Agama Islam menganjurkan pemeluknya untuk memberikan pinjaman bagi yang membutuhkan pertolongan. Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan etika-etika dan akhlak mulia ketika mengutangkan.
Ustadz Muhammad Abdul Wahab Lc dalam buku Berilmu Sebelum Berhutang yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan adab memberi utang. Adab memberi utang adalah menagih utang dengan cara yang baik dan menunggu sampai orang yang memiliki utang mampu membayar utang.
Ustadz Wahab menjelaskan, kadang-kadang orang yang berutang tidak selamanya bisa membayar tepat waktu. Bisa jadi karena terkena musibah, ada kebutuhan yang sangat mendesak, dipecat dari pekerjaan atau alasan lainnya.
“Maka ketika itu terjadi, Islam mengajarkan kita sebagai pemberi utang untuk memberikan dia waktu tambahan sampai benar-benar mampu dan punya harta untuk membayar, jangan sampai kita paksa-paksa padahal tidak ada sepeserpun uang yang dia punya untuk membayar utang,” kata Ustadz Wahab dalam bukunya.
وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah ayat 280).
Imam Ahmad dalam kitabnya al-Musnad, meriwayatkan hadits yang menjelaskan ganjaran bagi orang yang memberikan tambahan waktu pelunasan terhadap orang yang belum mampu membayar utang sampai benar-benar mampu.
Dari Abu al-Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda:مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ
“Barang siapa yang menangguhkan (waktu pembayaran) bagi orang yang mengalami kesulitan atau merelakan (utangnya), Allah akan naungi dia di bawah naungan-Nya.” Mu’awiyah berkata, “Di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah.”
Adab memberi utang pada level berikutnya, kita bukan hanya dianjurkan untuk menangguhkan waktu pelunasan bagi yang sedang dalam keadaan sulit. Tetapi lebih baik dari itu jika kita bersedia untuk merelakan utang tersebut. Merelakannya begitu saja tanpa berharap untuk dikembalikan. Tentu orang yang berutang akan sangat merasa terbantu. Apalagi jika utang tersebut tidak terlalu penting bagi kita.
Di zaman Nabi Muhammad SAW pernah ada kejadian, salah seorang sahabat mengalami musibah sehingga utangnya menumpuk dan tidak sanggup lagi untuk membayar. Sampai-sampai Nabi memerintahkan para sahabat yang lain mengumpulkan donasi untuk membantu melunasi utangnya.
Sayangnya, donasi yang terkumpul belum cukup untuk melunasi semua utangnya. Akhirnya, Nabi memerintahkan kepada orang-orang yang diutanginya untuk mengambil pembayaran seadanya, sisanya Nabi perintahkan untuk direlakan saja.
Kejadian tersebut direkam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri dalam kitab Shahih Muslim. Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “seseorang terkena musibah di masa Rasulullah pada buah-buahan yang dibelinya. Sehingga utangnya menumpuk, kemudian Rasulullah bersabda, “bersedekahlah untuknya.” Orang-orang pun bersedekah untuknya, hanya saja sedekah yang terkumpul belum cukup untuk menutupi utangnya. Maka Rasulullah pun berkata kepada orang-orang yang diutanginya, “ambillah apa yang kalian dapati, tidak ada yang lain bagi kalian kecuali itu (saja).”
Namun, Muslim juga harus tahu berbagai masalah dan kemudharatan sering kali muncul akibat utang-piutang. Maka umat Islam sangat penting mengetahui ilmu dan adab-adab berutang agar tidak menimbulkan kemudharatan.
Ajaran Islam juga menganjurkan agar manusia menghindari utang. Manusia harus sebisa mungkin menahan diri untuk berutang sampai benar-benar perlu. Rasulullah SAW juga senantiasa berdoa kepada Allah SWT untuk memohon perlindungan agar tidak terlilit oleh hutang.
Sumber: republika.co.id