LANGKANYA PENGRAJIN JINTEUN

BANDUNG. Jinteun, makanan khas dari Banjaran Kabupaten Bandung, makanan ringan berupa kerupuk yang terbuat dari tepung kanji. Tidak tahu siapa yang memulainya, tapi sudah terkenal di masyarakat Bandung, namun pengrajin jinteun masih terbilang langka, karena proses pembuatannya yang cukup rumit. Salah satunya Nana (53), warga Kebon Kalapa RT 1/RW 8 desa Marga Hurip Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, sudah 15 tahun menggeluti usaha ini. Setiap hari ia mengolah adonan jinteun hingga 30 Kg, namun selama itu pula, biaya yang digunakan untuk produksi, Nana masih berhutang, gali lobang tutup lobang. Karena itulah usahanya kurang berkembang dengan baik, peralatan pun masih mengunakan peralatan lama dan tidak ada penambahan produksi.

Dalam 5 tahun pertama, Nana bisa mempekerjakan lebih dari 10 orang karyawan, namun karena harga bahan baku yang terus naik dengan tidak diiringi nilai jual, terpaksa ia harus mengurangi pegawainya. Hingga sekarang ia hanya dibantu oleh istri dan kedua anaknya. Meski demikian keinginannya untuk memberdayakan masyarakat kampung bisa terwujud, ia berfikir usahanya bukan hanya untuk keluarga semata, tapi tetangga pun harus ikut merasakannya. Tapi apa daya, impiannya itu masih belum bisa digapai.

Kehadiran Rumah Zakat 2 tahun yang lalu, memberikan angin segar bagi Nana, sedikit demi sedikit usahanya merangkak naik. Hingga sekarang Nana tidak lagi gali lobang tutup lobang. Selain suntikan dana, Rumah Zakat pun memberikan bimbingan dan pembinaan usaha untuk kemajuan produksi jinteun miliknya. Menurut Deni Wahyudin, Mustahik Relation wilayah Bandung Selatan, bantuan ini untuk mengembangkan usaha jinteun sekaligus melestarikan makanan ringan tradisional dari Banjaran. Produksi Usahanya ini masih terbilang langka, bahkan Nana menjadi satu-satunya pengrajin jinteun rumahan di Banjaran.

Memang banyak yang belajar dari Nana, tetapi masih belum ada yang bisa mengikuti jejaknya. Proses yang rumit dan perlu waktu lama untuk menghasilkan olahan makanan jinteun yang diharapkan. “Banyak yang belajar kesini, tapi mereka mengeluh karena hasilnya kurang baik,” ujar Nana. Membuat jinteun ini perlu kesiapan mental, tidak bisa sekali produksi langsung jadi, karena takaran adonan serta waktu yang tepat menjadi kunci keberhasilan. Mereka yang pernah belajar disini biasanya sudah menyerah ditengah jalan.

Dalam satu bulan setelah mendapat pembinaan dan bantuan dari Rumah Zakat, Nana bisa mengasilkan keuntungan bersih Rp3000.000, dan usahanya terus berkembang. Kalau sebelumnya hanya di Bandung Selatan, kini pasarnya sudah meluas hingga pusat kota Bandung. ***

Newsroom/Yudi Juliana
Bandung

Tags :
Donation Confirmation