[:ID]IMPLIKASI IMAN[:en]IMPLICATIONS OF IMAN[:]

[: ID]Oleh: Fauzan

Iman kepada Allah SWT memberikan pengaruh besar pada tingkah laku seseorang. Ia bagaikan perisai yang menyelimuti hati dari setiap dorongan hawa nafsu.

Orang yang benar-benar beriman merasa bahwa Allah SWT selalu mengawasi dan selalu ada di setiap langkahnya hingga dia akan malu jika hendak berbuat maksiat.

Iman seperti ini bukanlah iman dalam pengertian sederhana, yaitu hanya sekadar tahu bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Tapi, sebuah keyakinan yang didasari penghayatan bahwa Tuhan benar-benar ada dan mengawasinya setiap saat.

Sebagai gambaran, misalnya, seorang pencuri tak akan pernah menghiraukan ancaman petugas walau terus memburu dan mengawasi gerak-geriknya. Bahkan, ia akan terus mencari celah kesempatan melancarkan aksinya.

Tapi, bila timbul rasa sadar karena merasa diawasi Allah SWT, kemungkinan besar perbuatan tercela itu akan ditinggalkannya. Sebab, dia yakin tak ada celah sedikit pun untuk melepaskan diri dari pengawasan-Nya.

Ini merupakan gambaran bahwa iman menjadi kunci terciptanya kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera. Dengan memantapkan keimanan terhadap Allah SWT, perbuatan dan tingkah laku kita akan selalu diarahkan pada yang diridhai-Nya.

”Tak akan berzina seorang pezina ketika hendak berzina dia beriman. Tak akan meminum khamr seorang peminum ketika hendak minum dia beriman. Tidak akan mencuri seorang pencuri ketika hendak mencuri dia beriman.” (HR Bukhari).

Namun, kesulitan yang sering dihadapi adalah intensitas iman kadangkala naik dan turun. Keadaan seperti ini mengharuskan kita terus berusaha menjaga keimanan agar tetap stabil.

Untuk itu, kita harus memperbanyak zikir kepada Allah SWT, baik siang maupun malam. Berzikir kepada Allah SWT bukan hanya dilakukan di waktu shalat, tapi juga dalam berbagai hal, baik ketika duduk, tidur, maupun berdiri.

”Maka, bila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring.” (QS Annisa [4]: 103).

Ada yang memahami berzikir sebatas ritual, yaitu dengan membaca kalimat tahlil, tahmid, dan tasbih. Namun, pengertian zikir yang paling utama dan substansial adalah mengingat Allah SWT sebagai bentuk kesadaran hati terdalam bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya.

Berzikir seperti ini dilakukan dalam setiap kesempatan dengan cara merenungi karunia Allah SWT, mengingat-ingat keagungan-Nya yang tertuang di dunia ini. Dengan demikian, akan muncul kekaguman dan kecintaan terhadap Allah SWT.

”Dan, sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang. Dan, janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf [7]: 205).

Source: republika.co.id

[:en]By: Fauzan

Iman or faith to Allah SWT gives a big influence on someone’s behavior. He is like a shield that envelops the heart of every impulse.

A truly believer feels that Allah is always watching and is always there at every step so that he will be ashamed if he wants to do immoral acts.

This kind of iman is not an iman in the simplest understanding and that is to just know that there is no god but Allah SWT. But, a belief based on the appreciation that God really exists and watches him at any time.

As an illustration, for example, a thief will never ignore the threat of officers even though he continues to hunt down and monitor his movements. In fact, he will continue to look for opportunities to launch his action.

But, if a sense of awareness arises because he feels that he is being watched by Allah SWT, he will most likely abandon this disgraceful act. Because, he believes there is not the slightest gap to escape from his supervision.

This is a picture which iman is the key to the creation of a safe, peaceful, and prosperous life. By establishing faith in Allah SWT, our actions and behavior will always be directed towards His pleasure.

“There will not be an adulterer when an adulterer wants to commit adultery he has faith. Will not drink khamr a drinker when he wants to drink he believes. It will not steal a thief when he wants to steal his faith. “(HR Bukhari).

However, the difficulty often faced is that the intensity of iman sometimes go up and down. Circumstances like this require us to continue to try to maintain our iman in order to remain stable.

For that, we must multiply dhikr to Allah SWT, both day and night. Remembrance of Allah SWT is not only done at the time of prayer, but also in various ways, both when sitting, sleeping, and standing.

“So, if you have completed your prayer, remember Allah when you stand, when sitting, and while lying down. ” (QS Annisa [4]: ​​103).

There are others who understand dhikr is limited to ritual, that is by reading the sentence tahlil, tahmid, and prayer beads. However, the most important and substantial understanding of remembrance is to remember Allah SWT as the deepest form of awareness of the heart that everything in this world belongs to Him.

Remembrance like this is done on every occasion by contemplating the gift of Allah, remembering His majesty contained in this world. Thus, there will be awe and love for Allah SWT.

“And, say (the name) your Lord in your heart by humbling yourself and fear and by not raising your voice in the morning and evening. And, do not be among those who are negligent. “(QS Al-A’raaf [7]: 205).

Source: republika.co.id[:]

Tags:
Donation Confirmation
en_USEnglish
id_IDBahasa Indonesia en_USEnglish