OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Sebulan terakhir, berita dukacita memenuhi laman media sosial, online, televisi, dan penerbitan. Pengumuman lewat pengeras suara di masjid atau mushala sering kali menyita perhatian. Suara sirine ambulans menuju ke pemakaman pun bersahut-sahutan.

Jenazah yang antre di pemulasaran berbaris kaku menunggu giliran. Para penggali kubur tampak letih menyiapkan liang lahat tempat peristirahatan. Mereka yang berpulang dari semua tingkatan baik usia, jabatan, maupun kedudukan.

Kini, rumah sakit kelebihan kapasitas, meskipun tenda-tenda daruat sudah didirikan. Pasien yang terbaring lemah juga memenuhi ruang perawatan. Para dokter dan tenaga kesehatan nyaris tak kuasa lagi melayani karena melampaui batas kemampuan. Namun, mereka tetap bertahan walau ratusan rekan sudah menjadi korban.

Data mutakhir, korban meninggal dunia telah melebihi angka 61 ribuan. Apalagi, sebanyak 584 ulama termasuk di dalamnya, membuat alam semesta sangat  berduka dan kehilangan.

Harga oksigen tiba-tiba melonjak naik dan langka di pasaran. Tanah pemakaman semakin menyempit untuk menampung jenazah yang terus berdatangan. Masih pantaskah Covid-19 disepelekan dan protokol kesehatan diabaikan?

Sebenarnya, bukan soal kematian yang tengah dirisaukan. Sebab, semua yang bernyawa pasti akan mendapat giliran (QS Ali Imran [3]: 185). Kematian pun tidak selalu datang karena sebab, seperti sakit atau kecelakaan. Namun, ia terjadi di saat ajal tiba mengakhiri kehidupan (QS al-Munafiquun [63]: 11).

Tiada pula kematian akan terjadi kecuali atas izin Allah SWT, Yang Maha Mematikan (QS Ali Imran [3]: 145). Situasi dan kondisi inilah yang membuat kita diliputi kegundahan. Bukan hanya pasien yang menanggung derita dalam kesendirian, melainkan juga keluarga yang tak bisa mendampingi di saat ruh meninggalkan badan.

Dahulu, ketika mendapat kabar kemalangan, kita bergegas menjenguk walau jarak yang berjauhan. Sebab itulah, pesan Baginda Nabi SAW yang mesti dilakukan sebagai tanda orang beriman (HR Bukhari).

Namun sejak pandemi, ketika seseorang dinyatakan positif terpapar dan masuk rumah sakit, kunjungan pun tidak dibolehkan. Bahkan, ketika embusan napas terakhir yang semestinya di-talqin-kan, “laa ilaha illa Allah” (tiada tuhan selain Allah), pun tak dapat disempurnakan.

Anak dan istri atau suami tidak boleh menyentuh atau memeluk sebagai salam perpisahan. Shalat jenazah juga dari kejauhan, sampai dimasukkan ke liang lahat hanya oleh orang yang ditugaskan.

Sekali lagi, perkara mati itu pasti dan boleh jadi kita menghadapinya juga sendirian. Oleh karena itu, penting memahami lima rahasia kematian agar bisa menyiapkan diri, yakni kapan (waktu), di mana (tempat), bagaimana (cara), bersama siapa, dan dalam keadaan apa.

Tiga hal yang pertama adalah mutlak ketentuan Allah SWT yang tak perlu diketahui atau diusahakan (QS Luqman [31]: 34). Sementara itu, dua yang terakhir bisa dan mesti diupayakan agar mati bersama orang-orang baik dan dalam kepasrahan (QS Ali Imran [3]: 102).

Allahu a’lam bish-shawab.