LEBIH DARI SEKADAR PERSAHABATAN

oleh: Muhammad Haden Aulia Husein

“Harapan itu adalah : hendaknya anda menyertai kami dengan jasad anda, jiwa, hati dan akal” (Abdulloh Abdur Robbi Rosul Sayyaf: Akhy Al Muslim).

Eksistensi komunitas dunia maya yang ramai hadir untuk mengartikan nilai dan norma dalam persepsi mereka sendiri. Kesamaan identitas tentu menjadi alasan terbesar sekelompok orang membentuk sebuah komunitas. Kelahiran sebuah komunitas bisa lahir karena berbagai alasan, bisa karena kesamaan hobi, daerah, almamater, gender, bahkan karena kesamaan visi individu. Setelah komunitas tersebut terbentuk, visi individu yang bersifat pribadi akan disublimasikan bersama menjadi visi komunitas. Keburukan moral individu yang tidak terkendali dapat serta merta membentuk karakter komunitas menjadi superior terhadap individu atau komunitas lain. Hal ini tentu harus dihindari oleh komunitas manapun karena memiliki komunitas yang produktif akan lebih bermakna daripada sebuah keantagonisan kelompok.

Dalam sejarah kehidupan manusia, persahabatan merupakan salah satu metode klasikal dalam interaksi sosial. Ia menekankan aspek hubungan intrapersonal sebagai upaya mencapai komunikasi efektif karena nilai yang dikandung lebih bernuansa personal dan menyokong suasana hati. Persahabatan yang awalnya hanya mengenal akan berkembang dan melahirkan kepercayaan antar sesama. Persahabatan juga tidak selamat dari kecacatan. Ia mungkin saja diwarnal perbedaan, pertengkaran sebagai bumbu. Di dalamnya mungkin saja akan terjada pelalaian janji bahkan hubungan cinta nafsu dengan topeng persahabatan.

Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, Islam telah memiliki aturan tersendiri mengenai persahabatan ini. Tak jauh-jauh, orang-orang yang dekat, mengenal, dan berada pada zaman Rosulullah SAW selalu disebut sahabat. Pastilah agama yang meninggikan perdamaian ini memiliki norma lengkap untuk mengurusi hubungan Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Persaudaraan aqidah menjadi konsep terpenting yang ditanamkan Islam dalam mengatur persahabatan. Hal ini lebih sering kita dengar dengan sebutan ukhuwah. Tindakan terrendahnya adalah berbaik sangka kepada sesama dan puncaknya ada pada itsar, mendahulukan kepentingan saudara dari kepentingan pribadi.

Kemerduan persaudaraan ini sepatutnya didominasi oleh suasana bening dengan kelapangan hati dan rasa kebersamaan yang lebih. Seperti yang disampaikan Hasan Al Banna,

“Saudara yang lurus memandang para saudaranya lebih utama daripada dirinya sendiri. Seandainya ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan bersama siapa-siapa. Sebaliknya bila mereka tidak bersamanya, maka mereka akan dapat bersama orang lain.”

Betapa bahagianya diri kita jika memiliki hal ini. Hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan ini akan dengan mudah mentautkan kembali hati yang berselisih, jiwa yang sempat membenci. Ia memiliki daya dobrak bernama rasa cinta dengan landasan iman yang berarti kecintaan kepada orang lain berdasarkan kecintaannya karena Allah SWT. Apapun yang mereka harapkan, kelak menjadi langkah besar yang berarti bagi kehidupan karena harapan mereka adalah harapan yang berasal dari hulu yang sama yaitu Islam.

“Mereka orang-orang yang saling mencintai dengan Ruh Alloh, bukan karena hubungan sedarah atau kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Alloh, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang ketakutan dan tidak akan bersedih bila ummat manusia bersedih,” (H.R. Ahmad).

Tags :
Donation Confirmation