KEMANA DISALURKANNYA BUNGA BANK?

Assalamualaikum,
Saat ini saya masih mempunyai tabungan di bank konvensional. Karena satu dan lain hal saya masih belum bisa berpindah ke bank syariah. Masalahnya saya takut tercampur dengan bunga yang ada. Kira-kira saya kemanakan bunga yang tercampur ke dalam tabungan saya itu, ustaz? Nuhun.

Rindu, Jakarta

Jawaban:

Sobat Zakat yang dirahmati Allah swt, Para ulama kontemporer sepakat bahwa bunga bank adalah harta riba yang diharamkan dalam Islam (Fatawa Muashirah DR. Yusuf Al-Qardhawi: jilid 2, hal 410). Harta riba yang diperoleh dari bunga bank sama kedudukannya dengan harta yang diperoleh dengan cara haram lainnya, tidak boleh untuk dimanfaatkan baik bagi dirinya maupun keluarganya, seperti: untuk keperluan pangan, sandang, papan, atau untuk membayar rekening listrik, telepon, air, maupun membayar pajak, dll.

Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu yang haram pada hakekatnya bukanlah harta miliknya dan tidak boleh dimiliki, bahkan wajib menyalurkan dan menyedekahkannya untuk proyek-proyek kebajikan (Fatawa Syeikh Abdullah bin Baz; Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan, Jld.IV, Hal. 137-138, No. 141; Fatawa Muashirah DR. Yusuf Al-Qardhawi, jilid 2, hal 410-411). DR. Yusuf Al-Qardhawi menyebutkan jenis-jenis proyek kebajikan sangat banyak antara lain seperti santunan fakir miskin, yatim piatu, ibnu sabil, dan keperluan jihad fisabilillah, penyebaran dakwah, pembangunan masjid, pembangunan pusat-pusat dakwah Islam, percetakan buku dan majalah Islami, pembangunan dan perbaikan fasilitas-fasilitas umum, dll (Fatawa Muashirah DR. Yusuf Al-Qardhawi, jilid 2, hal 410-411). Namun perlu digaris bawahi bahwa penyaluran tersebut bukan dalam rangka sedekah yang mengharapkan pahala, melainkan merupakan jalan keluar dalam pemanfaatan harta tersebut untuk kemaslahatan umum, karena Allah swt hanya menerima harta yang diperoleh dengan cara yang baik dan halal dan tidak menerima harta sedekah dari hasil praktek-praktek yang haram sesuai dengan hadits Nabi: “Sesungguhnya Allah itu bagus (baik); tidak menerima kecuali dari yang baik pula” (Sahih Muslim, Zakat (1015); Sunan Tirmidzi, tafsir Al-Qur’an (2989); Musnad Ahmad (2/328); Sunan Ad-Darimi, Ar-Riqaq (2717) dan hadits: “Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci (berwudlu), dan tidak menerima shadaqah/zakat dari harta curian/korupsi (Ghulul)”. (Sahih Muslim, bab Wujub ath-thaharah li ash-shalat (557); Sunan Nasa’I, Thaharah (139); Sunan Abu Dawud, Thaharah (59); Sunan ibnu Majah, Thaharah (271); Musnad Ahmad (5/74); Sunan Ad-Darimi, Thaharah (686).

Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa uang itu tidak boleh diambil meskipun untuk disalurkan dan disedekahkan kepada proyek-proyek kebajikan, ia harus membiarkannya atau membuangnya ke laut. Dengan alasan, seseorang tidak boleh bersedekah dengan sesuatu yang jelek. Tetapi pendapat ini bertentangan dengan kaidah syar’iyyah yang melarang menyia-nyiakan harta dan tidak memanfaatkannya.

Dalam hal ini Imam Al-Ghazali pernah menukil perkataan seseorang: “Apa dalil yang membolehkan bersedekah dengan sesuatu yang diperoleh dengan cara yang haram? Dan bagaimana hukum bersedekah dengan sesuatu yang bukan miliknya? Padahal sebagian ulama tidak memperbolehkan hal itu, selain itu diriwayatkan pula dari Al-Fudhail sesungguhnya beliau pernah menerima uang dua dirham dan ketika diketahui uang itu diperoleh dengan cara yang tidak benar maka beliau membuangnya ke bebatuan lalu berkata: “Aku tidak akan bersedekah kecuali dengan harta yang baik, dan aku tidak ridlo memberikan kepada orang lain sesuatu yang aku sendiri tidak ridlo untuk diriku sendiri”. Maka beliau mengatakan bahwa pendapat itu memang ada benarnya namun kami lebih memilih pendapat sebaliknya yaitu boleh menyalurkan dan menyedekahkannya berdasarkan hadits Nabi, atsar Sahabat dan qiyas.

Adapun hadits Nabi yang menjelaskan hal itu yakni: tatkala turun firman Allah swt: “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang” (QS. Ar-Rum: 1-3) maka orang-orang musyrik Mekah mendustakan Rasul, lalu mereka berkata kepada para Sahabat: ‘Tidakkah kalian memperhatikan apa yang dikatakan teman kalian (Muhammad), dia menyangka bahwa bangsa Romawi akan menang. Kemudian Abu Bakar menantang mereka bertaruh dengan izin dari Rasul. Maka ketika Allah membuktikan kebenaran Rasul dengan memenangkan bangsa Romawi atas Persia, Abu Bakar datang kepada Rasul sambil membawa hasil kemenangan taruhan beliau dengan orang-orang musyrik, lalu Rasulullah saw berkata: “Ini barang haram (suht) sedekahkanlah!”. Kaum mukminin bersuka cita dengan kemenangan tsb dan pengharaman taruhan (qimar) turun setelah perizinan Rasul kepada Abu Bakar dalam bertaruh dengan orang-orang musyrik (HR. Al-Baihaqi, Tirmidzi, dan Hakim).

Sedangkan qiyas mengenai hal itu adalah sesungguhnya harta tersebut berada diantara dua titik ekstrim yaitu menyia-nyiakannya atau menyalurkan dan menyedekahkannya kepada proyek-proyek kebajikan karena sukarnya menetapkan kepemilikannya. Dalam kondisi darurat seperti itu maka menyalurkannya untuk proyek-proyek kebajikan lebih utama dari membuangnya ke tengah laut. Jika kita membuangnya ke tengah laut maka akan hilang kemanfaatannya baik bagi dirinya maupun bagi pemilik sebenarnya, namun apabila kita berikan ke tangan orang fakir maka ia akan mendoakan pemiliknya sehingga pemiliknya memperoleh berkah doa orang fakir tadi dan si fakirpun dapat menutupi kebutuhannya. Memperoleh pahala sedekah tanpa keinginan sang pemilik harta merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri berdasarkan hadits sahih yang menjelaskan bahwa petani dan penanam akan memperoleh pahala dari setiap tanaman dan tumbuhan yang ditanamnya kemudian tanaman itu dimakan oleh manusia maupun burung-burung (HR. Bukhari).

Selain itu perlu diperhatikan sobat zakat, bahwa membiarkan bunga bank menjadi milik bank sehingga dimanfaatkan untuk kepentingan bank tidak diperbolehkan sesuai dengan hasil rumusan lembaga-lembaga kajian ke-Islaman dan hasil muktamar Bank Islam ke-2 di Kuwait karena hal ini akan memperkuat posisi bank dalam bermuamalah secara ribawi, dan hal ini masuk dalam katagori membantu dalam kemaksiatan/dalam hal yang haram. Membantu dalam kemaksiatan/hal yang haram hukumnya haram. (Fatawa Muashirah, DR. Yusuf Al-Qardhawi, jilid 2, hal 410). Tetapi hendaklah ia mengambilnya dan menggunakannya pada proyek-proyek kebajikan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Wallahu a’lam bi ash-showab.

Tags :
Konfirmasi Donasi