TANTANGAN MODERNITAS DAN TUNTUNAN RELIGIUSITAS

Bagian 2 dari 3 tulisan
Oleh : Ust. Aam Amiruddin*

…Revolusi informasi diawali dengan revolusi teknologi informasi. Apa jadinya kalau revolusi teknologi ini ?dikuasai? AS, Eropa Barat dan Jepang? Dimana posisi umat Islam sekarang?…?

Bertolak dari apa yang dikemukakan UNESCO, jelaslah bahwa yang menjadi kiblat riset iptek saat ini adalah Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, dan Rusia. Bagaimana dengan negara-negara muslim? Tidak ada satu pun negara muslim yang dijadikan kiblat dalam bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen saja dari seluruh hasil riset yang dikembangkan di dunia ini. Konsekuensinya, kemajuan bidang teknologi dengan segala konsekuensinya, termasuk di dalamnya revolusi informasi akan mencerminkan para penguasa teknologi itu sendiri, yaitu bercirikan sekuler (nilai-nilai transendental terlepas dari kehidupan duniawi).

Konsekuensi selanjutnya sebagai akibat dari revolusi teknologi dan revolusi informasi adalah revolusi sosial dan budaya. Hal ini terjadi karena batas-batas geografis antar negara makin transparan, sehingga terjadilah budaya yang makin mengglobal, bahkan merambah pada bidang ekonomi (ekonomi global).

Bertolak dari paparan di atas, ada beberapa masalah yang perlu diantisipasi, yaitu apa yang harus dilakukan remaja muslim dalam menghadapi tantangan modernitas (revolusi teknologi, informasi, dan budaya)? Lalu, bagaimana ajaran Islam bisa dilaksanakan secara konsekuen di tengah-tengah arus sekulerisme yang begitu kuat?

Secara garis besar, sikap remaja muslim dalam menghadapi tantangan modernitas terbagi pada tiga kelompok.

1. Remaja muslim yang distopistik, yaitu remaja muslim yang lari dari kenyataan, apatis, bahkan pesimis menghadapi tantangan modernitas. Mereka lari dari persaingan, tidak ada gairah belajar, bahkan berhenti kuliah karena menganggap bahwa materi perkuliahan itu ilmu sekuler, dan akhirnya berdiam diri.

2. Remaja muslim yang utopistik, yaitu remaja muslim yang memiliki optimisme yang berlebihan. Ia berkeyakinan bahwa kemodernan itu bisa menyelesaikan segala masalah. Karena itulah ia belajar sungguh-sungguh dan siap bersaing. Hal tersebut tentunya sangat baik. Sayangnya, remaja yang utopistik ini sikapnya berlebihan.

3. Remaja muslim yang moderat, yaitu remaja yang mampu melihat dirinya secara utuh, tulus dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak lalai dalam menghadapi tantangan zaman. Sikapnya diimplementasikan dengan belajar dan bekerja sungguh-sungguh, mau bersaing, dan mampu melihat kenyataan secara realistik.

Mencermati kenyataan di atas, bisa dianalisis bahwa yang paling ideal adalah sikap yang ketiga, yaitu moderat. Dikatakan ideal karena sikap ini didukung oleh beberapa isyarat Al Qr?an bahwa kaum muslimin, baik laki-laki ataupun perempuan, dinobatkan sebagai khalifah fil ardh (yang mengatur bahkan sebagai decision maker demi kemaslahatan dunia). Dan untuk bisa melaksanakan kekhalifahan secara mapan, modal utamanya adalah ilmu, hal ini tercermin ketika Allah swt. berfirman kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan Adam dan keturunannya (manusia) sebagai khalifah. Yang diperlihatkan kepada para malaikat untuk menduduki jabatan khalifah fil ardh adalah penguasaan ilmu. (lihat Q.S. Al Baqarah: 30-33).
….(bersambung ke bagian 3)

*) Direktur Media Percikan Iman. Aktivitas selain sebagai dosen di Program Pasca Sarjana (S2) Universitas Islam Bandung, juga menjadi narasumber di acara “Catatan Sergap” di Hikmah Fajar RCTI, seminar, talk show, dan berbagai diskusi. Jadwal tetapnya sebagai nara sumber di Radio OZ103,1FM Bandung yang disiarkan setiap pukul 05.15-06.00 WIB. Tulisan ini juga disajikan lengkap di www.percikan-iman.com

Tags :
Donation Confirmation