PIKIRKANLAH ORANG LAIN, ALLAH AKAN MEMIKIRKAN KITA

Oleh : Abu Syauqi

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Rumah Zakat Indonesia

Bangsa ini sedang membutuhkan perhatian kita. Kemiskinan yang banyak kita saksikan biasanya dimulai karena kita lebih memikirkan diri sendiri. Padahal ketika kita berpikir untuk orang lain, mendahulukan orang lain, saya punya keyakinan bahwa masalah bangsa ini dapat teratasi. Bayangkan kalau di dalam pikiran kita, kita ingin menolong seribu orang, saya tidak yakin anak dan istri kita tidak terlibat tidak ikut tertolong di dalamnya. Tetapi andaikata kita hanya memikirkan diri kita dan anak istri kita pasti ada anak kita yang lolos tidak terbantu.

Oleh sebab itu saya mengajak mulailah kita membantu memikirkan orang lain. Bantulah orang sebanyak-banyaknya. Saya sudah membuktikan dan merasakan keberkahan yang sangat luar biasa. Rumah Zakat diawali dari nasehat ayah saya tercinta almarhum, beliau mengatakan menjelang sakit-sakitan beliau, “Kade jang, perhatikeun jelma miskin, jeung teu bog!”  Hati-hati anakku, perhatikanlah orang miskin dan tidak punya. “Lamun ujang mikiran jelma teu boga, Allah nu bakal mikiran ujang!”  Jadi kalau kita memikirkan orang yang tidak punya, kita akan dipikirkan oleh Allah SWT. Saya dulu teringat meninggalkan usaha saya, meninggalkan dagang saya untuk mengamalkan amanat ini.

Izinkan saya bercerita sedikit tentang masa kecil saya. Saya terbiasa berdagang dari SMP, saya menjadi anak yatim kelas 1 SMA, saya sekolah di SMA 5 Bandung. Tidak jarang saya berjalan kaki dari Jalan Turangga ke Jalan Belitung karena saya sudah tidak punya ayah. Saya jugalah namanya yang tercantum di sekolah, 5 bulan 6 bulan saya tidak bayaran, itu sudah biasa. Berkali-kali saya dipanggil oleh guru karena belum bayaran, saya sampaikan, berikan saya waktu. Dan saya pada waktu itu terpikir begitu pedihnya menjadi anak yatim, sakitnya menjadi orang yang ditinggalkan ayah, di saat-saat saya membutuhkan belaian kasih sayang ayah dan ibu.

Didikan keras inilah yang selalu mengiang sebelum ayah meninggal, “Kade jang, pikiran jelma teu boga, ujang bakal dipikiran jeung Gusti Allah”, setelah ayah meninggal saya tertuntut untuk terus berdagang, masih sangat terkenang, pulang SMA saya langsung menggelar jualan di mesjid Mujahidin (ada di Jalan Sancang, Bandung, red.). Saya masih pakai baju SMA, sampai suatu ketika saya pernah ditegur atau disapa oleh adik angkatan, “Kang, nuju icalan?” (Kang, sedang jualan?) Malu sekali saya tetapi dari situlah saya mendapatkan keberkahan luar  biasa, saya terbiasa berdagang sehingga saya di umur 24 tahun sudah kebeli mobil, di umur 26 tahun saya sudah kebeli rumah, di umur 29 tahun saya sudah mulai memiliki sebuah perusahaan, di umur 32 tahun perusahaan saya berkembang. Dari situlah pada tahun ‘98 saya tinggalkan perusahaan saya, kemudian saya mengurus Rumah Zakat yang dulu namanya DSUQ (Dompet Sosial Ummul Quro). Dan mulailah babak kedua kemiskinan itu mendera saya.

Saya  pernah naik mobil, mobil itu tidak pernah keluar indikator bensinnya dari E, dan saya pernah ditangkap polisi kemudian disidang harus bayar Rp 5 ribu saya tidak punya, dari tadinya uang tidak pernah kurang. Bulan kedelapan saya sudah susah sekali, saya bilang kepada istri saya, “Masih kuatkah kamu?” Kata istri saya, “Iya, kita ini membela anak-anak yatim masak kita tidak dibela oleh Allah.” Saya teruskan sampai Rumah Zakat jadi seperti ini dan tahun 2006 secara resmi saya meninggalkan Rumah Zakat Indonesia menjadi Ketua Dewan Pembina dan saya kembali mengurusi usaha saya.

Sekarang saya membawahi perusahaan PT Citra Niaga Abadi Holding Company. Saya mengurus perusahaan IT, alhamdulillah berkembang dengan baik. Agrobisnis berkembang dengan baik, microfinance juga berkembang dengan baik dan yang sekarang sedang saya coba adalah properti. Semua tumbuh dengan baik. Dan ini saya punya keyakinan bukan kecerdasan saya tapi doa dari mereka anak-anak yatim dan kurang mampu yang kita bahagiakan. Ketika saya banyak masalah saya selalu datang kepada mereka lalu saya kumpulkan. \”Eh ada Abu!”, kata mereka sambil mengerumuni saya. Saya lalu meminta \”Tolong doakan Abu ya, lagi banyak masalah..”Iya pak nanti kalau sholat kami doain!” kata mereka..Subhanallah berkah.

Maka saya punya keyakinan mari kita pikirkan dari berjuta-juta dari anak-anak yatim ini. Kita akan dipikirkan oleh Allah, saudara kita hari ini di Pangalengan, di Bandung, di Tasik, di Sukabumi mungkin tidak akan mengalami kebahagiaan seperti kita disini. Apa yang sedang dialami anak-anak kita di sana?  Oleh karena itu sobat zakat sekalian saya mengetuk bahwa apa yang kita keluarkan tidak akan pernah hilang, dan Allah akan membalas dengan lebih banyak lagi. Saya juga mengajak dari hati yang paling dalam marilah kita perhatikan orang yang tidak mampu. Sekali lagi jangan biarkan hanya memikirkan diri kita, pikirkanlah orang lain. Kalau 1 juta orang bisa kita tolong yakinlah bukan anak istri kita saja yang bisa kita tolong tetapi adik- kakak kita, orang tua dan mertua kita akan bisa kita tolong.

Mohon doanya pula semoga kami melalui Rumah Zakat Indonesia bisa menjembatani cinta sobat zakat sekalian dengan lebih amanah dan profesional.

 

Tags :
Donation Confirmation