PERAN DOA, KHUSYU DAN YAKIN DALAM SUKSESKAN PERADABAN

Oleh Abu Syauqi

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Rumah Zakat Indonesia

Alhamdulillahirabbilalamiin. Segala puji bagi Allah kesempatan edisi kali ini kita dapat bersilaturrahim dalam indah dan mulianya bulan Ramadhan. Semoga Allah memudahkan kita benar-benar menjadi pribadi yang bertaqwa.

Sobat zakat sekalian, saya mengajak setiap kita untuk kembali kepada misi bahwa apa yang sedang kita lakukan melalui segala aktivitas berbagi ini adalah sebuah ikhtiar kita untuk membangun peradaban. Jika kita membangun rumah bisa selesai dalam 3 bulan, membangun peradaban membutuhkan rangkaian proses yang panjang, nafas yang panjang dan tentunya pribadi-pribadi yang berwawasan jangka panjang.

Jika kita mengaca kepada sejarah mengapa Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan rasul di jazirah Arab Mekkah, mungkin sebagian kita akan menjawab karena masa itu bangsa Arab hidup dalam era jahiliyyah dengan beragam perilaku dan kebiasaan buruknya. Mungkin ada benarnya namun saya mengambil pandangan lain bahwa sebenarnya Islam dihadirkan di tanah gersang tersebut karena orang Arab berkarakter merdeka, anti munafiq dan fresh mind. Ini bisa dilihat dari sejarah bahwa bangsa Arab tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun, baik Parsi maupun Romawi. Bisa jadi alasan saat itu ngapain menjajah Arab, hanya ada sumber air dan padang pasir apalagi bangsa Arab dahulu terkenal suka perang antar suku hanya gara-gara perkara kecil. Istilah sekarang mungkin jika dijajah malah akan menjadi cost centre bukan profit centre. Tapi dari tanah tandus inilah peradaban ini dimulai. Dari cerita kecil ini kita bisa mengambil inspirasi bahwa peradaban harus didukung oleh jiwa-jiwa merdeka dengan orientasi yang kuat pada visi. Dan para sahabat pada masa Rasulullah SAW menjadi bukti yang nyata bagaimana mereka menjadi pejuang yang tangguh dalam menata bata-bata pondasi peradaban Islam.

MEMANDANG DARI SUDUT PANDANG AL QUR’AN

Sobat zakat sekalian, dalam membangun peradaban pada dasarnya kita sedang berkompetisi dengan pembangun ‘peradaban’ yang lain, yang juga tidak selalu sama orientasinya dengan misi kita. Terutama jika misi peradaban tersebut berlawanan dengan misi kekhalifahan kita untuk mengesakan Allah dan beribadah kepada-Nya. Jika mereka membangun imperium cita-citanya dengan sangat serius dan semangat tentu kita harus imbangi dengan cara yang dahsyat dan profesional pula. Dalam bersaing ini rasanya tepat jika kita membedah makna mendalam yang disampaikan Al Qur’an Surat Al Fatihah.

1.      Semua Ada Awalnya

Surat yang juga dikenal sebagai Ummul Kitab ini dimulai dari Bismilillahirrohmanirrohiim. Ayat ini menjadi pesan bahwa guna memulai aktivitas apapun hendaknya kita menyebut dan mengingat asma Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w :  \\\\\\\”Setiap urusan yang baik yang tidak dimulakan dengan \\\\\\\”Bismillahir Rahmanir Rahim\\\\\\\”, maka tidak akan mendapat barakah\\\\\\\” (Abu Dawud). Mari kita lanjutkan pada ayat berikutnya :

2.      Meneladani Inspirasi Cinta Sang Penguasa

Dalam ayat II disebutkan : Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Rabb, dimaknai sebagai Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Jika kita diperintahkan berbuat baik kepada ibu kita karena jasanya yang luar biasa dalam merawat dan mendidik kita, maka Allah adalah Maha Pemelihara dari seluruh alam semesta ini. Begitu Agung dan Maha Besar kebaikannya. Jika bumi ini hanya seukuran kuman dibanding matahari, maka kita manusia sungguh tidak ada apa-apanya. Allah begitu gagah, tapi ada yang sungguh sangat luar biasa. Dalam ke-Maha Agung-an Allah, ternyata Allah masih rela menunggui kita datang meminta apa saja yang kita inginkan, terutama di setiap akhir malam. Jika bumi saja bagaiman kuman, maka Allah masih begitu berkenan bahkan hingga mengatur begitu rapi bakteri-bakteri di tubuh kita. Bayangkan jika kita menghadap Presiden di istana, ini Presiden sendiri yang membukakan pintu untuk kita bahkan menunggu-nunggu kapan kita datang dan meminta bantuan. Allahu Akbar!

Jadi seharusnya kita tidak kecil hati, Allah hadir begitu besar pada setiap hal, juga Maha Kaya. Namun jangan khawatir Allah ‘sangat bersahaja’ menyapa bahkan memberikan apa yang dipinta, termasuk untuk mensukseskan peradaban yang sedang kita bangun. Ini menginspirasi bahwa jelas kita harus semangat untuk menjadi yang terbaik, market leader, tapi jangan lupa untuk tetap rendah hati, waspada pada sikap-sikap yang bisa jadi melenakan kita bahkan menghancurkan misi peradaban yang sedang dibangun secara berjamaah.

3.      Syarat & Ketentuan Berlaku

Pada ayat ke-3, kita membaca ; Ar Rahmaanir Rahiim. Inilah syarat dan ketentuan kita bisa menjadi pemenang peradaban. Ar Rahmaan (Maha Pengasih) adalah sifat obyektif yang diberikan Allah kepada siapapun yang mengikuti sunnatullah-Nya, tidak peduli hamba itu beriman atau tidak. Jadi jika kita profesional, mengikuti prosedur standar menjadi sukses maka kita akan mencapainya. Setiap pejuang peradaban tidak bisa lepas dari syarat dan ketentuan ini, karena jika dilanggar, hukum Alam akan berjalan. Tapi Allah juga memiliki sifat subyektif-Nya melalui sifat Ar Rahiim (Maha Penyayang).

Disinilah ada hak prerogratif Allah untuk membantu siapapun hamba yang taat kepada-Nya. Ada perjuangan yang besar untuk mendapatkan sayang Allah, salah satunya adalah Jauhi Maksiat, Allahpun akan mendekat. Demikian sebaliknya. Disinilah pentingnya DOA, sebagai bentuk ketahudirian kita bahwa kita lemah dan tidak ada memberi kemudahan selain Allah. Kita pun sadar bahwa jika harus berlari cepat dengan bangsa lain, umat lain kita jauh tertinggal, banyak elemen-elemen objektif yang belum kita kuasai tapi jangan menyerah, Allah Maha Rahiim untuk membantu kesuksesan misi peradaban kita.

4.      Husnul Khotimah Oriented

Melalui ayat ke-4, Maaliki Yaumiddiin, kita mendapat pesan bahwa kita harus selalu sadar dan ingat bahwa semua tindakan kita ada pertanggungjawabannya. Allah akan memberikan balasannya, bahkan azabnya tidak hanya nanti kelak pada hari kiamat namun juga bisa dimulai sejak sakaratul maut kemudian berlanjut di alam barzah, padang makhsyar hingga penentuan apakah surga atau neraka. Dalam membangun peradaban kita juga perlu menyambungkan spirit perjuangan ini dengan konsekuensi di masa depan yang sangat abadi. Allahlah penguasa hari pembalasan, tentu kita berharap setiap kita dapat memberikan kontribusi perjuangan dan pengabdian terbaik sehingga jikalah nanti kita purna tugas, kita bisa memberikan laporan pertanggungjawaban kerja yang baik. Jikalah kita nanti meninggal dunia, kita juga mampu menutupnya dengan baik, husnul khotimah.

5.      Fokus dan Yakin

Ayat kelima, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin sebagaimana artinya kita dibimbing dalam meminta, bahwa HANYA kepada Allahlah kita beribadah dan minta pertolongan. Ternyata selain kita diarahkan untuk orientasi Tauhid kita juga sedang diajarkan bagaimana kita berlatih konsentrasi, KHUSYU’. Dalam khusyu’ ini kita merasakan bahwa apa yang sedang kita pinta benar-benar akan dikabulkan oleh Allah SWT walaupun kita sadar mungkin doa itu masih terlalu jauh. Kemampuan bahwa kita mampu menghayati dan merasakan seakan doa tersebut sudah terkabul menjadi keselarasan sebagaimana hadits Qudsi :
 

Sesungguhnya Allah \\\\\\\’Azza wa Jalla berfirman : \\\\\\\”Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepada-Ku\\\\\\\”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah \\\\\\\’Azza wa Jalla berfirman : \\\\\\\”Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya sepanjang ia ingat kepada-Ku.\\\\\\\” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi dalam ber-DOA kita harus KHUSYU’ dan YAKIN bahwa semuanya akan menjadi kenyataan. Tentu semua dengan mengikuti syarat dan ketentuan dalam Ar Rahmaan & Ar Rahiim, yakni secara sunnatullah caranya harus kita lalui, secara ketaatan spiritual harus kita tingkatkan sehingga Allah menjadikan kita hamba kesayangan-Nya. Sebagaimana yang sudah sayang, maka apapun permintaannya akan diberikan.

6.      Dukungan Ilmu dan Pengetahuan

Untuk bisa kita yakin haruslah terdukung dengan pengetahuan. Karenanya kita memohon petunjuk “Ihdinash shirathal mustaqiim”. Tunjukillah kami jalan yang lurus. Tidak cuma ditunjuki tapi juga kita meminta supaya digandeng dan diantarkan melewati jalan sehingga tetap lurus. Cahaya hidayah itu berbanding lurus dengan cahaya ilmu. Dan hidayah bukan sekedar dalam makna hidayah spiritual namun apapun yang kita ingin tahu namun belum tahu jalannya. Misal hidayah untuk sukses dalam menuntut ilmu, dalam berbisnis, dalam mengelola keluarga dan sebagainya.

Karenanya proses belajar, membaca referensi informasi, berdiskusi dengan para pakar, mempelajari Standard Operating Procedure (SOP) pada dasarnya merupakan relasi penting dari kesempurnaan kita mencari hidayah. Tak mungkin kita membangun sesuatu yang berorientasi masa depan jika tanpa terus mengupdate ilmu, jadi ketika kita bersemangat terus belajar pada dasarnya kita sedang aktif menjemput datangnya hidayah Allah. Sebaliknya jika kita malas, kita sedang membiarkan hidayah itu lambat masuk dalam diri kita yang akibatnya memperlambat peradaban itu cepat tegak berdiri.

7.      Memenangi Peradaban

Dalam ayat ini ; \\\\\\\”Sirathalladziina an\\\\\\\’amta \\\\\\\’alaihim ghairil maghdhuubi \\\\\\\’alaihim waladdhalliin\\\\\\\” Kita menegaskan DOA kita bahwa kita harus sukses dalam meniti jalan cita-cita ini. Bukan golongan yang terlalu sibuk dengan kehidupan spiritualnya tapi membiarkan kehancuran kehidupan duniawi, juga bukan sebaliknya yang sangat rakus dengan kehidupan duniawi dan menjauhkan kehidupan akhirat dalam wilayah yang jauh terpisah.

Jalan lurus inilah tujuan peradaban kita, dimana terintegrasikan antara tugas mengajak, membangun dan menegakkan apa sudah diamanahkan kepada kita sebagai khalifatullah yaitu untuk Memakmurkan Dunia (imaratud Dunyaa) dan Memakmurkan Akhirat (Imaratul Akhirat).

Kajian Al Fatihah ini dimana DOA, KHUSYU’ dan YAKIN menjadi tiga kekuatan terpentingnya ternyata selaras dengan apa yang diajarkan dalam Law of Attraction :

“Ketika Anda MEMINTA, MERASAKAN dan PERCAYA, Anda akan menerima ada persediaan ide yang tak terbatas yang menunggu disentuh dan dimunculkan oleh Anda. Anda menyimpan segala sesuatu dalam kesadaran Anda”. (Rhonda Byrn).

MEMINTA adalah dengan ber-DOA, MERASAKAN kita lakukan dengan cara KHUSYU’ dan PERCAYA melalui YAKIN/IMAAN. Semoga kita mendapat keberkahan Ramadhan melalui surat Al Fatihah ini.#

 

Tags :
Donation Confirmation