HUKUM MENGGUNAKAN KOSMETIK BERALKOHOL

Oleh:

Kardita Kintabuana Lc., MA.

Dewan Syariah Rumah Zakat Indonesia

Sobat Zakat, di era moderen saat ini kosmetik merupakan sebuah kebutuhan. Tak dapat dielakan bahwa kosmetik yang kini beredar mengandung bahan-bahan yang dipertanyakan kehalalannya, yakni alkohol, hingga ekstrak babi.

Berkaitan dengan penggunakan bahan2 haram seperti babi, bangkai, dll ( QS. Al-Maidah: 3) dalam kosmetika para ulama sepakat atas keharamannya.

Adapun alkohol, ulama berbeda pendapat apakah termasuk benda najis zatnya atau tidak. Tapi yang lebih tepat menurut pendapat beberapa ulama bahwa najis yang digambarkan al-Quran surat Al-Maidah:90 (rijsun) adalah najis maknawi bukan hissiy (zat/benda).

Mereka mengatakan, bahwa Allah dalam surat Al Maidah: 90 mengaitkan kata-kata rijsun dengan firmanNya: Adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. (QS Al Maidah: 90).

Jadi khamr itu rijsun secara amaliyah (perbuatan yang keji), bukan benda atau zatnya yang najis. Dalilnya ialah firman Allah:

Sesungguhnya (Meminum) khamr berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah (QS Al Maidah: 90).

Dan kita tahu, bahwa judi, berhala serta anak panah, tidaklah najis. Maka penyatuan empat perkara ini, yaitu khamr, judi, berhala dan anak panah dalam satu lingkup sifat, berarti keempatnya memiliki sifat yang sama. Jika yang tiga (judi, berhala dan panah, Pent) najisnya secara maknawi; maka begitu juga dengan khamr, najisnya bersifat maknawi, karena juga termasuk perbuatan setan.

Mereka (yang berpendapat khamr itu najis secara maknawi)  juga mengatakan, bahwa dalam riwayat yang shahih, ketika ayat tentang haramnya khamr itu diturunkan, kaum muslimin menumpahkan khamr-khamr mereka di pasar-pasar. Seandainya khamr An najis, tentu tidak boleh menumpahkannya di pasar-pasar, karena tidak boleh mengotori pasar dengan benda najis.

Mereka juga mengatakan, ketika khamr diharamkan, Rasulullah tidak memerintahkan kaum muslimin agar mencuci bejana bekas khamr. Kalau seandainya, khamr itu najis, tentu Rasulullah telah memerintahkan agar mencuci bejana-bejananya, sebagaimana Beliau memerintahkan agar mencuci bekas wadah daging khimar piaraan, ketika daging itu diharamkan.
Mereka juga mengatakan, terdapat hadits yang shahih dalam Shahih Muslim, bahwa seseorang datang membawa satu rawiyah (nama wadah tempat minum) khamr, lalu ia berikan khamr itu kepada Nabi, Rasulullah bersabda: Tidakkah engkau tahu, bahwa khamr itu telah diharamkan? Kemudian seseorang membisiki lelaki itu. Rasulullah bertanya kepada pembisik: Apa yang engkau katakan? Orang itu menjawab: Aku katakan, juallah khamr itu!

Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu, (berarti) Allah juga mengharamkan hasil penjualannya, Lalu lelaki itu. menarik mulut wadah tersebut dan menumpahkan khamr itu. Sementara Rasulullah tidakmemerintahkan orang itu agar mencuci wadah tersebut, dan juga tidak melarangnya menumpahkan khamr di tempat itu.

Ulama yang berpendapat bahwa khamer itu tidak najis mengatakan, ini adalah bukti bahwa zat khamr itu tidak najis. Kalau seandainya najis, tentu Nabi telah memerintahkan orang itu agar mencucinya dan melarang menumpahkannya di tempat itu. Mereka juga mengatakan, hukum asal pada segala sesuatu adalah suci sampai ditemukan dalil yang jelas, yang menunjukkan bahwa itu najis. Karena tidak ditemukan dalil yang jelas atas kenajisannya, maka khamr itu suci. Namun khamr itu kotor atau keji dari segi amaliahnya. Sesuatu yang diharamkan, tidak mesti hal itu najis. Tidakkah kalian perhatikan, racun itu haram namun tidak najis. Jadi semua najis itu haram, tetapi tidak semua yang haram itu najis.

Jadi yang dilarang dalam al-Quran adalah perbuatan meminum khamar/alkohol sedangkan zatnya sendiri adalah suci. Oleh karena itu keberadaannya dalam bahan kosmetika atau parfum diperbolehkan dalam kadar yang tidak memudlorotkan/membahayakan. Wallahu alam.

Mudah-mudahan penjelasannya bermanfaat.

 

 

Tags :
Konfirmasi Donasi