HUBUNGAN MUZAKKI DAN MUSTAHIK HARUS SEPERTI AYAH DAN ANAK

Menjadi mitra pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan merupakan salah satu misi Rumah Zakat Indonesia (RZI) yang telah berdiri sejak 1998 dengan nama awal Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ). Bukan pekerjaan mudah, namun pasti bisa dilakukan bila seluruh pihak yang terlibat didalamnya selalu melaksanakan tugas dengan bersih hati, berpikir positif, serta menjadikan shalat malam sebagai bagian dari kehidupan.

Sebelas tahun sudah RZI menjadi mitra para muzakki dan mustahik di seluruh nusantara. Pendiri dan Ketua Dewan Pembina RZI Abu Syauqi yakin mewujudkan pemberdayaan masyarakat di negara ini adalah sebuah hal yang bisa dilakukan, mengingat segala potensi pendukung telah tersedia di Indonesia. Kepada Rumah Lentera Abu Syauqi yang akrab disapa Abu mengungkapkan mengenai keyakinan, cita-cita dan juga visinya untuk kemajuan bangsa.

Seberapa yakinkah Abu bahwa RZI dapat menjadi mitra pemerintah untuk pengentasan kemiskinan?
Sampai saat ini RZI telah mampu meraih berbagai pencapaian mulai dari donasi hingga program pemberdayaan. Dulu Abu nggak pernah kebayang bahwa program pemberdayaan kita bisa seperti sekarang. Ada sekolah gratis berkualitas, pemberdayaan ekonomi rakyat, pembangunan sarana air bersih, sampai dengan penyediaan makanan praktis dan bergizi untuk daerah bencana. Dan ini baru awal dari semuanya. Untuk ke depannya Abu perkirakan RZI lebih bisa menyampaikan kinerja yang lebih baik.

Kenapa Abu bisa memperkirakan begitu? Apa landasannya?
Coba kita tengok Bangladesh yang beberapa tahun ke belakang merupakan negara miskin. Namun dengan adanya Non Goverment Organization (NGO) di bidang empowering charity yang diwujudkan dalam bentuk Grameen Bank dan BRAC, Bangladesh berhasil mengentaskan kemiskinan sekaligus mencapai delapan Millennium Development Goals.

Jika Bangladesh saja bisa, maka Indonesia pun pasti bisa. Apalagi negara kita kan punya potensi alam yang luar biasa. SDM negara ini pun banyak sekali yang cerdas. Indonesia juga termasuk ke dalam 10 penghasil kekayaan alam terbesar di dunia. Selain itu Indonesia sebagai negara agraris merupakan wilayah yang seharusnya tak pernah kekurangan gizi. Namun yang terjadi saat ini masih banyak yang memanfaatkan potensi negara ini hanya untuk keuntungan diri sendiri dan bukan dalam rangka memberdayakan si miskin. Sebagian beranggapan bahwa orang miskin adalah aset Indonesia karena mereka adalah SDM murah. Na\’udzubillah.

Apa kelebihan RZI sebagai lembaga sosial?
Abu kira RZI sudah memenuhi syarat sebagai empowering NGO, bukan hanya lembaga dengan konteks aktivitas di bidang charity saja. Meski berlabel lembaga sosial, namun kita telah menerapkan profesionalitas dalam melakukan pekerjaan. Asalkan kualitas SDM terus ditingkatkan, manajemen lembaga terus dibenahi, budaya kerja yang terdiri dari amanah, profesional, kemudahan, sinergi, ketepatan penyaluran dan kejelasan laporan tetap dijadikan pegangan, maka Abu yakin kita bisa lebih daripada Grameen dan BRAC. Manajemen BRAC adalah salah satu prototipe pengelolaan yang bisa mengembangkan pengelolaan NGO sekaligus bidang usaha yang berorientasi profit, dimana sektor sosial BRAC ditopang oleh pergerakan bidang-bidang usaha yang komersil. Bercermin dari pengelolaan ini, RZI berupaya untuk melihat dari dua perspektif dengan mengkombinasikan aktivitas sosial namun berbasis pemberdayaan jangka panjang yang juga berorientasi kemapanan ekonomi.

Tidak sulitkah membangun sektor sosial sekaligus usaha bagi Abu?
Alhamdulillah sejak kecil Abu dididik oleh ayah dan kakak untuk berbisnis sehingga hal itu menjadi bekal yang berharga. Sejak SMA Abu sudah mulai berbisnis. Sebelum mendirikan DSUQ pun Abu adalah pengusaha. Kini setelah lepas dari urusan manajemen Rumah Zakat, Abu kembali membangun usaha yang nantinya dapat menyuntik RZI agar senantiasa mengekspansikan program pemberdayaannya.

Untuk Abu mungkin tidak sulit, namun bagaimana dengan amil yang bekerja di RZI?
Investasi yang paling berharga dari lembaga ini adalah SDM. Oleh karena itu salah satu hal yang paling penting untuk dilakukan adalah meningkatkan kualitas mereka. Misalnya saja sudah beberapa tahun terakhir ini, Rumah Zakat mengirimkan beberapa SDM nya untuk pergi ke Batam, Singapura dan Malaysia dalam rangka studi banding. Para amil perlu belajar dari negara-negara maju untuk membangun kerangka berpikir mulai dari infrastruktur sampai budaya kerja. Sehingga nantinya akan ada hal-hal baru dan baik yang bisa diterapkan di sini, termasuk cara berinteraksi dengan para mustahik dan muzakki.

Secara umum bagaimanakah kondisi mustahik yang dibina RZI?
Hingga saat ini, untuk membimbing para mustahik bertransformasi dari fakir – miskin – rentan – mandiri diperlukan dorongan yang kuat baik dari sisi materi maupun spiritual.  Hal itu tentunya tak hanya dapat dilakukan oleh para amil RZI saja. Butuh sinergi dari para muzakki untuk menyukseskan hal tersebut. Satu hal yang ingin Abu tekankan, yaitu supaya para muzakki yang berdonasi ke RZI tak hanya sekedar menyerahkan uang, tapi juga turut menyukseskan pemberdayaan.

Maksudnya bagaimana Bu?
Jadi, Abu berharap hubungan muzakki dan mustahik itu tak seperti antara orang kaya dan peminta-minta tetapi bagaikan seorang ayah dan anaknya. Sebab seorang ayah pasti ingin melihat anak-anaknya berdaya, mandiri dan sukses. Para muzakki dapat melihat kondisi mustahik binaannya melalui laporan yang disampaikan RZI setiap bulan, baik itu melalui Rumah Lentera, Web Rumah Zakat dan NewZ bahkan ada pula rilis di mesdia-media lokal dan nasional. Dan RZI tentunya harus terus terbuka kala para donatur ingin mengetahui segala informasi mengenai kegiatan pemberdayaan.

Bu, ngomong-ngomong mengapa RZI memilih tokoh seperti Mario Teguh sebagai endorser RZI baru-baru ini?
Sebenarnya kita ingin menyatukan semua orang yang memiliki kesamaan visi misi yakni berbuat baik kepada sesama. Jika dia orang terkenal maka kita dapat memintanya bekerjasama untuk menjadi endorser. Jika dia mempunyai keahlian di bidang tertentu, kita bisa memintanya menjadi konsultan. Jika dia memiliki kelebihan harta maka kita bisa mengajaknya untuk memberdayakan masyarakat melalui ZIS dan dana-dana sosial. Dan bila dia mustahik maka kita bisa mengajaknya melalui beragam program pemberdayaan agar dapat mandiri. Dan kebetulan dengan Mario Teguh, RZI menjumpai sosok yang memiliki satu cita-cita yakni menebar kebaikan untuk orang miskin. Kesamaan ini pulalah yang menjadikan Mario Teguh sebagai figur publik, secara sukarela menjadi endorser salah satu produk RZI.# 

Tags :
Konfirmasi Donasi