PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN DESA MELALUI KELOMPOK TANI

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

RZ LDKO CilegonBANJARNEGARA. Mayoritas warga di wilayah ICD Prigi, Banjarnegara berprofesi sebagai petani salak. Bahkan berdasarkan pemaparan Bayu Setyo Pramudyawardana sebagai Relawan Inspirasi wilayah ICD Prigi Banjarnegara, 98% lahan di Desa Prigi ini dipenuhi dengan perkebunan salak. Selain menanam salak sebagian warga juga menanam kelapa untuk dijadikan gula.

Tidak dipungkiri bahwa rata-rata yang menjadi petani adalah kepala keluarga atau para bapak, sedangkan istri mereka biasanya menjadi ibu rumah tangga. Namun ada yang unik di wilayah binaan RZ ini, untuk menunjang aktivitas para kepala keluarga sebagai petani, para istri ini pun membentuk Kelompok Wanita Tani Sekar Wangi atau yang biasa disingkat KWT Sekar Wangi.

Unit usaha KWT Sekar Wangi ini mulai dirintis pada tahun 2014 di Dusun Sidomulyo dan dikepalai oleh Lisyanti. Jumlah anggota KWT Sekar Wangi seluruhnya ada 30 orang, mayoritas memang istri petani.

Membuat Panganan Berbahan Salak

Sadar bahwa keberlimpahan salak yang tidak selalu habis dijual atau pun dikonsumsi sendiri maka sekumpulan ibu rumah tangga ini pun berkreasi dengan membuat panganan lain berbahan salak. Seperti yang dilakukan oleh Mujiyati, ibu dua orang anak ini memiliki keahlian membuat makanan ringan, tentu keahlian ini ia manfaatkan dengan membuat panganan berbahan salak, yaitu getuk salak. Bagi ayoritas orang jawa getuk adalah panganan yang sudah sangat familiar namun Mujiyati menjadikannya berbeda dengan menambahkan salak kedalam adonannya.

Tak hanya Mujiyati, Vesti Rahayu pun memanfaatkan salak menjadi keripik. Diusianya yang masih tergolong muda, Vesti mampu mejawab tantangan zaman dengan menjadi enterpreneur, bahkan ia memasarkan produk hasil olahannya ini melalui jejaring sosial facebook dan twiter.

Lain halnya dengan Neni, ia malah memanfaatkan bagian salak yang tidak lazim dikonsumsi yaitu biji. Wanita bernama lengkap Neni Fitriyah ini menjadikan biji salak sebagai kopi, menurutnya semua bijian bisa dijadikan kopi. “Belum banyak orang yang tahu bahwa kopi biji salak ini bisa menjadi obat alami untuk asam urat dan darah tinggi. Rasanya juga enak, apalagi diminum hangat-hangat, jika sudah dingin akan mengendap dan jadi seperti teh,” jelasnya bersemangat.

elain panganan berbahan salak ada juga yang membuat gula kelapa, keripik pisang taro, keripik talas, hingga opak de’plok. Bantuan yang diberikan pun beragam sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Menurut Bayu hal ini dilakukan untuk menjaga standar makanan yang diproduksi oleh lebih dari satu orang anggota KWT Sekar Wangi. Kualitas makanan harus baik agar kedepannya bisa dipasarkan lebih luas.

“Untuk produk keripik pisang taro sebenarnya sudah ditawari masuk ke swalayan, namun masih ada kendala di produksi. Ketersediaan bahan baku tentu berdampak pada jumlah keripik yang dihasilkan,” tutur Bayu.***

Sumber : RZ Magz Edisi Oktober 2015

Tags :
Donation Confirmation