Sahabat Zakat, pada dasarnya semua manusia mempunyai kedudukan yang sama dihadapan Allah. Yang membedakannya adalah amalan yang ia lakukan di dunia, sehingga kedudukan, pangkat, jabatan, popularitas, dan harta kekayaan bukan menjadi tolak ukur tingginya kedudukan seorang hamba di hadapan Allah.

Maka dari itu, jangan sekali-kali kita merendahkan dan menghina orang lain, terlebih terhadap sesama Muslim, karena setiap Muslim adalah saudara. Sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam,

“Orang Muslim itu saudara sesama Muslim. Dia tidak menzalimi dan tidak menghinanya, dan tidak meremehkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini, nabi sambil menunjuk ke arah dada. Cukuplah seseorang jahat apabila orang itu meremehkan saudaranya sesama Muslim, setiap Muslim bagi Muslim lainnya haram darahnya (tidak boleh disakiti apalagi dibunuh), haram kehormatannya (tidak boleh dihina, direndahkan), dan haram hartanya (tidak boleh dirampas).” HR Muslim.

Apabila saat ini kita dikaruniakan Allah dengan keberlimpahan harta, maka jangan sekali-kali kita merasa sombong dengan pencapaian tersebut. Karena sejatinya, harta adalah titipan Allah yang harus kita gunakan di jalan-Nya. Dilansir dari republika.co.id, berikut ada sebuah kisah dari Imam Hanfi dalam beramal menggunakan hartanya yang sangat menginspirasi dan patut untuk kita teladani.

Sebagai orang yang alim dan berada, Imam Hanafi sangat antusias dalam beramal. Bila ia mengeluarkan nafkah kepada diri dan keluarganya, saat itu pula sedekahnya dikeluarkan dengan jumlah yang sama kepada orang-orang lain yang membutuhkan.

Ketika sang imam memakai baju baru, maka ia langsung membelikan orang-orang miskin sejumlah baju baru dengan nilai dan harga yang sama, atau bahkan lebih, dengan pakaiannya itu. Begitu pula saat ia mendapatkan berbagai rezeki, semisal makanan, minuman, dan lain-lain.

Tiap akhir tahun, Imam Hanafi selalu melakukan tutup buku. Saat itu, dirinya akan menghitung seluruh laba perniagaannya. Dari keuntungan yang ada, ia mengambil sekadarnya saja untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Adapun jumlah yang lebih besar dialokasikannya untuk bersedekah dan hadiah. Para qari, ahli hadits, ulama fikih, serta anak-anak muda yang sedang menuntut ilmu-ilmu agama. Merekalah yang menjadi sasaran Imam Hanafi dalam bederma.

Di berbagai kesempatan, tokoh yang wafat pada 150 H ini kerap berpetuah, “Demi Allah, aku tidaklah memberi orang-orang sedikit pun dari hartaku. Sebab, itu adalah karunia dari Allah bagi kalian yang melalui tanganku.”

Masya Allah, semoga sifat dermawan dan rendah hati Imam Hanafi bisa kita tiru dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.