PARDIMAN, JANGAN NUNGGU BERKECUKUPAN UNTUK BISA BERBAGI

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

RZ LDKO CilegonBANDUNG. Pardiman, laki-laki yang 22 Tahun lalu terlahir di sebuah kampung di bagian selatan Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya tanggal 31 Juli 1993. Sejak kecil selayaknya anak pedesaan ia menikmati masa-masa era Tahun 90-an, tanpa adanya teknologi yang mendominasi.

Merasakan hidup tanpa aliran listrik, mengaji di mushola atau tajug yang semuanya masih terbuat dari bilik bambu dan kayu, dan sekolah dasar nyeker (tanpa pakai alas kaki). Perjalanan hidup memang akan berpengaruh terhadap mental dan psikologis seseorang, begitupun ia yang harus dihadapkan dengan berbagai keterbatasan pembangunan dan sumber daya manusia.

Perjalanan itu ia lalui sampai ia terus tumbuh dan belajar dari kehidupan. Pendidikan formal dari SD, MTs, MAN ia tuntaskan masih di satu kecamatan, dan semakin belajar maka semakin tahu bahwa ia harus terdidik sebelum mendidik, untuk menjadi berbeda dengan anak yang lain di kampungnya ia harus berani melakukan hal yang lebih.

Impian itu selalu ada jalan, begitulah kira kira ungkapan yang tepat saat ia bertemu dengan beberapa orang dari komunitas baca perpustakaan RSN pada tahun 2012, saat itu baru beberapa bulan tinggal di Bandung untuk memulai perkuliahan. Berawal dari mencari komunitas baca, namun yang terjadi malah ia mendapatkan 2 hal luar biasa secara bersamaan, komunitas yang senang membaca dan sekaligus Relawan Siaga Nusantara atau sekarang Relawan RZ (Rumah Zakat). Sempurna sudah bertemu dengan sekelompok penggagas sekaligus eksekutor, bukan hanya berkutat pada teori, namun juga aplikasi.

Kehidupan tidak akan semulus yang dibayangkan, itu terjadi saat rentang waktu tahun 2012-2013. Dinamika organisasi selalu terjadi, saat anggota relawan yang aktif hanya tinggal segelintir orang, yang diharapkan saat itu hanya tetap bisa bertahan dan menjaga amanah bisa terselesaikan, karena ia yakin relawan itu bukan untuk bergantung dan ketergantungan, itu tentang jati diri, mau sedikit atau banyak relawan itu harus menjadi karakter.

Selama beberapa tahun ia beberapakali terlibat di beberapa kegiatan diantaranya: Silaturahmi Nasional (2012), National Leader Conference (2013), Berbagi buka puasa 1000 anak yatim (2013-2015), panitia siaga bencana (2014), Ekspedisi Bhakti Relawan Nusantara (2014, 2015) serta beberapa kegiatan kebencanaan seperti Banjir Jakarta, dan Longsor Banjarnegara dll.

Bagaimana rasanya saat sekelompok orang menitipkan harapan sedangkan anda merasa gak bisa apa-apa?

Itu terjadi saat pertamakali melakukan ekspedisi Bhakti relawan Nusantara ke daerah Cikadu, Cianjur selatan. Hal yang belum terbayangkan menguji nurani semua orang saat itu, mulai dari 8 jam perjalanan melewati batuan besar, lumpur, tidak ada jaringan seluler, dan 3 jam melewati hutan dan sampai di pemukiman warga tanpa aliran listrik. Namun saat itu masih terlihat karena cahaya bulan cukup terang menerangi rumah rumah panggung milik warga.

Dan ke esokan harinya saat ia dan tim lainnya melakukan pertemuan dengan masyarakat, seolah menjadi harapan bagi mereka, menumpahkan keluh kesah yang selama ini mereka alami.

Ini mengingatkan tentang masa kecilnya sekitar tahun 2000, harusnya tahun 2014 ini semua warga negara sudah bisa menikmati manfaat aliran listrik. Dan selesai kegiatan berbekal data-data yang dikumpulkan akhirnya mengirimkan surat pembaca ke beberapa media cetak, dan pertolongan Allah SWT datang, gak lama dari pihak PLN setempat menghubungi dan mengkonfirmasi terkait surat tersebut, sampai pada keputusan pihak PLN langsung mendatangi lokasi, dan beberapa bulan kemudian terdengar kabar dari warga, listrik sudah bisa mereka nikmati.***

Newsroom/Surianto
Bandung

Tags :
Donation Confirmation