MELATIH HATI

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Oleh: Iu Rusliana

Hati merupakan salah satu karunia Allah SWT. Sang pengendali jasmani, menentukan manusia menjadi mulia atau hina. Jaga dan latih hati kita agar terhin dar dari dosa yang menjerumuskan. Seringnya maksiat, membuat hati kotor dan tertutup dari cahaya Ilahi.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa maka akan tertitik dalam hatinya noda hitam jika ia menghilangkannya dan memohon ampun, dan diampuni, hatinya itu dibersihkan. Jika ia melakukan kesalahan lagi, bintik hitam itu akan ditambah sehingga bisa menutupi hatinya,” (HR Ibnu M├ójah, Tirmidzi).

Tentang bagaimana melatih hati, Imam Al-Ghazali menjelaskan tata cara melatih hati agar selalu bersih dan tertaut pada Allah SWT. Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama, keyakinan yang benar dan tidak disisipi oleh unsur-unsur bidah. Tauhid terhujam dalam hati, segala hal yang potensial menjadi musyrik dihindari. Kedua, taubatan nasuuha, tobat sungguh-sungguh.

Tidak kembali melakukan dosa kecuali tanpa sengaja. Berusaha sekuat tenaga menjauhi segala perbuatan dosa dan menjadikan jalan kebenaran sebagai jalur kehidupan yang ditempuh.

Ketiga, meminta maaf kepada musuh sehingga tidak memiliki tanggungan (utang) kepada siapa pun. Berat tentunya, tapi berbesar hati untuk itu jauh lebih baik. Rendah hati dan merasa bersalah, karena sepenuhnya sadar kadang ada hal yang lupa dalam hidup ini, akan membuat kita jauh lebih mulia. Setelah meminta maaf yang tulus, tak ada lagi beban dosa dalam hidup kita. Jika yang dimintai maaf tak mau memaafkan, adalah haknya dan tentu saja Allah Yang Maha Pengampun yang akan menghakimi dengan adil.

Keempat, menguasai ilmu syariat, yang digunakan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan disertai penguasaan ilmu-ilmu akhirat yang bisa mengan tarkan kepada keselamatan. Hakikat tanpa syariat akan sesat. Belajarlah sepenuh hati agar semua ibadah kita berdasarkan ilmu yang benar.

Empat hal ini menjadi cara untuk terus menjaga dan melatih hati agar tetap bersih. Seseorang yang hatinya bersih, hidupnya akan tenang. Kebahagiaan senantiasa menghiasi hari-harinya. Cahaya iman mampu menembus hati dan membimbing setiap perbuatan. Tutur katanya santun dan lembut. Sikapnya ramah menenteramkan. Tak pernah menyinggung perasaan.

Sebaliknya, seseorang yang hatinya kotor karena seringnya berbuat maksiat, hidupnya penuh gelisah, kurang bersyukur, selalu merasa kekurangan harta, jauh dari ketenangan sepanjang hidupnya.

Cahaya iman tak mampu menembus hati yang tertutupi dosa. Ia tersesat sehingga tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah. Sebagaimana Allah berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan,” (QS al-A’raf: 186).

Latihlah hati agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya. Penuhi hati dengan keimanan agar Allah semakin menambah keimanan itu serta menjadikan hati kita menjadi tenang. Firman Allah, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang Mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada),” (QS al-Fath: 4).

Kelak di hadapan Allah, harta dan anak-anak menjadi tidak berguna. Kecuali hati yang bersih, yang selalu dipenuhi rasa takut dan cinta pada-Nya, dan ikhlas dalam niat. Allah berfirman, “Pada hari ketika harta dan anakanak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih,” (QS as-Syu’ara: 88- 89). Wallaahualam.

sumber: republika.co.id

Tags :
Donation Confirmation