MENJADI SEORANG PARANOID TERBALIK

Oleh :

Abu Syauqi

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Rumah Zakat Indonesia

Pekan kemarin saya menyampaikan sebuah pertanyaan dalam suatu majlis, “Sebutkan 10 kesuksesan Anda sepekan ini?” Tak ada yang berani mengacungkan jari. ”OK, 7 kesuksesan saja artinya tiap hari 1 kesuksesan!” Tak kunjung ada yang bersuara. “Sekarang, tolong sebutkan 10 kegagalan Anda pekan ini?” Seakan saling sepakat, acungan jari banyak terangkat, “Ustadz, tak usahlah sepekan, 10 kegagalan bisa saya sebutkan cukup yang terjadi di hari ini saja!”

***

Sebentar lagi saya akan mengkhatamkan buku luar biasa, “The Success Principles”. Sungguh bersyukur saya bisa menyelami buku tulisan Jack Canfield ini. Sangat sejalan dengan apa yang saya hasratkan untuk bisa menjadi sangat-sangat sukses secara bisnis maupun secara ruhiyah/spiritual. Apa yang ditulis oleh penulis yang terkenal dengan seri Chicken Soup for the Soul-nya ini semakin membuktikan bahwa orang sukses punya prinsip, sebagaimana orang kaya punya kosakata khas orang kaya dan orang miskin biasa dengan kosakata khas orang miskin.

Kembali ke pertanyaan di awal, mungkin jika pertanyaan yang sama ditanyakan kepada kita, agak lama kita berkerut dahi, “Apa ya kesuksesan saya hari ini?” Ternyata setelah saya mencoba men-scan kebiasaan masyarakat kita ada satu yang tidak beres dalam pendidikan kita. Satu hal itu adalah orientasi otak bawah sadar kita.

Otak Bawah Sadar

 Setidaknya ada 3 bagian dalam otak kita, yakni otak kanan, otak kiri, dan otak bawah sadar. Anda punya mouse komputer? Nah kira-kira seperti itu bentuknya. Di ujung atas ada panel kanan dan kiri, sebagaimana otak kanan dan kiri kita. Lalu ada bagian bulat terbesar di bawah. Itulah otak bawah sadar kita. Ketidakmampuan kita menyebutkan kesuksesan kita karena selama ini terlalu banyak input yang masuk ke pikiran bawah sadar kita oleh banyak hal yang bersifat negatif, kekecewaan, kegagalan, penyesalan, dan sejenisnya. Kita lebih suka membiarkan bacaan, tontonan, bisikan, perkataan yang buruk, merangsang kebencian, ketakutan, dan sebangsanya masuk ke dalam otak kita, tanpa berusaha menolaknya dan malah terus menikmatinya.

Orang banyak terkena stroke karena menimbun banyak kolesterol. Jika kita juga rajin menimbun pikiran-pikiran sampah bisa diprediksikan kita juga akan terkena ‘stroke’. Aliran pembuluh darah ke otak kita tersumbat hingga tak mampu menerima masukan positif, nasehat kebaikan, bebal, dan sulit berubah.

Para ahli mengatakan bahwa volume otak sadar hanyalah 12% dan sisanya yang 88% adalah otak bawah sadar. Jadi inilah unsur yang menentukan bagaimana kepribadian kita atau akhlak kita sebenarnya. Karena apa yang selalu tertanam dalam otak kita akan mempengaruhi secara refleks tindakan-tindakan yang menunjukkan karakter kita. Karenanya jika kita pernah mendengar teori 8 Kecerdasan dari Howard Gardner yakni ; Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Logika-Matematika, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Kinesketik (Bodily-Kinesthetic), Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, dan Kecerdasan Naturalis, maka ‘mutu’ pikiran bawah sadar cukup banyak dipengaruhi oleh kecerdasan intrapersonal kita, terutama dalam fungsinya untuk cerdas secara emosional (Emotional Quotient). Ketidakmampuan kita membentengi dari hal-hal yang sebenarnya kita sadar bahwa itu kebiasaan buruk membuktikan bahwa kita tak cukup mampu menguasai ‘emosional’ kita bahkan juga spiritual kita. Oleh karenanya hati-hati dengan “makanan pikiran kita”!

Lalu Harus Bagaimana?

Menjadi Paranoid Terbalik

Untuk memperbaiki mutu makanan pikiran kita, kita harus memperhatikan lingkungan kita. Ingin sukses? Bergaul dengan orang-orang sukses! Ingin sholeh dekati komunitas orang sholeh! Saya kini menyadari bahwa untuk menjadi konglomerat ada 2 syaratnya ; karena punya orang tua konglomerat atau punya mentor konglomerat.

Itulah pentingnya kita terus melakukan edukasi. Isi terus deposit pikiran kita dengan pembelajaran positif. Bayangkanlah segala hal yang lebih menyenangkan, membahagiakan, dan selalu berorientasi pada kesuksesan. Edisi ini saya akan menyampaikan satu prinsip sukses tentang PARANOID TERBALIK.
 

Selama ini kita mengenal istilah paranoid sebagai gangguan mental yang ditandai dengan ketakutan atau kecurigaan yang berlebihan atas sesuatu hal secara tidak rasional. Seakan-akan semua orang bersekongkol untuk membahayakan kita.

Coba bayangkan sebaliknya! Ternyata semua orang, kawan kita, keluarga kita, setiap orang yang kita temui begitu antusias mendorong dan mendukung kesuksesan kita. Semua ‘bersekongkol’ untuk kita bisa lebih sukses, lebih kaya, lebih sholeh, lebih cerdas, dan semua sisi yang semakin menyenangkan dan membahagiakan. Itulah Paranoid Terbalik. Alam ini seakan-akan memplot dan menyiapkan kesuksesan kita. Saat kita sendiri maupun bersama berapa banyak orang, semua bersemangat dan bersekutu untuk memberi peluang keberhasilan kita. Angin yang melambai-lambai, langit yang berhias awan bukannya menakutkan tapi malah menghibur dan menegaskan bahwa KITA SUKSES! Bumi, langit, manusia, semua unsur makhluk bergerak berjamaah mendoakan sukses kita.

Namun ini semua tidak gratis. Satu hal yang disyaratkan untuk sukses dalam Paranoid Terbalik adalah kita harus mau menolong orang lain yang belum sukses untuk lebih sukses, yang belum kaya untuk termotivasi kaya. Kekuatan memotivasi kebaikan ini ternyata sangat pas dengan salah satu hadits Rasulullah Muhammad SAW. :

“Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan di lautan, mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani)

Luar biasa!

Ayo! Kini saatnya kita berambisi untuk sukses! Jangan tanggung-tanggung, sukses dunia dan akhirat! Fokuskan atas apa yang kita inginkan, tentukan secara jelas, bentuknya, jumlahnya, waktunya. Otak bawah sadar kita tidak mengenal kata ‘tidak’. Semakin banyak kita menarik hal positif, semakin kuat pulalah kita menarik keinginan tersebut terkabulkan.

Beri saya kabar baik atau tidak sama sekali!#***

 

Tags :
Donation Confirmation