EKSPEDISI SUPERQURBAN DI SALAPPA, MENTAWAI

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

MENTAWAI. (01/08) Salappa’ adalah sebuah dusun didesa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Menuju kesana diperlukan waktu dua hari dengan menempuh perjalanan udara Jakarta-Padang selama 2 Jam, Perjalanan darat Padang-Pelabuhan selama 30 menit diikuti menyebrang laut selama 8 jam hingga sampai kota Kecamatan Siberut Selatan. Berikutnya harus dilanjutkan dengan menggunakan kapal kecil yang disebut Pong Pong selama 4-6 jam bergantung pada kering atau tidaknya sungai saat itu. Semakin banjir, semakin banyak air maka semakin cepat perjalanan. Atau memilih jalan darat dengan berjalan kaki naik turun bukit yang bisa ditempu selama 12 jam dari kota Kecamatan.

Salappa’ , desa terisolir yang tidak memiliki listrik atau sinyal telepon seluler ini memiliki 86 KK dan 400 jiwa. Mereka tinggal dirumah-rumah panggung kayu yang akan diterpa banjir jika curah hujan tinggi. Disana terdapat puskesmas pembantu yang diami 1 perawat dan 1 bidan secara bergantian, 1 Sekolah dasar, dan 1 balai pustaka. Mata pencaharian warga Salappa’ tidak tentu, kadang menjadi supir Pongpong jika ada tamu dan memiliki pong pong, kadang bertani namun hasil taninya tidak bisa dijual hanya bisa dimakan sendiri, atau berternak untuk bekal anaknya sekolah SMP dan SMA di Kota Kecamatan.

Sehari-hari warga Salappa’ hanya memakan sagu dengan lauk seadanya seperti sayur daun sagu atau sayur kangkung. Sulit sekali makan nasi disana karena harga beras sangat mahal dan mereka tidak bisa menanam padi. Sayurpun harus mereka petik ke hutan sebelum di masak. Terkadang, jika ingin memakan daging, mereka berburu tupai dan rusa dihutan dan lebih sering harus menahan sabar dengan hanya memakan ulat kayu.

Daging adalah suatu kemewahan bagi mereka ketika hari besar atau acara-acara besar. Krisis air bersih membuat mereka harus mandi dengan air sungai kecoklatan atau air sumur hijau keunguan yang berbau. Oleh karena itu, ketika memasak air mereka menggunakan daun yang diambil dari gunung sehingga air tidak berbau dan berwarna.

Ketika Relawan Rumah Zakat datang berkunjung, warga Salappa’ langsung menyambut dengan antusias. Dengan segala keterbatasan yang ada mereka masih dengan lapang hati menampung para relawan untuk beristirahat di rumah mereka. Selain itu Relawan juga memberikan Kornet dan Rendang Superqurban untuk warga Sallapa. Warga pun senang menerima Superqurban pasalnya mereka misa makan daging sebagai lauk mereka.

“Terimakash sekali ya Rumah Zakat” ujar salah satu warga

Newsroom
Izzatul Yazid / Rizal

 

Tags :
Donation Confirmation