HUKUM MENIKAH DENGAN PEZINATHE LAW OF MARRYING ADULTERER

Assalamu’alaikum Wr Wb
Ustadz Didit, saya laki-laki yang hendak menikah. Namun calon istri saya pernah khilaf melakukan perbuatan zina dan kini memiliki anak. Bagaimanakah hukumnya?
Hamba Allah
Semarang

Wa’alaikumsalam
Secara umum Al Qur’an menjelaskan bahwa pezina tidak menikahi kecuali dengan pezina pula atau orang musyrik, dan diharamkan bagi orang beriman menikahi atau dinikahi mereka. Hal ini digambarkan oleh Allah SWT dalam firmannya:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu’min.” (QS. 24:3)

Jadi tidak halal bagi seorang mu’min laki-laki maupun wanita menikah dengan pezina. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Ahmad, Ibnu Hazm, dan dirajihkan oleh Imam ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Sedangkan Jumhur Ulama berpendapat bahwa ayat tersebut bukan menunjukkan pengharaman menikah dengan pezina tetapi sekedar celaan terhadap perbuatan tersebut. Jumhur ulama berhujah dengan hadits:

“Sesungguhnya seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW tentang istrinya: ‘Sungguh istri saya tidak menolak tangan laki-laki yang menyentuhnya (artinya berzina). Lalu Nabi SAW berkata: ‘Ceraikan istrimu’, kemudian lelaki itu menjawab: ‘Sesungguhnya aku masih mencintainya Ya Rasul. Rasul berkata: ‘Kalau begitu pertahankan dia (tetap jadi istrimu)”.

Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits munkar dan Imam Ibnul Jauzi memasukkannya ke dalam hadits-hadits lemah. Demikian pula Abu Ubaid menyatakan bahwa hadits tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah yang masyhur (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 2/233).

Akan tetapi, para ulama sepakat apabila orang yang pernah berzina, menyesali dosa-dosanya dan bertaubat dengan taubat nashuha, serta bersumpah untuk tidak akan pernah terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya, maka orang seperti ini tidak bisa disamakan dengan pezina dan insya Allah dosanya diampuni Allah. Predikat ‘pezina’ hanya disandang oleh orang yang masih aktif melakukannya. Sedangkan orang yang pernah sekali tercebur dalam dosa itu, tidak disebut dengan predikat itu. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Furqan: 68-70)

Baginda Nabi SAW bersabda pernah bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak pernah berdosa” (Al-Mughni 6/603). Selanjutnya mereka dianggap sebagai orang baik-baik (Thayyib/thayyibah).
Jadi laki-laki yang pernah berzina lalu bertaubat boleh menikah dengan wanita baik-baik, sebaliknya wanita yang pernah berzina kemudian bertaubatpun boleh menikah dengan laki-laki baik-baik. Demikian pula laki-laki yang pernah berzina kemudian bertaubat boleh menikah dengan wanita yang pernah berzina lalu bertaubat (pendapat Jumhur Ulama) (Al-Fiqhul Islami wa Adilatuha, DR. Wahbah Az-Zuhaili: 7/149; Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 2/231-234) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur: 26:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…”.

Ulama sepakat yang dimaksud ‘yang keji’ disini adalah ‘pezina’ karena berkaitan dengan kisah Aisyah ra dengan Shafwan bin Mu’attal yang dituduh berbuat keji sampai kemudian Allah SWT sendiri membatalkan tuduhan keji tersebut dalam Al Qur’an dan menjelaskan bahwa Aisyah r.a. adalah wanita baik-baik yang diperuntukan untuk laki-laki baik-baik bahkan yang terbaik yaitu Rasulullah SAW.

Ibnu Abbas pernah ditanya oleh seorang lelaki: “Aku sungguh suka kepada seorang wanita, lalu aku melakukan sesuatu yang diharamkan Allah SWT (berzina), kemudian Allah membukakan pintu taubat untukku, dan aku ingin menikahi wanita itu.”

Orang-orang mengatakan: ‘Sesungguhnya pezina tidak menikahi kecuali pezina atau orang musyrik’. Ibnu Abbas lalu berkata: “Hal itu tidak relevan untuk orang ini, lalu berkata: ‘Nikahi wanita itu, nanti kalau hal itu berdosa maka dosanya akan aku tanggung’ (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim).

Ibnu Umar juga pernah ditanya oleh seorang lelaki yang berbuat mesum dengan seorang wanita, “Apakah aku boleh menikahinya? Beliau berkata: “Ya apabila kalian berdua bertaubat dan melakukan kebajikan”.
Wallahu a’lam bi ash-Showab
Assalamu’alaikum Wr Wb
Ustadz Didiet, I’m a man who wants to marry. However, my future wife has committed fornication and now has a child. How does the law?
Servant of Allah
Semarang
In general, the Qur’an explains that the adulterer does not marry except with adulterers anyway or idolaters, and forbidden to the believers marrying them. This is illustrated by God in his word:
“The adulterer shall not marry save adulteress or idolatress, and the adulteress none shall marry save an adulterer or an idolater. All those are forbidden unto believers.” (QS. 24:3)
So it is not lawful for a believer whether men or women to marry with adulterers. This opinion is the opinion of Imam Ahmad, Ibn Hazm, and dirajihkan by Imam Ibn Taymiyyah and Imam Ibn al-Qayyim. While jumhur Scholars found the verse not indicate prohibition marry the adulterer but a reproach against such actions. Scholarly argued with the hadith:
“Indeed, a man said to the Prophet about his wife: ‘My wife did not reject male hand touched her (ie adultery). Then the Prophet said: ‘Divorce your wife’, then the man replied: ‘Indeed, I still love her Ya Rasul. Rasul says: ‘Then keep her (still becomes your wife) “.

Imam Ahmad said that the hadith is munkar and the Ibn Jauzi puts it in a weak hadith . Similarly, Abu Ubaid stated that the hadith is contrary to the Qur’an and familiar sunnah (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 2/233).

However, the scholars agree when people who have committed adultery, repented of their sins and repented with Nashuha (sincere) repentance, and vowed to never fall in the same hole for the second time, then people like this cannot be equated with adultery and insya Allah God will forgive her sin. Predicate ‘adulterer’ only carried by people who are still actively doing so. Meanwhile, people who once fell into sin, it is not called predicates. Allah says:

“And those who cry not unto any other god along with Allah, nor take the life which Allah hath forbidden save in (course of) justice, nor commit adultery – and whoso doeth this shall pay the penalty; The doom will be doubled for him on the Day of Resurrection, and he will abide therein disdained forever, save him who repentant and believeth and doth righteous work; as for such, Allah will change their evil deeds to good deeds. Allah is ever Forgiving, Merciful” (QS. Al Furqan: 68-70)

King of the Prophet SAW said once said: “Those who repent of sin as one who has never sinned” (Al-Mughni 6/603). Furthermore, they are considered as good (Thayyib / tayyibah).
So the man who had committed adultery and repents can marry to a good woman, otherwise a woman who had committed adultery then she repents can marry to a good men. Similarly, men who had committed adultery and then repents can marry to a woman who had committed adultery and then repent (jumhur Ulama opinion) (Al-Islami wa Fiqhul Adilatuha, DR. Wahbah Az-Zuhaili: 7/149; Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 2 / 231-234) as Allah says in Surat an-Nur: 26:
“Vile women are for vile men, and vile men for vile women. Good women are for good men, and good men for good women; such are innocent of that which people say: For them is pardon and a bountiful provision”
Scholars agree that ‘vile’ in this case is ‘adulterer’ as it relates to the story of A’ishah with Safwan ibn Mu’attal accused for nasty doing until then Allah cancel the nasty accusations in the Qur’an and explained that Aisha r.a is a good woman that is intended for a good men moreover the best that is The Prophet Muhammad.

Ibn Abbas was asked by a man: “I really love a woman, and then I do something that is forbidden by Allah (adultery), then God opened the door of repentance for me, and I want to marry her.”
People say: ‘surely adulterers not marry unless adulteress or idolaters’. Ibn Abbas said: “It is not relevant to this person, then said: ‘Marry her, then if it is innocent then will I bear his sin” (Reported by Ibn Abi Hatim).

Ibn Umar also asked by a man who committed immoral acts with a woman, “Am I allowed to marry her? He said: “Yes, if you both repent and do good”.
Wallahu a’lam bi ash-Showab

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia