Sumpah Sampah Kota Kembang

Aku sadar, onggokan ragaku tak lagi memberikan manfaat bagi kalian. Tapi ini bukan kehendakku, dan aku yakin tidak ada seorangpun dari kalian yang ingin menjadi sepertiku. Tapi aku tidak menyesal, sedikitpun tidak. Aku telah mendermakan raga ini bagi kalian. Aroma yang aku keluarkan membuatmu menjauh dariku. Aku sadar??? aku sadar sepenuhnya. Seandainya aku menuntut ditempatkan pada tempat sebelum ???predikat??? ini melekat dalam tubuhku, tentu kalian akan tertawa. Tapi, sungguh aku tidak menuntut hal itu.
Dulu ketika aku melindungi sesuatu yang kalian butuhkan, kalian begitu menghargaiku. Ditempatkan dalam ruangan dingin, jauh dari sengatan matahari seperti sekarang. Berbaris bersama kawan-kawan yang lain yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Kalian melindungi diri ini dari api, dari angin. Nyaman rasanya.
Sekarang, kami merepotkan kalian dengan ???predikat??? baru ini. Tapi tidaklah kalian sadar, kami hadir karena kalian. Setelah kenyang mengeksploitasi raga ini, kalian campakan kami. Apakah itu sudah menjadi tabiat kalian, mencampakan dimana saja segala sesuatu yang tak lagi memberikan manfaat?
Pernah aku mendengar, kalian membuatkan tempat khusus bagi kami. Senang sekali rasanya. Disana kami berkumpul bersama kawan-kawan yang lain, jauh dari kalian. Tapi kenyataannya kami tetap menggangu kalian.
Bukannya kami rasis dengan meminta dipisahkan dengan kawan-kawan yang berbeda jenisnya. Bahan dasar kami yang berbeda membuat kemampuan masing-masing untuk ???menyatu kembali??? dengan alam berbeda pula. Bahkan ada sebagin kawan lain yang berharap masih bisa memberikan sisa raganya untuk kalian manfaatkan.
Kawan kami yang lain lebih sengsara lagi. Terlempar dari tangan tuannya di selokan pinggir jalan. Ternyata yang bernasib seperti itu tidak sendirian. Beratus-ratus, beribu-ribu bahkan berjuta ton hingga mampu menyumbat air sungai. Luapan air mengalir ke rumah-rumah kalian. Menghanyutkan barang-barang berharga kalian bahkan anak cucu kalian.
Kalau kehadiran kami tidak kalian harapkan ,tidaklah kalian berpikir untuk mengurangi ???angka kelahiran??? kami. Bagaimanapun caranya. Kalian terlahir dengan akal dan pikiran sempurna berbeda dengan mahluk lainnya, apalagi kami. Kecerdasan kalian bahkan telah melahirkan varietas-varietas baru kami, dengan kemampuan bertahan lebih lama.
Pasca ambruknya hunian kami di Leuwi Gajah, kini kami terlantar dimana-mana. Sebagian kawan kami ada yang menghuni gerobak kuning, katanya mau ditempatkan di tempat yang layak, tapi sampai sekarang masih teronggok di pinggir jalan. Sampai-sampai kalian benar-benar terganggu. Dari raut muka kalian tampak rasa nyinyir yang amat sangat padaku, tapi kenapa kalian tidak merasa nyinyir ketika melempar kami ke selokan-selokan ?
Kabar gembira pernah kami dengar dari dunia kalian, banyak investor dengan teknologi tinggi dan modal tebal siap mengolah kami, tapi kami terlanjur numpuk, bergumul bersama lalat-lalat. Sementara para pengusaha sampah ini presentasi didepan penguasa Bandung, kami telah berjejal siap diolah.
Menjelang hajatan besar ulang tahun Konfrensi Asia-Afrika kalian gerah. Sumpah serapah pun keluar dari mulut kalian. ???Mau di kemanakan harga diri Bandung kalau setap jalan yang dilewati tamu hajatan di penuhi kalian ???? oceh sebagian penguasa Bandung.
Ya.. mau gimana lagi.., kami terpaksa menghuni pinggiran jalan dan tempat hunian sementara. Aku sendiri heran, mengapa ketika terjadi bencana karena kami, kalian baru sadar akan bahaya kami ? Ketika mau ada tau dari luar, kalin sibuk membersihka jalan yang akan dilewati tamu, dengan menyeret kami menjauh dari para tamu. Kami ingin kepedulian pada kami, para SAMPAH, tidak hanya sesaat. Hanya untuk menyenangkan para tamu hajatan, tapi untuk selamanya
Kami bersumpah.. kami tidak akan merepotkan kalian kalau kalian menempatkan kami pada tempatnya, kalau kalian mengurus kami sehingga kami mendatangkan manfaat lagi bagi kalian. ***

Iman Sulaeman
Marketing Komunikasi Rumah Zakat Indonesia DSUQ
Bandung

Tags :
Donation Confirmation