Berpartisipasi Aktif Dalam
Mengurangi Kejahatan Dan Kemiskinan
Agar Hatimu Menjadi Lebih Tenang
Agar Diri Menjadi Pribadi Yang Lebih Produktif


"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat
dan rukukluh beserta orang-orang yang rukuk."
(QS. Al-Baqarah : 43)

Zakat Penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang kita peroleh bila telah mencapai nishab. Menurut Fatwa MUI no 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan Yang dimaksud “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.


Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab. Menurut Yusuf Qorodhowi, sangat dianjurkan untuk menghitung zakat dari penghasilan kasar (brutto), untuk lebih menjaga kehati-hatian.


Adapun Nisab sebesar 5 wasaq / 652,8 kg gabah setara 520 kg beras. Besar zakat penghasilan yaitu 2,5 %. Ada 2 cara dalam menghitung zakat profesi:

1. Menghitung dari pendapatan kasar (bruto)

Besar Zakat yang dikeluarkan = Pendapatan total (keseluruhan) x 2,5%

2. Menghitung dari pendapatan bersih (netto)

a.Pendapatan wajib= Pendapatan total - Pengeluaran perbulan*
b. Besar Zakat yang harus dibayarkan = pendapatan wajib zakat x 2,5%

CONTOH PERHITUNGAN ZAKAT

Menghitung dari pendapatan bersih (Netto)

Pak Zaki adalah karyawan sebuah perusahaan swasta, setiap bulan mendapat gaji Rp6.000.000,-. Dari gaji tersebut, Pak Ahmad mengeluarkan keperluan pokok rumah tangga Rp3.000.000,-, membayar sekolah 2 orang anak Rp1.000.000,-, membayar cicilan rumah Rp.750.000,- dan membayar telepon dan listrik Rp500.000,-.


Nisab:

Setara dengan 653kg beras. Jika harga beras Rp10.000/kg, maka nisab dalam rupiah adalah Rp5.200.000, kadar zakat 2,5%

Haul

Setiap menerima gaji.



Total pengeluaran :
Rp3.000.000+Rp1.000.000+Rp750.000+Rp500.000= Rp5.250.000

Jadi penghasilan bersih: Rp6.000.000–Rp5.250.000= Rp750.000
maka, tidak mencapai nisab sebesar Rp3.265.000. Jadi pak Zaki tidak perlu membayar zakat penghasilan.

Menghitung dari pendapatan Kotor (Bruto)
Pak Zaki adalah karyawan sebuah perusahaan swasta, setiap bulan mendapat gaji Rp6.000.000

Nisab:

Setara dengan 653kg beras. Jika harga beras Rp10.000/kg, maka nisab dalam rupiah adalah Rp5.200.000, kadar zakat 2,5%

Haul

Setiap menerima gaji.


Karena untuk menjaga kehatiahatian Pak Zaki menghitung Zakat dari penghasilan kotor tanpa dipotong pengeluaran. Dan penghasilan bruto pak Zaki sudah mencapai nishab, jadi Total penghasilan langsung dikalikan 2,5% Rp6.000.000 x 2.5% = Rp150.000

Jadi zakat yang harus dibayar pak Zaki adalah Rp150.000




Untuk lebih mudah menghitung zakat, silahkan gunakan fitur kalkulator rumah zakat berikut ini

Yuk Kita Bahas Cara Menghitung Zakat

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat
dan rukukluh beserta orang-orang yang rukuk."
(QS. Al-Baqarah : 43)

Zakat Penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang kita peroleh bila telah mencapai nishab. Menurut Fatwa MUI no 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan Yang dimaksud “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.


Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab. Menurut Yusuf Qorodhowi, sangat dianjurkan untuk menghitung zakat dari penghasilan kasar (brutto), untuk lebih menjaga kehati-hatian.


Adapun Nisab sebesar 5 wasaq / 652,8 kg gabah setara 520 kg beras. Besar zakat penghasilan yaitu 2,5 %. Ada 2 cara dalam menghitung zakat profesi:

1. Menghitung dari pendapatan kasar (bruto)

Besar Zakat yang dikeluarkan = Pendapatan total (keseluruhan) x 2,5%

2. Menghitung dari pendapatan bersih (netto)

a.Pendapatan wajib= Pendapatan total - Pengeluaran perbulan*
b. Besar Zakat yang harus dibayarkan = pendapatan wajib zakat x 2,5%

CONTOH PERHITUNGAN ZAKAT

Menghitung dari pendapatan bersih (Netto)

Pak Zaki adalah karyawan sebuah perusahaan swasta, setiap bulan mendapat gaji Rp6.000.000,-. Dari gaji tersebut, Pak Ahmad mengeluarkan keperluan pokok rumah tangga Rp3.000.000,-, membayar sekolah 2 orang anak Rp1.000.000,-, membayar cicilan rumah Rp.750.000,- dan membayar telepon dan listrik Rp500.000,-.

Nisab:

Setara dengan 653kg beras. Jika harga beras Rp10.000/kg, maka nisab dalam rupiah adalah Rp5.200.000, kadar zakat 2,5%

Haul

Setiap menerima gaji.


Total pengeluaran :
Rp3.000.000+Rp1.000.000+Rp750.000+
Rp500.000= Rp5.250.000

Jadi penghasilan bersih: Rp6.000.000–Rp5.250.000= Rp750.000
maka, tidak mencapai nisab sebesar Rp3.265.000. Jadi pak Zaki tidak perlu membayar zakat penghasilan.

Menghitung dari pendapatan Kotor (Bruto)
Pak Zaki adalah karyawan sebuah perusahaan swasta, setiap bulan mendapat gaji Rp6.000.000




Nisab:

Setara dengan 653kg beras. Jika harga beras Rp10.000/kg, maka nisab dalam rupiah adalah Rp5.200.000, kadar zakat 2,5%

Haul

Setiap menerima gaji.

Karena untuk menjaga kehatiahatian Pak Zaki menghitung Zakat dari penghasilan kotor tanpa dipotong pengeluaran. Dan penghasilan bruto pak Zaki sudah mencapai nishab, jadi Total penghasilan langsung dikalikan 2,5% Rp6.000.000 x 2.5% = Rp150.000

Jadi zakat yang harus dibayar pak Zaki adalah Rp150.000



Untuk lebih mudah menghitung zakat, silahkan gunakan fitur kalkulator rumah zakat berikut ini

Konfirmasi Donasi