KEDERMAWANAN HADIRKAN KEBERDAYAAN MASYARAKAT

Oleh: Drs. H. Ano Sutrisno, MM

Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah III Cirebon (Ciayumajakuning)

Konon masyarakat Indonesia mempunyai rasa empati atau kepedulian terhadap sesama lebih besar dibandingkan orang-orang di negara lain. Namun coba kita tengok betapa mudahnya melihat orang meminta-minta di hampir setiap sudut kota. Para pengemis itu berasal dari beragam usia mulai dari Balita sampai orang tua. Mereka semua mengharapkan belas kasihan setiap pengguna jalan yang melintas. Hal tersebut memicu sebuah pertanyaan, jangan-jangan rasa kepedulian warga negara ini tengah memudar?

Ironis memang kala menyadari bahwa potensi Indonesia dari Sabang sampai Merauke begitu luar biasa. Kita dapat melihat hamparan sawah hijau yang terbentang luas, serta limpaham sumberpangan dari gunung dan laut. Namun sayangnya potensi negara ini belum berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya

Jika menilik sebuah konsep Zakat, Infaq dan Shodaqoh (ZIS) yang ada dalam ajaran Islam, maka hal itu menggambarkan bahwa kita memiliki kewajiban untuk membantu sesama manusia. Di zaman pemerintahan Rasulullah sampai Khulafaur Rasyidin anjuran untuk saling memberikan shodaqoh kepada yang membutuhkan merupakan sebuah karakter yang wajib dimiliki. Sehingga pada zaman salah satu kholifah, sangat sulit sekali mencari para mustahik yang berhak menerima ZIS. Semua orang menolak lantaran mereka merasa wajib mengeluarkan sebagian hartanya, bukan malah mendapatkan bantuan. Akhirnya dana yang bersumber dari Baitul Mal dikirimkan keluar negeri untuk disampaikan kepada orang yang berhak menerima.

Sejarah mencatat pemerintahan Rasulullah SAW mampu mengorganisir pengelolaan ZIS dengan baik sehingga menghasilkan karakter masyarakat dengan kesadaran bersedekah. Pada akhirnya, hadirlah kemandirian bahkan kesejahteraan masyarakat di bidang ekonomi.

Saat ini, hadirnya beragam Organisasi Pengelola Zakat membawa angin segar akan  konsep yang sudah diajarkan oleh agama Islam tentang ZIS tersebut. Meskipun masih ada beberapa orang beranggapan ZIS hanya dilakukan ketika berada di dalam Masjid saja Setelah keluar dari sana maka perintah tersebut kerap terlupakan.

Kegiatan filantropi sudah diterapkan sejak kepemimpinan Rasulullah SAW untuk memberantas kemiskinan sekaligus sebagai bentuk ketakwaan sebagai hamba Allah SWT. Dengan akuntabilitas yang tinggi, transparansi,  serta dijalankan dengan sifat keprofesionalan dapat kedermawanan melalui nilai-nilai Islam dapat menciptakan masyarakat sejahtera.

Tak hanya ZIS yang dapat dioptimalkan untuk keberdayaan. Dana sosial perusahaan yang berupa Corporate Social Responsibility (CSR) dapat sangat membantu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dana CSR yang begitu besar harus dapat diserap dengan optimal dan terorganisir. Jangan sampai terjadi penumpukan dana CSR di dalam satu komunitas masyarakat yang menyebabkan tidak meratanya pembangunan masyarakat mandiri.

Untuk itulah dalam pengelolaan dana CSR, sudah seharusnya perusahaan-perusahaan bersinergi dengan pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) profesional seperti Rumah Zakat Indonesia (RZI). Tujuannya supaya dana sosial itu dapat semaksimal mungkin melahirkan pemberdayaan secara merata.

Saya menaruh harapan besar kepada Rumah Zakat untuk mengawal kegiatan CSR yang dilakukan baik oleh BUMN atau swasta sehingga dapat bersinergi bersama pemerintah setempat dalam rangka menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan ekonomi sosial berbasis kemasyarakatan. RZI dapat melakukan pendampingan masyarakat lemah untuk segera bermetamorfosa menjadi individu yang berdaya. Mudah-mudahan kesejahteraan masyarakat seperti di masa Rasulullah bukan hanya impian belaka. Amin.#

 

Tags :
Konfirmasi Donasi