FILOSOFI KAYA

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Mari kita pahami makna beberapa ayat berikut ini: “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia (ingin kaya): ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.” (79).

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (81).

Memahami ayat di atas memberikan motivasi pada kita bahwa kaya itu keharusan bagi umat Islam. Yang dilarang, sekali lagi, yang dilarang adalah kesombongan. Seperti sombongnya Qarun ketika sebelumnya saleh, miskin, dan tidak punya apa-apa, lalu menjadi kaya karena doa Nabi Musa (QS al-Qashash: 76).

Dari sinilah kita harus selalu ingat, jangan sampai ketika sudah kaya malah lupa diri. Kaya adalah anugerah dari Allah. Karena yang diberi kesempatan kaya adalah hamba-Nya yang dikehendaki (terpilih). Maka, sudah kewajiban kita untuk saleh agar kekayaan itu bernilai manfaat.

Jadi teringat lima rukun Islam itu bisa sempurna ditunaikan ketika kaya. Jadi, menjadi hamba-Nya yang kaya dan saleh adalah perintah Allah. Dengan kaya, kita bisa membantu lebih banyak orang. Dengan kaya, kita tidak dijajah. Dengan kaya, kita bisa berdaulat. Dengan kaya pun kita bisa bersedekah dan bermanfaat lebih banyak lagi.

Kaya tidak ada kaitannya dengan kepandaian, pendidikan tinggi atau keturunan. Betapa banyak orang kaya, padahal kecerdasannya biasa-biasa saja atau tidak tamat kuliah dan tak pernah mengecap pendidikan. Tidak sedikit orang kaya dari keturunan orang biasa. Maka, kaya tidak bisa direkayasa. Kaya adalah soal kerja keras dan kepantasan diri di hadapan-Nya.

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia