KENYAMANAN PASIEN JADI PRIORITAS KLINIK PRATAMA RBG BANDUNG

RZ LDKO CilegonBANDUNG. Ada ungkapan yang berbunyi “orang miskin atau kurang mampu di Indonesia dilarang sakit”. Sebab untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit memerlukan biaya yang cukup besar. Hal tersebut mendasari RZ bersinergi dengan para donatur untuk membangun fasilitas kesehatan yang gratis bagi masyarakat kurang mampu.

Klinik Pratama RBG cabang Bandung telah berdiri sejak 2006, dan merupakan infrastruktur berbentuk bangunan pertama yang didirikan RZ bersama para donatur untuk melayani masyarakat kurang mampu. Seiring berjalannya waktu kini Klinik Pratama RBG telah berdiri di 7 kota besar, diantaranya Bandung, Jakarta, Medan, Surabaya, Pekanbaru, Semarang dan Yogyakarta. Selain layanan bersalin gratis, RBG juga menyediakan layanan klinik umum, serta layanan pengantaran dengan ambulance. Ada dua jenis layanan di RBG. Pertama adalah layanan utama, yaitu pemeriksaan kesehatan umum, layanan kesehatan ibu dan anak (pemeriksaan kehamilan, KB, Imunisasi), persalinan, khitan, dan ambulance. Kemudian ada layanan tambahan yang terdiri dari kelas ibu hamil, baby spa, konseling/Kelas Laktasi.

Di RBG Bandung ada 14 tenaga medis, terdiri dari 1 dokter spesialis, 3 dokter umum, 4 bidan, 4 perawat, 1 apoteker dan 1 asisten apoteker. Hingga Mei tahun 2015 ini, RBG cabang Bandung sudah melayani 46.143 penerima manfaat, diantaranya 2203 berslipemeriksaan kesehatan umum, 26.384 siaga sehat, 738 pengantaran ambulance gratis, 20 khitanan massal, 17 bantuan kesehatan, 5.064 siaga posyandu, dan 7.169 UKS.

Program Klinik RBG

Setiap bulannya RBG menerima hingga 25 pasien untuk layanan pemeriksaan ibu hamil, KB (Keluarga Berencana) dan imunisasi. Tetapi untuk setiap Rabu minggu ke-2 dan ke-4, hanya dikhususkan untuk program imunisasi dari pukul 09.00-12.00 WIB, setelah itu dilanjutkan dengan layanan kesehatan umum seperti biasa sampai jam 15.00 WIB. Sedangkan untuk layanan USG (Ultrasonografi) diadakan khusus hari Jum’at bersama dokter spesialis kandungan. Tetapi, kalaupun pada hari Jum’at tersebut tidak ada dokter spesialis, para bidan RBG ini tetap bisa menerima pasien layanan pemeriksaan USG.

Selain itu, setiap satu bulan sekali, RBG juga mengadakan kelas pembinaan untuk para member binaan. Ada sekitar 11 mentor untuk per kelasnya. Setiap kelas terdiri dari 10-11 orang. Jadi ada sekitar 100 member yang wajib mengikuti kegiatan pembinaan ini. Pembinaannya berisi tentang berbagi wawasan kesehatan dan penyuluhan bagi istri hamil yang didampingi oleh suaminya.

Sekitar 50 pasien datang ke RGB untuk pemeriksaan kesehatan umum dari hari Senin-Jum’at. Ada 3 dokter umum yang melayani pemeriksaaan kesehatan umum, yaitu dr Zizi Muzalia, dr Hilmy Sulaiman R dan dr Nurlaela Oktavia. Di antara pasien, mulai dari anak-anak, dewasa dan orangtua datang dengan beragam keluhan seperti batuk, flu dan demam. Untuk satu kali pemeriksaan hanya dikenakan Rp5000,- dan untuk resep obatnya paling besar mereka hanya membayar Rp20.000,- saja.

Para pasien merasa nyaman dan betah berobat ke RGB, karena pelayanannya yang baik dan ramah. Dari segi harga pun sangat terjangkau. “Saya berobat ke RGB dari tahun 2010. Sekarang lagi mengantarkan anak yang lagi sakit panas. Bahkan sejak bayi, anak saya dibawa ke sini. Di sini pelayanannya bagus, baik-baik, dan ramah. Pasiennya benar-benar dibimbing dan diperhatikan,” ungkap Neneng Maesaroh (40Th).

Siaga 24 Jam Tanpa Lelah

Profesi sebagai bidan memang menguras banyak waktu dan tenaga. Mereka mendedikasikan hampir sebagian hidupnya untuk membantu para wanita dan ibu hamil yang datang berkunjung. Pekerjaan yang tak mengenal waktu dan tidak bisa diprediksi ini bisa disiasati oleh para bidan dan perawat di RBG. Mereka membuat jadwal piket secara bergantian dari Senin-Minggu dengan 3 shift. Shift pertama dari pukul 08.00-14.00 WIB, shift kedua dari pukul 14.00-20.00 WIB, dan shift ke-3 dari pukul 20.00-08.00 WIB, masing-masing 2 hari per-shiftnya. Jadi untuk satu shift itu ada 1 bidan dan 1 perawat. Setelah jaga malam, para bidan ini pun baru bisa lepas jaga untuk libur dan beristirahat.

Fariah Rusdianawati bekerja di RGB sejak 2010. Selama bekerja di sini, perempuan berumur 32 tahun ini memiliki cukup banyak pengalaman unik dan berkesan. Selama jaga malam, Fariah seringkali menerima pasien yang akan melahirkan dan datang pada jam-jam dimana kebanyakan orang pada saat itu sedang tidur dan beristirahat. Ada pasien yang datang jam 12 malam atau bahkan jam 3 subuh.

“Karena RGB ini memang diperuntukkan bagi orang yang kurang mampu, waktu itu kami pernah menerima pasien yang hanya bertempat tinggal di becak dan menerima pasien yang kurang sehat secara mental dibawa dari stasiun. Terkadang ada perasaan terbersit merasa tidak enak karena kondisi pasien yang tidak layak, tetapi bagaimanapun juga mereka sama seperti kita, membutuhkan pertolongan,” ujar Bidan RBG, Fariah Rusdianawati sambil tersenyum.

Melayani Hingga Pelosok

Pada saat biaya pengobatan rumah sakit telah cukup memberatkan masyarakat tidak mampu, biaya pengantaran pasien atau jenazah menjadi kesulitan tambahan saat keluarga atau orang tercinta memerlukan jasa pengantaran ambulance. Melihat kondisi tersebut RZ menyediakan fasilitas ambulance yang memberikan layanan pengantaran pasien atau jenazah secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Ambulance tersebut ditempatkan di setiap RBG, tak terkecuali di Bandung.

Sejak 2006 layanan ambulance gratis ini tidak hanya melayani pengantaran pasien atau jenazah di wilayah Bandung saja, tapi juga turut membantu korban bencana di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. “Saat bencana biasanya ambulance digunakan untuk evakuasi korban, sedangkan untuk pengantaran terjauh bisa sampai pelosok,” ungkap Aep, salah satu driver ambulance.

Sama halnya dengan layanan bidan, ambulance di RBG Bandung pun siap siaga 24 jam. “Seluruh armada Ambulance Gratis RZ ini menggunakan mobil dan SDM terbaik, yang siap selama 24 jam bagi warga masyarakat yang membutuhkan layanan,” kata Wina Nur Sofiah, Health Care Manager.***

Sumber : RZ Magz Edisi Juli 2015

Tags :
Konfirmasi Donasi