HIKMAH IDUL FITRI

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Oleh: Imron Baehaqi

Ada dua hari raya bagi umat Islam, yaitu Idul fitri dan Idul Adha. Umat Islam, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semuanya diperintahkan supaya merayakan kedua hari raya tersebut dengan kegembiraan dan sukacita. Ibn Abbas mengisahkan, Rasulullah senantiasa keluar rumah menuju lapangan untuk shalat bersama istri-istri dan anak-anaknya pada dua hari besar umat Islam tersebut.

Saat ini kegembiraan itu kembali menyelimuti umat Islam karena menyambut hari raya Idul Fitri. Setelah satu bulan penuh berada di terminal spiritual, menunaikan kewajiban ibadah puasa Ramadhan juga amalan ibadah lainnya, baik yang fardu maupun yang sunah.

Momentum Idul Fitri menjadi sesuatu bagi orang-orang yang beriman. Ketibaannya selalu memberikan hikmah dan pelajaran berharga. Pertama, penguatan pengakuan atas besarnya nikmat iman dan Islam. Status iman dan Islam ini merupakan bagian daripada puncak kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang Mukmin.

Dengan nikmat iman dan Islam ini, seseorang berada pada derajat yang tinggi dan mulia. Karena itu, orang-orang beriman sepatutnya merasakan kegembiraan, tidak merasa hina, dan tidak pula bersedih (QS Ali Imran [3]:139).

Kedua, tumbuhnya kesadaran secara total bahwa bekal yang terbaik bagi orang-orang yang beriman adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Jika ajaran Islam dikenal dengan tiga dimensi, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan, sifat takwa merupakan integralisasi ketiga dimensi tersebut.

Pada hari raya Idul Fitri, barometer kegembiraan kita yang paling penting adalah kesuksesan memperoleh predikat takwa sebagai tujuan daripada ibadah yang disyariatkan, khususnya ibadah puasa Ramadhan.

Ketiga, pentingnya menjaga hubungan baik (silaturahim) di antara sesama manusia. Suasana hari raya Idul Fitri mampu menumbuhkan dan menguatkan nilai persatuan dan persaudaraan. Lebih-lebih nilai persatuan dan persaudaraan tersebut diikat dengan kesamaan agama dan hubungan keluarga.

Oleh sebab itu, saling mengunjungi antara tetangga dan keluarga adalah anjuran yang sangat baik dalam upaya mengokohkan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. Demikian juga, sikap saling meminta maaf dan memaafkan, tentunya menjadi bagian dari perbuatan yang terpuji yang diperintahkan dalam Islam.

Mampu mengendalikan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, keduanya adalah di antara ciri orang-orang yang bertakwa yang mengundang cinta Allah SWT (QS Ali Imran [3]:134).

Selain itu, pada hari raya kemenangan ini, kita juga mestinya disadarkan tentang bahaya dan buruknya sifat-sifat tercela, seperti takabur, iri, dengki, dendam, bohong, curang, tamak, ria, mencela, dan sifat buruk lainnya.

Semua akhlak buruk tersebut adalah sebagai bentuk perbuatan dosa yang menyebabkan banyak kerugian, di antaranya ialah penghalang turunnya rahmat Allah dan penutup pintu rezeki. Di samping itu, sifat-sifat tercela ini menjadi penyebab rusaknya bangunan persatuan dan persaudaraan di antara sesama umat.

Demikianlah di antara hikmah Idul Fitri yang saat ini kita semua masih dalam suasana kebahagiaan lahir dan batin. Energi positif dari momentum Ramadhan dan Idul Firti ini hendaklah terus dilestarikan, sekaligus menjadi kekuatan serta modal dalam menjalani kehidupan 11 bulan yang akan datang.

Tentu saja kita berharap agar dapat bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun-tahun yang akan datang. Selamat hari raya Idul Fitri, semoga Allah menerima segala amal ibadah yang kita kerjakan sehingga ampunan, rahmat, dan keberkahan menyertai kita semua. Wallahu al-Musta’an.

sumber: republika.co.id

Tags :
Donation Confirmation