INILAH SOSOK RIZQI, SISWA JUARA YANG GEMAR MENOLONG

RZ LDKO CilegonBANDUNG. “Bu, sini dibawain tasnya!”. Sebuah suara terdengar bersamaan dengan datangnya sosok anak laki-laki menghampiriku pagi itu. Seperti biasa saya datang ke sekolah dengan membawa 2 buah tas. Tas ransel yang digendong berisikan laptop dan buku-buku, dan satu tas tenteng berisi bekal minum dan makan. Mungkin karena melihat saya seperti kerepotan, anak tersebut akhirnya menawarkan untuk membawakan tas. Itulah awal kekaguman saya pada sosok anak bernama Rizqi.

Nama lengkapnya Rizqi Hafidzul Furqon. Sekarang ia duduk di kelas 6 SD Juara Bandung. Dilihat sekilas sosoknya, terlihat biasa saja. Ia anak yang tidak banyak bicara. Tapi cukup baik dalam bergaul. Dari sisi akademik, ia tidak lebih menonjol dibandingkan teman-temannya. Walaupun ia bukan anak yang menonjol di bidang akademik, namun cukup diandalkan di tim futsal sekolah. Tidak terlalu banyak cerita yang saya tahu tentangnya.

Tahun ini, saya diberi amanah sebagai wali kelas 6. Mungkin ini waktunya untuk lebih mengenal Rizqi. Sikapnya pagi itu betul-betul membuat saya takjub. Sementara teman-temannya hanya menyalami saya kemudian berlalu, ia justru datang menghampiri untuk mengucapkan salam sekaligus menawarkan bantuan.

Sepertinya kejadian itu bukan yang pertama dan terakhir. Ada beberapa kejadian yang membuat saya bertambah kagum padanya. Tepatnya pada sikap empati yang ia tunjukkan. Ia bisa menunjukkannya dengan tulus, bukan dibuat-buat.

Kejadian berikutnya adalah saat kegiatan memasak di kelas kami. Saat itu kami memasak singkong rebus. Panci yang akan kami gunakan ternyata di dalamnya ada kecoa. Daripada membuat anak-anak ketakutan dan ribut karena jeritan mereka, saya memutuskan untuk mencuci sendiri pancinya. Saat berjalan keluar kelas, ternyata Rizqi baru kembali dari kamar mandi setelah mencuci singkong yang sudah dikupas. Melihatku ia langsung bertanya, “Bu, itu pancinya mau diisi air? Sini sama aku ajah!” serunya. Saya jawab,”bukan diisi air, tapi mau di cuci”. “Ya udah, sama saya aja bu nyucinya!”, tawarnya lagi. Terus terang saya ragu, karena di dalam panci tersebut ada kecoa. Akhirnya saya sampaikan bahwa di dalam panci tersebut ada kecoa. Saya pikir dia akan langsung mengurungkan niatnya untuk mencucikan panci tersebut. Ternyata tidak. Rizqi malah tersenyum dan menjawab,”Ya, nggak apa-apa bu sama saya aja”. Untuk kedua kalinya tanpa disuruh, ia menawarkan pertolongan. Subhanallah.

Ternyata sikap-sikap baik lainnya kembali ia tunjukkan. Saya cukup terheran-heran saat mengawasi anak-anak piket kebersihan sepulang sekolah. Saat itu giliran Rizqi bersama teman-temannya yang bertugas. Ia begitu fasih menyapu, melap kaca, melap meja, bahkan mengepel lantai tanpa canggung. Saya tertegun memperhatikannya. Selama ini, anak-anak lain membersihkan kelas hanya sampai menyapu, tapi ia sampai mengepel lantai. Dan itu ia lakukan dengan tanpa mengeluh dan tanpa disuruh. Bisa ditebak, hasilnya kelas selalu bersih setiap kali kelompok Rizqi giliran piket. Ia menjadi contoh bagi teman-temannya dalam menjaga kebersihan kelas.

Dari beberapa kejadian yang saya lihat dari Rizqi, saya jadi teringat suatu kejadian. Saat itu, sekolah sedang melaksanakan kegiatan AMT. Anak-anak berkegiatan outdoor yang cukup menantang. Selesai kegiatan, semua anak harus berganti baju. Semua anak sudah selesai dan mulai berjalan menuju tempat parkir. Ada satu anak kelas 2 yang belum selesai, satu persatu teman dan kakak kelasnya pergi meninggalkan tempat ganti baju. Ada beberapa guru yang masih menunggui anak tersebut dari kejauhan, dan kami pikir semua anak sudah kembali ke tempat parkir. Tapi tiba-tiba muncul seorang anak menghampiri anak kelas 2 tersebut dan menawarkan bantuannya untuk menemani dan membantu membawa barangnya. Dan, anak yang membantu tersebut adalah Rizqi. Ya, saat itu ia masih duduk di kelas 4. Tidak heran, saat itu kami memberi reward padanya sebagai “PAHLAWAN PENOLONG”.

Sungguh, saya menceritakan ini karena saya kagum padanya. Ia bukanlah anak yang menonjol secara prestasi akademik, tetapi buat saya dia istimewa. Ia punya sifat berbeda. Ia penuh empati. Ia bisa mengerjakan pekerjaan yang anak-anak sekarang jarang melakukannya. Bahkan sebagai anak laki-laki ia bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Saya pernah menanyakan, darimana ia belajar “beberes”. Ia menjawab, “saya mah udah biasa da bu. Di rumah setiap hari bantuin mamah beberes!”. Dalam hati saya hanya bisa bergumam, ”subhanallah!”. Menurut saya, rasa empati yang ditunjukkan Rizqi untuk membantu sesama memang sudah terbentuk dalam dirinya. Ini pastinya karena pembiasaan yang dilakukan orangtuanya pada Rizqi. Dengan sendirinya kebiasaan baik itu sudah melekat pada dirinya.

Ternyata benar pepatah yang mengatakan “Manners Begin at Home”. Sopan santun dimulai dari rumah. Pembiasaan baik yang selalu diberikan kepada Rizqi membuatnya menjadi anak yang berempati. Walaupun bukan anak yang menonjol, tetapi ia bisa menunjukkan suatu sikap berbeda yang menjadikannya kelebihan. Menjadi karakter yang menempel pada dirinya. Inilah perlunya pendidikan karakter berawal dari rumah. Antara sekolah dan rumah memang perlu adanya kesamaan dalam pendidikan karakter.

Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina sejak usia dini.

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Semoga kelak Rizqi menjadi seseorang yang sukses, dengan tetap mempertahankan karakter baik yang selama ini telah melekat padanya.

Newsroom/Nurliya Dwi Primawanti
Bandung

Tags :
Konfirmasi Donasi