#Love4Syria : MERENGKUH KEBAIKAN NEGERI SYAM

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

طُوبَى لِلشَّامِ. فَقُلْنَا : لأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : لأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا
“Kebaikan pada negeri Syam”. Kami bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?”, Beliau bersabda, “Karena Malaikat rahmah (pembawa kebaikan) mengembangkan sayap di atasnya.”
(Shahih, HR. Tirmizi, no. 3954, Ahmad, 35/483. Dishahihkan oleh Imam Al-Arna’ut, Al-Albany, dan lain-lain. As-Silsilah As-Shahihah no. 503)

#Love4Syria MERENGKUH KEBAIKAN NEGERI SYAMSYRIA. Tanggal 19 Desember 2016, Whatsapp saya berdering tak henti, tanda ada telepon masuk. Ternyata, itu dari Kang Wildan, teman satu rumah saya di Turki yang saat ini sedang mengambil persiapan Bahasa untuk persyaratan melanjutkan studi masternya. Tanpa banyak basa basi, Kang Wildan langsung menanyakan kesediaan saya untuk ikut menjadi tim relawan mewakili Rumah Zakat yang akan mengunjungi lokasi-lokasi pengungsian Suriah, sekaligus menjadi penerjemah bahasa Turki dalam pertemuan yang akan dilakukan Rumah Zakat dengan NGO lokal.

Seketika saya langsung terbayang kondisi warga Suriah yang beberapa bulan terakhir ini saya sering lihat di media sosial. Ada perasaan hangat yang mendorong saya untuk segera menjawab, “Ya, insyaAllah, saya bisa,”.

Bulan Desember menjadi awal musim dingin di Turki. Meski Istanbul, kota tempat saya tinggal, bukanlah kota terdingin di Turki, tapi tetap saja saya perlu mempersiapkan berbagai hal agar tidak kedinginan saat aksi. Jaket, kupluk, syal dan sepatu boot menjadi barang wajib.

“Untuk aksi ini saya bisa mempersiapkan semua kebutuhan agar jangan sampai kedinginan. Lalu, bagaimana dengan para pengungsi Suriah di perbatasan Turki? Apakah mereka punya baju hangat? Adakah selimut untuk mereka tidur?” hati saya meracau sendiri menatap perlengkapan yang saya siapkan.

Singkat cerita, saya bersama Kang Wildan dan Kang Herlan yang datang langsung dari Rumah Zakat di Indonesia berkunjung ke kantor NGO lokal untuk menyampaikan maksud dan tujuan serta ajakan bersinergi dalam penyaluran bantuan bagi pengungsi Suriah. Dari pertemuan itu, kami menyepakati kapan dan apa saja bantuan yang akan diberikan serta bagaimana proses penyalurannya. Kami pun memutuskan berangkat menuju kota Gaziantep untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota Kilis, kota dimana pos penampungan pengungsi Suriah berada.

Melalui Bandara Sabiha Gokcen di Istanbul, kami terbang ke kota Gaziantep, melintasi langit Turki selama kurang lebih 1 jam 15 menit. Begitu tiba di kota Gaziantep, kami disambut daratan putih karena salju yang turun semalaman. Dari Bandara Gaziantep, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Kilis sekitar 40 menit untuk mengunjungi kantor perwakilan NGO lokal yang bersinergi di sana.

Sesampainya di kota Kilis, kami langsung  mengunjungi posko pengungsian Oncupinar yang lokasinya bersebelahan dengan tembok perbatasan Turki-Suriah. Untuk bisa masuk, kami harus melewati berbagai prosedur perizinan dari pemerintah setempat. Di sana, kami bertemu dan bercengkrama dengan anak-anak Suriah.

Menjelang sore, kami diantar ke kota Reyhanli untuk mengunjungi beberapa lokasi pengungsi Suriah. Salah satu yang kami kunjungi adalah tempat pendidikan anak-anak Suriah yang ayahnya atau kedua orang tuanya telah syahid.

Bercengkrama dengan anak-anak di dua lokasi pengungsi Suriah ini menjadi pengalaman baru bagi saya. Pasalnya, saya tidak begitu pandai berinteraksi dengan anak-anak. Selain karena saya memang kaku, saya pun memiliki keterbatasan dalam berbahasa Arab.  Namun, saya pikir kesempatan untuk bisa bercengkrama dengan anak-anak dari negeri Syam ini belum tentu datang dua kali. Berapa banyak orang yang sangat ingin bertemu dengan anak-anak ini, ingin memeluk, ingin bercanda bahkan tak sedikit yang ingin bisa mengadopsi. Maka, saya tak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka.

Di Posko Pengungsi Reyhanli, saya coba memberanikan diri memberi salam kepada anak-anak Suriah. Tak disangka, mereka menjawab salam saya dengan kompak. “Awal yang bagus,” kata saya dalam hati. Saya tanya nama, dan umur mereka, mereka pun menjawab semua pertanyaan saya dengan semangat. Selepas itu saya terdiam… tak tahu harus berbicara apalagi. “Ahhh selalu begini, saya tak pandai bercengkrama,” batin saya.

Karena saya jadi bingung sendiri mau bicara apalagi, akhirnya saya dekati anak-anak yang sedang bermain lego di pojokan, saya ambil satu balok lego dan mencoba menyusunnya di tumpukan balok yang mereka buat. Mereka hanya memandang saya sesaat dengan wajah datar, mungkin bingung kenapa orang asing tiba-tiba ikut gabung. Saya pun berekspresi  seakan saya heran, mengerutkan dahi dan menatap mereka. Saya coba bicara apa yang ingin saya bantu untuk mereka.

“Bait,” kata saya, mencoba menerangkan rumah yang saya buat. Mereka mengangguk, tanda mengerti.

Teman saya yang lain mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku diantara kami. Dia bermain kejar-kejaran dengan anak-anak. Terdengarlah teriakan-teriakan dan tawa riang dari dalam ruangan. Teman saya berhasil menangkap satu anak, lalu anak lainnya berusaha membantu temannya yang tertangkap dengan memukul-mukul teman saya.

Saya hanya melihat pemandangan itu. Tak ikut serta dalam keramaian. Lagi-lagi, karena saya tak pandai bermain dengan anak-anak seperti teman saya.

Hingga tiba-tiba ada pukulan kecil di lengan. Anak-anak yang tadi bermain lego ternyata ingin agar saya melanjutkan pembuatan rumah yang tertunda tadi. Mereka menunjuk ke susunan lego yang belum sempurna  membentuk rumah, saya tunjuk balik rumah itu. Seorang anak membalas menunjuk sambil meletakkan tangannya di pinggang seakan marah. Saya tak mau kalah, kembali menunjuk sambil pura-pura marah. Kami pun saling tunjuk.

Dan akhirnya saya menunjuk seorang anak lain untuk menyelesaikan rumah itu. Anak yang saya tunjuk kebingungan dan mengikuti temannya membalas menunjuk saya. Karena gemas, saya memukul dia pelan dengan balok lego kecil. Dia membalas memukul saya. Saya pukul satu-satu dari mereka, mereka membalas. Saya tunjuk teman mereka, maksudnya untuk dipukul. Mereka mengerti. Memukul dan saling melempar lego pun tak terelakkan, saya pun mencoba ikut melempar lego ke setiap anak secara bergantian. Ruangan pun jadi ramai oleh tawa dan teriakan anak-anak yang saling melempar lego.

Seorang teman mengingatkan kami untuk berkunjung ke ruangan lainnya. Kami pun meminta guru mereka untuk mengendalikan suasana di ruangan yang sangat gaduh. Setelah itu, kami berpamitan untuk ke ruangan lainnya. Sebelum keluar, seorang anak yang bermain dengan saya tadi menatap saya sambil bertolak pinggang, marah. Dia menunjuk rumah yang masih belum selesai disusun. Saya membalas tatapan dengan menunjuk balik sambil tersenyum.

Saya jadi paham betapa luar biasanya peran seorang relawan. Mereka tak hanya sekedar mendistribusikan bantuan, tapi juga menghadirkan senyuman bagi yang membutuhkan. Seperti halnya saya di hari itu, sedikit candaan meski dengan keterbatasan bahasa, bisa menghadirkan senyum, tawa dan canda anak-anak Suriah. Tawa mereka menjadi sangat berarti mengingat apa yang telah mereka alami di negaranya. Di sana, jangankan untuk tertawa, untuk sekedar bernafas tenang saja sepertinya sangat sulit.

Terima kasih kepada Rumah Zakat yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bercengkrama dengan anak-anak Suriah. Terima kasih kepada semua donatur yang telah rela mendermakan sebagian hartanya untuk pengungsi Suriah, sehingga kita bisa melihat senyum-senyum bahagia mereka ditengah situasi sulit ini.

Oleh: Pramudya, Relawan RZ

Tags :
Donation Confirmation