korban tak bersedih karenanya. “Anak kedua saya telah syahid menyusul kakaknya yang telah lebih dulu syahid. Saya bangga dan bahagia karena itu,” ujar seorang laki-laki yang ditemui di RS Shifa.

Di hadapan seorang pejuang Hamas, kami tak kuat untuk menyampaikan kekaguman para semangat mereka dalam berjihad memperjuangkan tanah air dan juga agama Allah. Namun, sang pejuang malah tersenyum dan berkata, ”justru saya yang kagum pada kalian semua yang jauh-jauh datang ke sini untuk menunjukan simpati pada kami. Sesungguhnya itulah jihad yang sebenarnya”.

Mendengar perkataan itu saya jadi bersemangat dalam menjalankan tugas saya sebagai relawan di sini. Sebagai dokter spesialis orthopedi, saya harus menunaikan kewajiban untuk membantu saudara sesama muslim. Saya berharap bantuan yang saya berikan dapat sedikit meringankan beban mereka.

Kami menyadari bahwa bantuan yang diberikan oleh masyarakat dari seluruh penjuru dunia untuk Palestina sangatlah berharga. Mereka memang tak memiliki apapun termasuk makanan. Sebab Palestina sangat kaya akan bahan pangan. Namun para pejuang di tanah Gaza sangat berbahagia bila saudara-saudara dari negara lain ikut merasakan semangat dan memiliki rasa simpati yang besar untuk mereka.

Beberapa hal menjadi pelajaran berharga bagi saya dan seluruh rekan yang ada di sana. Meski penduduk Palestina jauh lebih sedikit daripada warga Indonesia yakni hanya sekitar 1,5 juta jiwa, namun mereka memiliki semangat yang luar biasa. Contohnya saja target mereka untuk mencetak hafidz Al Quran sebanyak 60.000 orang per bulan.

Semangat dari para mahasiswa Islamic University of Gaza (IUG) perlu dicontoh oleh kaum intelektual di negara kita. Meski ada dua bangunan di kampus tersebut yang rusak berat, yakni perpustakaan pusat dan laboratorium diagnostik, namun mereka tetap menjalankan aktivitas belajar di sana. “Kami akan bangun lagi dan terus maju. Kami tidak akan pernah musnah,” ujar Dekan IUG.

Selain itu efisiensi dan efektivitas dari warga Gaza sangat patut dalam menggunakan sumber daya yang ada patut untuk ditiru. Meski mereka memiliki terowongan pensuplai kebutuhan warga gaza, tapi pada umumnya mereka mengelola kebutuhannya sendiri, seperti makanan dan buah-buahan.

Saatnya Kembali

Setelah menghabiskan sembilan hari di tengah tanah perjuangan, saya bersama seluruh penghuni RS Shifa harus segera keluar dari rumah sakit tersebut, Kamis (5/2). Jika ingin selamat, semua penghuni RS. Shifa harus segera keluar dari sana. Maka saya dan seluruh relawan memutuskan untuk berangkat menuju Mesir.

Alhamdulillah pada Minggu (8/2), saya kembali menginjakan kaki di Indonesia. Namun saat ini saya tengah merindukan tanah para syuhada. Sehingga jika suatu saat nanti saya kembali terpilih untuk membantu masyarakat Palestina maka kesempatan itu tak akan saya sia-siakan. Gaza itu seperti tanah suci kedua setelah Mekkah untuk saua. Karena itu barangsiapa yang sudah pernah menyambangi kota tersebut, niscaya dia akan ingin kembali lagi dan lagi.#

 

Tags :
Donation Confirmation