Rasulullah  ﷺ, seperti halnya manusia biasa, beliau pun pernah menangis. Tangis merupakan reaksi psikologis yang dialami seseorang ketika merespon hal-hal yang menyentuh keadaan jiwanya. Itupun dialami Rasulullah  ﷺ dalam beberapa momen sepanjang hidupnya.

Meski begitu, tangisan Rasulullah ﷺ tidak seperti kita. Tangis beliau ﷺ mempunyai makna yang dalam. Beliau ﷺ tidak menangis karena hal kecil atau hal remeh, tangisan beliau disebabkan sesuatu hal yang besar dan bermakna.

Lantas, hal apa saja yang membuat beliau ﷺ menangis? berikut beberapa hal yang membuat Rasulullah  ﷺ menangis:

1. Rasulullah  ﷺ menangis karena takut kepada Allah

Salah satu sebab utama yang membuat Rasulullah  ﷺ menangis adalah yang berkaitan pada turunnya rahmat dan ampunan dari dosa-dosa. Rasulullah  ﷺ banyak menangis karena takut kepada Allah.

Nabi Muhammad  ﷺ menangis dalam shalat malam. Sahabat Bilal bin Rabah pernah melihat janggut nabi ﷺ yang mulia basah oleh air mata, kemudian Bilal berkata, “Ya Rasulullah mengapa Engkau menangis ketika Allah SWT mengampunimu atas segala apa yang telah lalu dan apa yang akan datang. Beliau ﷺ menjawab, “Apakah saya harus tidak menjadi hamba yang bersyukur? Sebuah ayat turun padaku malam ini, dan celakalah bagi orang yang tak membaca dan mentafakurinya. yaitu ayat:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Diriwayatkan pula dari Dari Al-Mughirah bin Syu’bah sebagaimana dikutip dari kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail bab Keutamaan Qiyamul Lail

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَعَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ نَحْوُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi  ﷺ biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah  ﷺ? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah  ﷺ  menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari dan Muslim)

2. Rasulullah  ﷺ menangis saat mendengarkan bacaan  Alquran

Rasulullah  ﷺ juga menangis dalam sholatnya dan saat mendengar Alquran. Beliau  ﷺ sering meminta Abdullah bin Masud membacakan ayat-ayat Alquran. Ketika Ibnu Masud sampai pada surat An Nisa 41:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).seketika, Rasulullah meneteskan air mata.” (QS An Nissa: 41)

3. Rasulullah  ﷺ menagis karena kehilangan orang-orang yang dicintainya

Putri Nabi Muhammad ﷺ, Ummu Kultsum jatuh sakit. Dia merasakan kematiannya telah dekat dan ia tetap berada di tempat tidurnya. Ummu Kultsum tak pernah berhenti berzikir. Hingga pada pagi hari, Aisyah datang menemuinya. Dia mendapati Ummu Kultsum tengah berjuang di akhir hayatnya. Kabar itu pun disampaikan pada Rasulullah  ﷺ dan Utsman bin Affan.

Saat nabi ﷺ tiba, putrinya itu berada pada saat-saat terakhirnya. Air mata beliau ﷺ menetes dari matanya. Ketika itu, Ummu Kultsum wafat.

Asma binti Umais, Shafiyah binti Abdul Muthalib, Ummu Atiyah Al Anshari dan Rasulullah  ﷺ memandikan jasad Ummu Kultsum. Kemudian jasad Ummu Kultsum dibawa ke Kompleks Pemakaman Baqi dan dimakamkan di sana.

Beliau  ﷺ ridha dengan takdir Allah SWT. Beliau berduka dengan kehilangan putrinya. Namun beliau ﷺ sabar. Peristiwanya itu terjadi pada Syaban tahun kesembilan Hijriyah.

Nabi ﷺ juga menangis ketika mengunjungi makam ibunya. Sampai-sampai orang-orang di sekitarnya pun ikut menangis. Beliau  ﷺ juga menangis ketika putranya yakni Ibrahim meninggal.

4. Rasulullah  ﷺ menangis ketika sahabatnya syahid

Nabi Muhammad  ﷺ bersedih ketika para sahabatnya syahid dalam Perang Uhud termasuk pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau ﷺ menangis dan sangat sedih karena kehilangan mereka.

Begitupun ketika orang-orang Yahudi dari Bani Quraidzah melanggar perjanjian. Dalam peristiwa pengepungan Bani Quraidzah selama dua puluh lima malam, sahabat Saad bin Muadz terluka. Kondisinya pun terus memburuk hingga kemudian dia wafat.

Rasulullah  ﷺ dan para sahabat lainnya pun berduka. Ibu Saad bin Muadz pun berduka atas kepergian putranya. Beliau  ﷺ kemudian berkata bahwa Allah memuliakan Saad, Allah memberikan derajat tinggi untuknya dan tujuh puluh ribu malaikat mengahdiri pemakamannya.

5. Rasulullah  ﷺ menangis untuk umatnya

Rasulullah  ﷺ menangis untuk umatnya. Abdullah bin Amr bin Al Aas meriwayatkan nabi ﷺ membaca  apa yang Allah SWT firmankan tentang Ibrahim:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS Ibrahim 36)

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS Al Maidah 118)

Beliau ﷺ mengangkat tangannya dan berkata, “Umatku, umatku.” Lalu beliau menangis. Kemudian malaikat bertanya kepada Rasulullah  ﷺ tentang apa yang membuatnya menangis. Allah memerintahkan Jibril meyakinkan Nabi bahwa Allah akan memberikan kegembiraan dia dan umatnya.

Beliau ﷺ pun bersabda:

“Umatku menemuiku di telaga, dan aku menghalau mereka darinya sebagaimana seorang laki-laki menghalau unta seseorang dari untanya.” Mereka bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengenal kami? ‘ Beliau menjawab: ‘Ya. Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh selain kalian. Kalian menemuiku dalam keadaan putih bersinar karena bekas air wudlu. Dan sungguh sekelompok dari kalian akan dihalau dariku, sehingga kalian tidak sampai kepadaku. Lalu aku berkata: ‘Wahai Rabbku, mereka adalah para sahabatku’. Lalu seorang malaikat menjawab perkataanku seraya berkata, ‘Apakah kamu tahu sesuatu yang terjadi setelah kepergianmu’.”

Sumber: islampos.com