KELUARGA, PONDASI KEPRIBADIAN ANAK

Keluarga menjadi landasan awal terbentuknya kepribadian anak yang cerdas, tangguh dan kuat. Oleh sebab itu, rumah bukan sekedar bangunan untuk tempat istirahat seisi rumah. Lebih dari itu rumah merupakan wadah untuk saling belajar satu sama lain.

Orang tua belajar untuk berkengkrama dengan anak, anak pun belajar dari apa yang dilihat di dengar dan dilakukan oleh orangtuanya. Ada dua hal penting yang mesti diterapkan kepada anak, yaitu: adab dan Ilmu.

Mengapa adab menjadi prioritas ketimbang ilmu pengetahuan? Mari perhatikan analogi sederhana berikut ini, anak yang dikenalkan bagaimana cara menanam sebuah tanaman kemudian setiap harinya ia menyirami tumbuhan tersebut hingga tumbuh besar bahkan sampai berbunga atau berbuah.

Bagaimana mungkin ia akan merusak tumbuhan yang ia jumpai di pinggir jalan? Tentu ia akan menjaganya dengan baik. Contoh berikutnya anak yang diajarkan tentang menyayangi kucing atau binantang lainnya, mungkin kita mengajarkannya memberi makan, mengelusnya dan seterusnya..

Bagaimana mungkin ia akan menyakiti orang lain sedangkan kepada binatang kita mengajarkan kasih sayang. Sembari kita titipkan pesan bahwa tumbuhan dan binatang juga merupakan makhluk yang penciptanya sama dengan yang menciptakan kita.

Disamping itu perlihatkan tindakan kita yang baik sesama anggota keluarga ataupun tetangga lainnya,bagaimana cara tegur menyapa, mengucapkan terima kasih jika mendapat hadiah atau pemberian dan cara meminta maaf jika berbuat salah.

Maka semua ini akan terekam dengan baik di otak anak dan akan ia praktekkan hingga ia tumbuh besar nantinya. Hingga ia paham dengan arti sebenarnya apa yang dilakukan oleh orang tuanya dahulu kepadanya.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat sebagai orangtua adalah anak memiliki fitrahnya masing-masing. Fitrah yang dimaksud adalah fitrah bakat, kecenderungan anak berbeda-beda satu sama lainnya, misalnya anak yang senang bercerita, maka dekatkan ia dengan profesi yang mengandalkan cara komunikasi yang baik, seperti motivator,presenter,guru dan sebagainya.

Fokuslah kepada kelebihannya, maka tumbuh kembang anak akan lebih terarah. Dan kesuksesan di masa depan akan mudah diraih.

Harry Santosa, penulis buku Fitrah Based Education (idntimes.com) memaparkan setidaknya ada 8 fitrah anak yang harus kita ketahui, antara lain:

1. Fitrah keimanan, yaitu fase ini berada hingga sebelum usia 7 tahun. Kenali anak dengan alam terbuka, agar ia mengenal makhluk lainnya yang juga diciptakan oleh Sang Pencipta.

2. Fitrah bakat, berupa sifat bawaan (keunikan) sejak ia diciptakan. Seseorang lebih mudah meraih kesuksesannya jika fitrah bakat ini bisa tumbuh sempurna.

3. Fitrah belajar dan bernalar. Setiap anak yang lahir adalah pembelajar tangguh, lihatlah bagaimana ia belajar mulai dari menggerakkan kaki tangannya, mulai merangkak, kemudian jatuh, dicoba lagi hingga akhirnya ia bisa berdiri dan berjalan dengan tertatih-tatih. Bagaimana ia belajar menyeimbangkan dirinya agar bisa berjalan tanpa terjatuh lagi, dan berusaha berdiri kembali dan seterusnya

4. Fitrah perkembangan, segala sesuatu ada proses yang dijalankan, maka rancanglah minat dan bakat anak sesuai potensinya masing-masing tanpa perlu cepat-cepat, yang penting tepat

5. Fitrah seksualitas dan cinta, yaitu mengenalkan anak sesuai identitas seksulitasnya, sebagai laki-laki seperti apa cara bermainnya,sebagai perempuan apa saja permainan yang is miliki,kemudian dikenalkan juga kepadanya mana batas aurat masing-masingnya, agar ia mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

6. Fitrah individualitas dan sosialitas. Sosialitas anak akan tumbuh setelah usia 7 tahun, yang mana bila individualitasnya tumbuh baik sebelum usia 7 tahun. Ada perubahan antara sifat egosentris dan sociosentris, dimana ia mulai mehyadari ada hal orang lian yang harus dihargai diluar dirinya sendiri.

7. Fitrah estetika dan bahasa, seperti menyukai kepada kesuatu yang terlihat indah dan hal yang berbau seni.

8. Fitrah fisik dan indera. Ada anak yang bergerak aktif, namun ada juga yang memiliki sifat suka mengamati alias tidak banyak bergerak, ini adalah bentuk dari cara ia berkomunikasi dengan lingkungannya.

Nah, dalam momentum Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni kemarin, yang juga masih berada dalam masa pandemi ini, harapannya menjadikan keluarga sebagai tempat melahirkan generasi emas bisa terwujud.

Mari persiapkan generasi kita tangguh menghadapi masa depannya dengan berbagai hiruk pikuk dunia.

Penulis: Nurmansyah, S.Hum
Center of Excellent Manager Rumah Zakat Action

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia