KISAH INTAN PENERIMA BEASISWA CERIA DARI RUMAH ZAKAT

BANDUNG. Intan, salah satu penerima Beasiswa Ceria dari Rumah Zakat, menuturkan kisahnya pada Rumah Zakat Bandung, (20/1).  Sejak Tahun 2008 hingga sekarang, ia duduk di kelas XI SMAN 9 Bandung.  Intan  menerima beasiswa Ceria dari Rumah Zakat sejak usia 17 tahun. Putri bungsu yang sudah ditinggal almarhum ayahnya 5 tahun silam, sementara ibunya yang sudah tua dan berjualan jamu sudah kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah. Kini ia tinggal bersama kakaknya disebuah kamar kontrakan tidak jauh dari bantaran sungai Cikapundung, Jl. Cihampelas No. 176/125 RT 06 RW 15 Kel. Taman Sari Kec. Bandung Wetan Kota Bandung.

Ia masih mengenang masa-masa indah berkumpul tinggal bersama keluarga, dan menjadi pukulan ketika ayahnya meninggal dan ibunya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Rumah sederhana yang terkena proyek jalan flyover Pasopati harus direlakannya di jual.

Keadaan seperti inilah yang terkadang membuatnya minder jika ada temannya yang ingin belajar bersama di rumahnya. “Bukannya tidak mau, tapi kasihan disini sempit, hanya untuk tidur saja” kenangnya. Ini juga menjadikan ibunya memutuskan untuk pulang kampung, khawatir proses belajar putri bungsu-nya tertanggu, meski berat Intan meng-iyakan keinginan ibunya ini.

“Ibu sering menjenguk kesini atau saya yang pulang kampung kalau sedang liburan”, kata Intan.

Berawal dari informasi temannya, Intan hanya coba-coba saja mendaftarkan diri mengikuti program Beasiswa dari Rumah Zakat. Tidak lama dari itu Intan berkesempatan mendapat beasiswa yang diberikan Rumah Zakat hingga sekarang. Ada yang membuatnya bahagia setelah menjadi anak asuh Rumah Zakat, “ Bukan hanya beasiswa saja tapi mendapat pembinaan juga dari kakak mentor,” tutur Intan. “Ternyata pembinaan ini bisa menambah rasa percaya diri,” tambahnya.

Setelah sekian lama mendapat pembinaan dan beasiswa dari Rumah Zakat, ada banyak perubahan yang dirasakan Intan. Setidaknya memberikan semangat kembali dalam menjalani hidup yang sebelumnya senantias diliputi rasa bersedih.

Selepas pulang sekolah, Intan banyak menyibukan kegiatan ekstrakuliler di sekolah, keinginannya untuk ikut les diluar sekolah nampaknya belum cukup untuk diwujudkan, faktor biaya tambahan menjadi kendalanya. Membaca novel, buku motivasi dan sejarah menjadi santapannya sehari- hari, “Kegatan ini menjadi hiburan bagi saya jika teringat ibu di kampung”, katanya.

Intan sangat menyadari perjalanan hidupnya masih panjang, meskipun sekarang kondisinya jauh dari nyaman bukan berarti harapan itu redup. Banyak sekali rintangan dan hambatan yang harus dilaluinya, yang membuat ia bahagia justru ketika berkumpul bersama temannya dalam pembinaan mentoring Rumah Zakat.

Ada satu cita-cita yang memjadi pembangkit motivasi belajarnya, “Saya ingin membangunkan lagi rumah untuk ibu, supaya bisa berkumpul lagi dan ibadah haji bersamanya”, ujar Intan penuh semangat. Ia pun mengakui beasiswa ini sangat membantu mewujudkan harapanya dimasa mendatang. ***

Newsroom/Yudi Juliana
Bandung

Tags :
Donation Confirmation