SEKALI LAGI : PRODUKTIVITAS

Oleh : Abu Syauqi

Tahun lalu saya berkesempatan menyimak presentasi dari Prof. BJ Habibie, salah satunya terkait tentang data produktivitas penduduk negara-negara di dunia. Disampaikan oleh beliau bahwa dari populasi manusia sejagat, 19%-nya  beragama Islam, dari jumlah tersebut 5-8% tinggal di negara-negara makmur/kaya (affluent countries) sementara sisanya 92-95% tinggal di negara miskin (poorer developing countries). Masih ada data lagi. Ternyata nilai produktivitas negara-negara miskin tadi menempati skor 1,04% jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang diposisikan dengan nilai 100% sebagai negara paling produktif. Terjadi gap yang luar biasa besar. Indeks produktivitas negara sedunia dikuasai 9 negara kaya : Amerika Serikat, Swiss, Belgia, Perancis, Irlandia, Jerman, Italia, Belanda, Inggris (UK).

Bagaimana dengan Indonesia?

Jika AS dengan nilai index 866 ditetapkan sebagai penbanding karena menduduki posisi negara paling tinggi produktivitasnya (diposisikan 100%), ternyata Indonesia hanya memperoleh skor 13 yang artinya hanya 1,5% dari produktivitas masyarakat Amerika. Dari data tersebut nampak jelas bahwa kemakmuran dan kesejahteraan sebuah negara sangat berbanding lurus dengan seberapa produktif masyarakatnya. Apakah kita termasuk dalam angka 1,5% tersebut? Mari berintrospeksi.

Bangsa kita walaupun diprediksikan banyak pihak akan masuk sebagai 9 negara besar dunia pada tahun 2030 tetaplah sulit terealisir jika kita tidak ikut memulai perubahan ini. Di sana-sini kita melihat kebiasaan dan sikap tidak produktif. Yang miskin terhanyut dalam budaya nongkrongnya, yang kaya larut dalam budaya hura-huranya. Semangat produktif biasanya juga tampak dari cara jalannya. Coba lihat cara jalan orang Singapura di stasiun kereta bawah tanah/subway, atau kalau kita lihat di TV suasana pejalan kaki di New York, Jepang, dan negara produktif lainnya, umumnya jalannya cepat-cepat. Di kita, jalan mah santai wae kumaha urang, toh datang terlambat tak dilarang, mau sambil merokok, mau datang rapat tanpa bahan sudah dianggap biasa. Saatnya kita ubah kebiasaan primitif ini, Rasulullah SAW sendiri diriwayatkan juga cara jalannya cepat. Baca bukunya David J Schwartz, Berpikir dan Berjiwa Besar, salah satu memotivasi tampil percaya diri adalah biasakan berjalan 15% lebih cepat. Ini baru soal jalan, belum yang lain.

Minimal ada 3 hal kunci yang perlu kita siapkan : 1) Pikiran, 2) Sikap dan 3) Penampilan. Pertama, PIKIRAN. Yang harus diperhatikan adalah makanannya, karena makanan pikiran kita yang kita santap sangat menentukan kebiasaan, sikap dan kepribadian kita. Biasakan selalu menghabiskan bahan bacaan dan sebaik-baik bacaan sebenarnya adalah Al Quran. Karenanya untuk menjaga mutu makanan pikiran kita yang harus diperhatikan adalah mutu lingkungan dimana kita berada termasuk di dalamnya dengan siapa kita sering bergaul.

Ada 2 sikap yang menjadi penghalang kesuksesan : Sikap berpikir bahwa prestasi besar di luar jangkauan kita, yang kedua, kekuatan/pikiran penindas, diantaranya seperti pemikiran-pemikiran yang serba kalah, merasa bodoh, minder, miskin, dll. Kuatnya pikiran kita akan mendorong pada kuatnya keoptimisan kita. Jiwa optimis inilah yang menjadi motor produktivitas dilakukan. Investasikanlah pikiran kita untuk sesuatu yang positif.

Kedua, SIKAP. Ada beberapa sikap yang perlu dikembangkan, diantaranya : optimis, antusias, positif thinking, bijaksana, pemberani, tidak perasa/terlalu sensitif, bukan pendendam, tdak mudah trauma, percaya diri/tidak minder, kemampuan berkomunikasi dantidak mudah menghukumi.

Sikap, attitude atau bahasa lainnya AKHLAK jelas mendukung sekali spirit produktif ini. Akhlak bukanlah sebuah sikap yang dibuat-buat karenanya akhlak melekat sebagai kepribadian. Untuk punya akhlak yang baik tentu harus membiasakan dengan sikap-sikap yang baik dan bulan Ramadhan inilah momentum tepat untuk memulai, membiasakan dan meningkatkannya.

Ketiga, PENAMPILAN. Tentang yang terakhir ini sebenarnya juga terkait dua hal sebelumnya. Artinya pola pikir dan sikap kita akan mempengaruhi pemilihan tampilan diri seperti apa. Penampilan bisa dari penampilan lahiriah kita maupun juga penampilan dalam berkomunikasi kita baik langsung maupun tertulis. Sebenarnya Rasul Muhammad SAW juga telah meneladankan tentang kebersihan, kerapihan, kesehatan termasuk bau badan, bau mulut, dan sebagainya. Semuanya apalagi di dunia korporasi seperti saat ini jelas sangat membantu menguatkan produktivitas kita. Selamat datang masyarakat produktif!

Salam Perubahan!

 

 

 

Tags :
Donation Confirmation