GAYA HIDUP SEHAT SETELAH BERPUASA

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Ahli gizi FKKMK UGM, Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, menilai, setelah Lebaran sebaiknya pola makan perlu diperhatikan. Sebab, lambung masih dalam penyesuaian usai berpuasa selama 30 hari.

“Saat puasa, banyak terjadi perubahan pola makan, baik itu dari sisi jam, frekuensi, jumlah, dan jenis makanan,” kata Mirza di Departemen Gizi Kesehatan FKKMK UGM, Jum’at (31/5) lalu.

Misal, dari sisi jam makan yang tadinya bisa makan makanan kecil dengan bebas sehingga berkurang saat berpuasa. Lalu, jumlah makan yang berubah dalam sekali makan hanya dalam porsi kecil.

Selain itu, jenis makanan yang dikonsumsi lebih banyak buah dan minuman segar saat berbuka. Sekretaris Program Studi S1 Gizi Kesehatan UGM ini membagikan saran-sarannya.

Pertama, lakukan penyesuaian secara perlahan-lahan dari bulan puasa ke pola makan rutin biasa. Sebab, adaptasi lambung kembali normal mencerna membutuhkan waktu sekitar satu pekan.

Kedua, Mirza meminta masyarakat untuk tidak kelewatan batas saat tidak lagi puasa. Banyak yang menyebutnya ‘balas dendam’ atau makan dengan melahap porsi yang jauh lebih besar.

“Jangan kalap, semua makanan dimakan,” ujar Mirza.

Tidak dimungkiri, saat Lebaran banyak disajikan makanan lezat seperti aneka macam olahan daging dan kue-kue manis. Saat silaturahmi, makanan-makanan itu banyak disuguhkan.

“Memang yang paling berat saat silaturahmi ke keluarga akan ditawari makan berat, usahakan tetap makan sebagai bentuk penghormatan, tapi dalam porsi sedikit, jangan porsi makan umumnya,” kata Mirza.

Sedangkan, untuk camilan kue-kue kering, sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering layaknya makan kacang. Sebab, kue-kue kering seperti nastar dan kastangle memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi.

Ada pula peringatan bagi yang memiliki pembatasan lemak seperti penderita diabetes. Utamanya, dengan komplikasi, jantung dan hiperkolesterolemia yang diharapkan menghindari makanan berlemak.

Ketiga, Mirza menyarankan masyarakat untuk menyediakan buah-buahan dan sayuran untuk menjamu orang dengan masalah pembatasan lemak. Terlebih, banyak buah tidak disuguhkan saat itu.

“Padahal, buah harus dijadikan sumber utama saat konsumsi makanan sehingga usahakan selalu ada di setiap menu makan,” ujar Mirza.

Keempat, Mirza mengatakan, selain terjadi perubahan pola makan, saat berpuasa menyebabkan perubahan pola tidur. Jam tidur di bulan puasa berkurang karena banyak dilakukan aktivitas keagamaan.

Itu yang membuat usai bulan kualitas jam tidur perlu dipertahankan. Selanjutnya, kembali berolahraga, sebab banyak orang berhenti melakukan olah raga ketika bulan Ramadhan.

Menurut Mirza, itu perlu dilakukan. Terlebih, kebanyakan pasiennya justru mengalami penambahan berat badan sekitar 3-4 kilogram setelah Ramadhan.

“Memang saat puasa bisa menurunkan berat badan 2-3 kilogram, tapi setelah Ramdhan bisa naik 3-4 kilogram dalam 1-2 hari saja,” kata Mirza.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Donation Confirmation