MODAL KEKHALIFAHAN

Oleh : Abu Syauqi

Apakah Anda memiliki atasan? Jika jawabannya Ya, apakah saat atasan Anda memberi penugasan, atasan Anda juga memberikan alat untuk terselesaikannya tugas tersebut? Jika jawabannya Tidak, mungkin jawabannya ada 2; Anda dianggap sudah cukup mahir sehingga tak perlu alat bantu, atau kedua, Anda mungkin telah bekerja pada orang yang salah!

Pertanyaan tersebut bisa pula dijadikan analogi ketika kita sebagai manusia diberikan kepercayaan dan instruksi untuk mengelola dunia dengan bumi seisinya sebagai khalifah. Layaknya seorang calon manager yang direkrut melalui rangkaian seleksi ketat, sebenarnya demikian pula kala Allah mengangkat kita sebagai manager kehidupan (khalifah). Sejak sebelum lahir kita telah melalui rangkaian seleksi hingga kontrak kerja tersebut kita tandatangani sejak ruh ditiupkan. Masa kerjanya jelas, mulai lahir hingga purna tugas saat maut menjemput. Indikator suksesnya (KPI) bukan pada lama bekerja namun pada mutu produktivitas yang dihasilkan. Karenanya senioritas tidak berlaku di sini. Apa standar mutu yang ditargetkan? Ketaqwaan!

Tentu Allah selaku user kita sangat cermat mempersiapkan semuanya. Setidaknya ada empat aset/modal yang disertakan dalam pengangkatan manager kehidupan ini, yaitu ; 1) Waktu, 2) Bumi, 3) Tubuh, 4) Al Quran.

Semua kita mendapat alokasi waktu yang sama, yang berbeda adalah produktivitasnya. Beberapa hari yang lalu Transparency International merilis peringkat indeks persepsi korupsi seluruh negara tahun 2008. Indonesia menduduki peringkat ke-126 dari 180 negara dalam pemberantasan korupsi tahun ini. Tahun lalu kita berada di posisi ke-143. Walaupun membaik, Ketua KPK Antasari Azhar menilai kenaikan posisi ini tak identik dengan kinerja penegak hukum. Data ini penting dicermati mengingat betapa banyak kita tidak dapat produktif karena waktu kita ’diganggu’ dengan inefisiensi urusan yang berbau korupsi. Artinya mendukung pemberantasan korupsi sama halnya dengan menyelamatkan satu aset penting dalam kekhalifahan yaitu waktu yang produktif.

Bumi. Modal kedua ini jelas penting sebagai arena atau tempat setiap produktivitas waktu tadi ditunaikan. Saya semakin sedih jika mendengar pendapat para pakar bahwa kota kita semakin tak nyaman untuk ditempati. Beberapa teman yang melakukan perjalanan dinas juga terpaksa dialihkan ke bandara lain karena cuaca sedang kabut pekat akibat pembakaran hutan. Dalam bahasa sunda, bumi juga berarti rumah. Namun mengapa kita senang bahkan justru menjadi pelaku yang membakar rumah kita sendiri saat pembukaan lahan, saat kita membiarkan perizinan pemukiman yang tak layak instalasi listrik akhirnya rawan akan kebakaran? Atau malah asik bermain banjir dengan penggundulan hutan?

Tubuh kita adalah aset penting yang menjadi visualisasi dari energi dalam jiwa. Kesehatan harus terus kita jaga. Karena pada dasarnya tubuh ini juga titipan, alangkah baiknya jika kita memberikan pinjaman dalam kondisi yang terawat, kalaulah terjadi aus dimana-mana, Allah sebagai atasan kita tetap bangga bahwa tubuh ini bergerak untuk kemanfaatan orang banyak. Berikanlah asupan gizi yang baik, secara fisik, pikiran, perasaan dan spiritual.

Ketiga modal tersebut semakin lengkap dengan modal keempat yakni Al Quran. Inilah modal yang tak boleh tergantikan. Sebagaimana manager yang hendak mendapat sertifikasi maka kuncinya adalah tekun mempelajari standar operasi dan buku induk panduan pekerjaannya. Ramadhan yang tinggal sehasta ini hendaknya kita optimalkan. Level paling rendah untuk mendapatkan kemuliaan Al Quran adalah minimal mencintai kala ayat-ayat cinta ini diperdengarkan. Kalau sudah bisa membacanya coba pelan-pelan pelajari kandungannya.

Terakhir, taqwa adalah tujuan Ramadhan. Dalam bulan ini kita layaknya sedang menjalani miniatur dari usia kita dengan segala modal kekhalifahan. Semoga sertikasi ketaqwaan tersebut benar-benar teranugerahkan saat takbir digemakan. Allahumma innaka ’afuwwun tuhibbul ’afwa fa’fuannaa.***

 

 

 

Tags :
Donation Confirmation