GEMPA BUMI DAN SEMANGAT FILANTROPI

Oleh : Agustin Santriana

Media Internal Officer Rumah Zakat Indonesia

Hari Rabu, 30 September 2009 malam, beberapa orang di Kota Bandung panik. Ada yang beristigfar sembari memencet nomor telefon, ada pula yang mencari informasi mengenai perkembangan gempa berkekuatan 7,6 SR di Sumatra Barat (Sumbar) sambil menahan tangis. Mereka sedih karena memikirkan kondisi sanak saudara yang ada di Kota Padang dan Pariaman, apakah selamat atau meninggal akibat tertimbun runtuhan bangunan.Semua berharap mendapatkan informasi secepat mungkin. Namun sayang, teknologi tak dapat menjangkau Sumatra Barat yang saat itu tengah gelap gulita.

Bencana gempa bumi yang melanda Sumbar membuat semua orang mengelus dada. Belum genap sebulan mengguncang beberapa titik di Jawa Barat, kini gempa bumi kembali meluluhlantakan ratusan rumah dan merenggut ratusan jiwa di Sumbar. Apalagi keesokan harinya, Kamis, 1 Oktober 2009, gempa berkekuatan 7,0 SR mengguncang Jambi dan Bengkulu serta menimbulkan kerusakan puluhan rumah. Beberapa pengguna internet memasang pertanyaan berbunyi \”Mau sampai kapan cobaan ini datang?\” hingga \”Apakah dosa negara ini begitu besar sehingga terus ada bencana?\” di status situs-situs pertemanan. Sungguh sebuah pertanyaan yang tak bisa dijawab, karena semua itu adalah urusan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam bencana gempa Jabar yang terjadi pada 2 September 2009 lalu atau bertepatan dengan 12 Ramadan 1430 H, terlihat betapa rasa kepedulian sosial untuk membantu sesama manusia sangat besar. Mungkin karena pada saat kejadian bencana itu bertepatan dengan bulan suci, di mana Allah SWT mengobral pahala sebesar-besarnya. Bantuan yang datang bagi para korban di Tasikmalaya, Cianjur, Kabupaten Bandung, dan Garut datang dari dalam dan luar negeri. Sejumlah media massa, perusahaan perbankan, Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), hingga lembaga pendidikan beramai-ramai membuka jalur donasi untuk masyarakat yang ingin berpartisipasi meringankan penderitaan korban gempa Jabar.

Jumlah bantuan yang berhasil dihimpun cukup besar, yakni mencapai miliaran rupiah. Hal tersebut tentunya membahagiakan karena pada kenyataannya, di tengah zaman yang serba sulit ini, masih banyak orang yang peduli dengan nasib saudaranya. Kali ini rasa kepedulian sosial bagi sesama manusia itu diuji kembali setelah seluruh umat Islam di dunia memekikan takbir kemenangan di hari Idulfitri. Berakhirnya Ramadan, bukanlah akhir dari semangat filantropi.

Kini, sejumlah perusahaan serta berbagai lembaga kembali membuka penerimaan donasi untuk korban gempa di Sumbar. Para donatur pun sudah terlihat memberikan bantuan dengan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening yang telah dipercaya. Mereka berharap dana tersebut pada akhirnya dapat sampai ke tangan yang berhak. Di antara para donatur itu, ada yang memiliki rasa ingin tahu ke mana larinya uang yang didonasikan, namun ada pula yang tak peduli dan begitu percaya dengan lembaga ataupun perusahaan tempat dia menitipkan bantuan.

Tipe donatur seperti apakah yang paling baik? Tentu bagi sebagian lembaga sosial, donatur yang memberikan kepercayaan 100 persen itulah yang terbaik karena secara tidak langsung mendukung kelancaran aktivitas penyaluran bantuan. Namun, agar setiap lembaga sosial berkembang, dibutuhkanlah donatur yang kritis mengenai penyaluran dana filantropi yang telah mereka sumbangkan. Sebab, donatur yang kritis membuat sebuah lembaga sosial bersikap lebih profesional dan amanah dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Secara garis besar, pemerintah dan lembaga sosial yang memiliki kepedulian pada bencana alam melakukan dua tahap penanggulangan. Pertama disebut dengan tahap tanggap darurat. Dalam tahap ini, setiap lembaga sosial terjun ke lapangan untuk melakukan evakuasi hingga membantu para koban bencana dari segi fisik dan materi. Bagi lembaga yang profesional dalam bidang kemanusiaan, tahap evakuasi ini dilakukan tanpa harus menunggu adanya donasi dari masyarakat. Selain menyediakan bantuan makanan, minuman, hingga kebutuhan sandang, dalam proses tanggap darurat ini, lembaga sosial pun menyediakan pelayanan kesehatan yang memang dibutuhkan para korban. Bisa dikatakan perlengkapan logistik adalah kebutuhan yang paling mendesak di hingga dua minggu pascabencana.

Adanya donasi dari para donatur membuat kegiatan tanggap darurat lebih maksimal karena akan semakin banyak fasilitas yang bisa diberikan kepada para korban. Bantuan yang paling baik adalah memberikan barang yang sesuai dengan kebutuhan secara merata, cukup dan tak berlebihan. Oleh karena itulah, sangat tidak bijaksana menghabiskan dana dari para donatur di dalam tahap tanggap darurat.

Kemudian, tahap selanjutnya adalah pemulihan pascabencana yang terdiri atas rehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam proses rehabilitasi ini, adalah tugas dari pemerintah, lembaga sosial, serta masyarakat untuk bersinergi memberikan pemulihan secara mental bagi para korban. Trauma healing merupakan fasilitas yang diperlukan agar korban memiliki keberanian lagi untuk melanjutkan hidup dan kembali berdaya dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga.

Dalam tahap rehabilitasi ini pula, fungsi-fungsi pemerintahan, pendidikan, keamanan, kesehatan, sosial mulai dipulihakan agar dapat berjalan seperti sediakala. Kemudian, bantuan beralih pada proses rekonstruksi di mana pembangunan kembali tempat tinggal hingga sarana umum di wilayah terjadinya bencana.

Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan waktu, tenaga, pikiran, serta dana untuk menyukseskan program pemulihan. Oleh karena itulah, adanya pengalokasian dana yang efektif diperlukan agar kedua tahap penanggulangan bencana itu dapat berjalan dengan baik. Meski pemerintah memiliki tanggung jawab dalam proses pemulihan itu, uluran tangan dari masyarakat mutlak diperlukan.

Adalah sebuah risiko bagi masyarakat Indonesia yang hidup di kawasan rawan gempa. Sehingga bencana yang kerap menyebabkan banyak korban jiwa itu seringkali terjadi. Jangan pernah bosan memberikan bantuan kepada mereka yang memerlukan. Karena sesungguhnya, jika kita memikirkan orang yang berada di dalam kesulitan, Allah SWT akan memikirkan nasib kita.#

*Tulisan ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, Sabtu 3 Oktober 2009

 

Tags :
Konfirmasi Donasi