KEUTAMAAN PUASA SYAWAL

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Oleh: Mahmud Yunus

Atas izin Allah SWT kita telah melaksanakan puasa Ramadhan tahun ini tanpa kendala yang berarti. Semoga Allah menerima puasa kita. Semoga pula Allah menerima segala ibadah Ramadhan kita. Amin. Salah satu fungsi puasa adalah sebagai perisai. Rasulullah SAW bersabda, “Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?” (Lalu beliau bersabda,) “Puasa adalah perisai.” (HR Tirmidzi). Syekh Nashiruddin al-Albani mengatakan hadis ini sahih.

Dalam hadis ini Rasulullah SAW tidak menyebutkan secara spesifik apakah puasa yang dimaksudkannya itu puasa wajib atau puasa sunah. Oleh karena itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa puasa wajib dan puasa sunah dapat difungsikan sebagai perisai.

Merujuk pada hadis ini puasa adalah perisai bagi orang Islam yang melaksanakannya, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa merupakan perisai dari kemaksiatan, sedangkan di akhirat, ia merupakan perisai dari azab neraka.

Dalam hadis qudsi Rasulullah SAW bersabda, “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku akan memberi petunjuk pada pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang dia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang dia gunakan untuk melangkah/berjalan. Jika dia memohon sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya. Jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya.” (HR Bukhari).

Itulah di antara keutamaan ibadah sunah termasuk puasa sunah. Adapun salah satu puasa sunah pada (bulan) Syawal adalah puasa enam hari. Hal ini disandarkan pada sabda Rasulullah SAW dari Abu Ayyub al-Anshari, beliau bersabda, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan lantas berpuasa enam hari pada Syawal maka dia laksana berpuasa setahun.” (HR Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Menurut riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, puasanya menjadi sempurna setahun (penuh).” (HR Nasa’i dan Ibnu Majah). Allah berfirman, “Barang siapa mengerjakan kebaikan, baginya balasan 10 kali lipatnya.” (QS al-An’am [6]: 160).

Mengutip keterangan Syekh Muhammad Nawawi al- Bantani dalam Syarh Muslim, “Ulama mazhab Syafi’i berpandangan bahwa puasa enam hari pada Syawal paling utama/afdal dilaksanakan secara berturut-turut setelah Idul Fitri. Namun, jika tidak secara berturut-turut (setelah Idul Fitri) atau dilaksanakan hingga akhir Syawal pun tetap akan mendapatkan keutamaan puasa Syawal sepanjang sebelumnya telah melaksanakan puasa Ramadhan.”

Menurut Ibnu Rajab al-Hambali, keutamaan puasa enam hari pada Syawal antara lain menggenapkan pahala puasa Ramadhan menjadi setahun penuh. Selain itu, kedudukan puasa sunah pada Sya’ban dan Syawal ter hadap puasa Ramadhan untuk menutupi kekurangan yang mungkin terjadi pada pelaksanaan puasa Ramadhan.

sumber: republika.co.id

Tags :
Donation Confirmation